Mohon tunggu...
susilo ahmadi
susilo ahmadi Mohon Tunggu... sekedar menyalur hobi menulis

cuma orang biasa aja

Selanjutnya

Tutup

Kisahuntukramadan

Akhirnya Aku Pulang

2 Juni 2019   05:36 Diperbarui: 2 Juni 2019   08:02 0 3 0 Mohon Tunggu...
Akhirnya Aku Pulang
Sumber gambar: Shutterstock.

Sore itu kala mentari memancarkan sinarnya yang keemasan di ufuk barat, Rudi hanya bisa duduk sendirian di beranda kamar kosnya di lantai tiga. Cahayanya menerpa wajah Rudi yang semakin menguatkan aura kegalauan yang tengah membuncah di dalam dada. Suasana tempat kosnya memang tidak seperti beberapa hari yang lalu. Biasanya pada jam-jam segini sudah ramai oleh anak-anak kos yang sedang asyik mempersiapkan takjil. Akan tetapi kini keadaannya berubah 180 derajat sepi mencekam bak kuburan tua. Wajarlah karena semua penghuni kos sudah mudik ke kampung halaman masing-masing. Hanya tersisa tiga orang yang masih bertahan yaitu mas Darma yang memang selalu pulang larut malam, Adi dari Aceh yang lebih banyak menghabiskan waktunya dengan tidur saat bulan puasa, dan Rudi sendiri. Rudi malas membangunkan Adi walau sekedar menjadikannya teman mengobrol karena Rudi tahu Adi paling tidak suka dibangunkan jika sedang molor.

Pandangan Rudi menyapu rumah-rumah warga kampung yang berada di bawahnya. Suasana kampung juga sudah senyap. Seperti anak-anak kos, mereka pasti sudah mudik juga. Biasanya sore-sore begini anak-anak kecil tak putus-putusnya berlarian di gang nan sempit di depan pintu tempat kosnya di lantai satu. Bahkan warung makan di depan kos sudah tiga hari ini tutup. Terpaksa Rudi untuk berbuka dan makan sahur harus mencari makanan ke warung yang jauh yang masih buka. Lebaran memang tinggal dua hari lagi dan Rudi tak tahu kapan bisa pulang kampung seperti teman-temannya. Ada rasa iri dengan mereka yang bisa mudik duluan. "Semua ini gara-gara skripsi itu", gumam Rudi dalam hati. Sejak awal Rudi kurang beruntung karena mendapatkan topik yang lumayan berat dan masih ditambah dengan dosen pembimbing yang killer. Ketika teman-teman yang sama-sama sedang mengerjakan skripsi sudah bisa menyerahkan hasil akhir untuk ikut ujian, Rudi masih sibuk bolak balik melakukan revisi yang seolah tak ada habisnya. Terbayang kampung halaman yang sudah setahun tak dikunjunginya. Gambaran orang tua, adik-adiknya, dan sejumlah kerabat melintas hampir setiap menit di dalam kepalanya belakangan ini. Hawa kampung yang sejuk dan kabut yang sering datang bergulung-gulung saat kemarau tiba semakin menambah rasa rindu itu. Sembari menghela napas panjang, Rudi khawatir jika tahun ini dia tidak bisa mudik.

Berdiri di depan ruangan dosen pembimbing perlahan Rudi mengetuk pintu. "Masuk!", terdengar suara lantang dari dalam. Dipegangnya handel pintu yang terasa berat dan dingin lalu diputarnya hingga pintu terbuka sementara tangan kirinya menggenggam puluhan lembar draft revisi yang masih hangat karena baru saja difotocopi. "Silahkan duduk!". Rudi pun langsung duduk di depan dosen pembimbing. Entah mengapa kursi yang didudukinya kini terasa lebih sejuk dibandingkan kemarin-kemarin padahal tidak ada AC di ruangan itu. Rudi pun langsung menyerahkan semua draft itu kepada sang dosen. Pelan-pelan beliau membacanya satu per satu lembaran draft tanpa ekspresi. Hampir 15 menit berlalu tanpa suara apapun darinya. Lima belas menit yang terasa seperti setahun lamanya bagi Rudi. Rudi pun pasrah jika bapak setengah baya di depannya masih akan menyuruhnya untuk melakukan revisi untuk kesekian kali. Mungkin berlebaran di kota besar akan menjadi takdir buat dirinya di tahun ini.

"Rudi!", seperti disambar geledek suara dosennya itu mendadak membuyarkan semua lamunannya. "Iya..iya.., pak?" Rudi menjawab dengan agak tergagap. "Setelah membaca ini semua dan setelah lama saya pikirkan, saya putuskan kamu serahkan draft ini besok kepada pak Ali untuk dimasukkan sebagai peserta ujian skripsi semester ini". Wajah Rudi melongo seolah tak percaya atas apa yang baru saja didengarnya. "Benar, pak?". "Apakah saya terlihat sedang berbohong?", sang dosen balik bertanya sembari menatap lurus Rudi. "Eh, maaf, tidak pak. Terima kasih banyak, pak!" Dengan cepat diraihnya draft itu dari tangan sang dosen lalu cepat-cepat keluar. Rudi takut kalau-kalau pak dosen berubah pikiran. Di luar Rudi mendadak merasakan udara jadi terasa lebih segar. Langkah kakinya juga seolah sedang menjejak awan. Dia tahu bahwa mimpi terbesarnya akan terwujud yaitu: pulang kampung.   

KONTEN MENARIK LAINNYA
x