Mohon tunggu...
PM Susbandono
PM Susbandono Mohon Tunggu...

Berpikir kritis, berkata jujur, bertindak praktis

Selanjutnya

Tutup

Bisnis

Mati Langkah

17 Desember 2012   02:10 Diperbarui: 24 Juni 2015   19:31 547 0 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Mati Langkah
13557100801678840444

Istilah yang biasa dipakai di dunia oleh raga.Seorang pemain bulutangkis, atau voli, atau sepakbola, atau permainan apa saja, tiba-tiba terpaku di tempat dia berdiri.Tidak bisa maju, tidak ke kanan atau ke kiri.Apalagi mundur.Padahal bola sedang menuju ke arahnya.Alih-alih mengejar, bola dibiarkan melesat menjauhinya.Seakan kakinya terlem di bidang pertandingan.

Kejadian itu disebut mati langkah.Saya nggaktahu apa padan kata dalam bahasa Inggris.Teman saya, yang lama bermukim di Amerika, menerjemahkan sebagai dead stop in his track.Terlalu panjang.Nampaknya ia tak mempunyai sinonim yang pas di bahasa sana.Entah,mungkinkeadaan seperti itu tak dijumpai di seberang.Apakah khas Indonesia?Nampaknya, tidak.

Bisa dipaksakan, mati langkah diterjemahkan sebagai “kagok”, “gamang”, “tak dapat melangkahkan kaki”.Pelaku mati langkah melihat dan sadar, siapadan di mana “musuhnya”. Tapi, ya itu tadi, kakinya membeku, tangannya kaku.Persis seperti patung batu.

Saat kita mengalami mati langkah memang tidak mengenakkan.Seharusnya kita bisa menggapainya, tapi kok jadi bengong seperti arca.Sekuennya – bila pemain olahraga sering mati langkah – ya kemudian kalah.

Mati langkah, ternyata tidak hanya ada di lapangan olahraga saja.Ia bisa terjadi pada individu di luar lapangan.Misalnya, siswa di sekolah, pekerja di perusahaan, warga di komunitas masyarakat, atau pengendara kendaraan di jalan raya.

Ia juga bisa mendera organisasi atau perusahaan, atau suatu merek, suatu produk.Bahkan suatu bangsa.Kalau sampai suatu bangsa sering mati langkah, maka negaranya akan hancur.

Kalau merek, atau produk, tentunya ia menjadi tak laku.Kemudian tutup, bangkrut, hilang dari pasar.Contohnya banyak, tak peduli jenis komoditinya.

Waktu saya kecil, bapak saya, seorang perokok berat, sering gonta-ganti merek.Kadang Kansas, bungkusnya berwarna kuning.Sering Escort, abu-abu, atau Commodore.Sehari, beliau bisa menghabiskan 1-2 bungkus rokok.Warnanya macam-macam.

Sebelum merokok, untuk melapangkan tenggorokan, beliau mengisap permen Wybert.Dibungkus kaleng bundar berwarna biru-putih.Bentuk permen seperti diamond, kecil-kecil, berwarna abu-abu.Rasanya pedas, tapi segar.

Semua merek yang saya sebut tadi sudah “almarhum”.Entah di mana mereka saat ini.Seingat saya, sekitar tahun 70-an, merek-merek rokok dan permen yang saya sebut di atas sudah hilang dari pasaran.Apalagi kini.

Tidak hanya jenis rokok yang banyak hilang di pasaran.“Baru” 30-an tahun yang lalu, saat saya masih kuliah di Bandung,transportasi Jakarta-Bandung, pulang-pergi, dirajai taksi 4848.Tarifnya mahal, karena mobil yang dipakai cukup mewah.Holden Premier atau Kingswood.Bentuk mobil lebar dan rendah, persis seperti kapal selam.

Holden adalah produk mobil buatan Australia.Mobil yang berlambang Singa ini,tak lagi masuk pasaran Indonesia, sejak tahun 1980-an.Saat terakhir, di Indonesia merek Holden dipegang PT Udatimex, yang berkantor di sekitar Kramat Raya.Tapi kini ia sudah tergolong mobil antik.

Banyak produk, bahkan dulu memegang brand image, seperti Odol, kini sudah tak berbekas.Saat itu, semua merek pasta gigi disebut “odol”.Padahal, ia hanya salah satu dari sekian banyak merek.Odol juga mati langkah dan tinggal cerita belaka.Kalau anda ke super market dan mencari “odol”, tak ayal ditertawakan si penjaga toko.

Bahkan merek canggih untuk sebuah kamera, yang kala itu juga menjadi brand image, saat ini ikut musna.Anda ingat “Kodak”?Kemana gerangan ia sekarang?Atau, pernahkah anda terbang bersama Pan Am (1927-1991), konon singkatan dari Pan American?Bahkan sebuah Flag carrier airline dari negara adidaya pun, ikut-ikutan mati langkah dan terbang entah kemana.

Semasa era orde baru, saya sempat bangga terbang dengan Sempati.Indonesian Airline dengan servis yang ciamik, harga bersaing dan terkenal on time service-nya, kemudian ikut-ikut mati langkah, pingsan lantas dud.Sempati kemudian dijuluki “Semaput Sampai Mati”.Ironis memang.

Saya mampu memperpanjang litani merek-merek yang tadinya ceng li, bertahan sebentar, mati langkah, kemudian mati.Mungkin sampai 10-20 halaman lagi.Bukankah anda tentu masih ingat kejayaan dan sekaligus kematian Enron?Atau komputer Compaq, yang pernah menjadi trade mark dunia perkomputeran dunia?Atau perusahaan penerbangan Eastern Airline, yang pesawatnya tinggal bangkai di beberapa bandara Amerika?

Ada sebuah prinsip bisnis berasal dari Cina, yang disebut sebagai “Fu Shui nan Shou”.Kira-kira berarti : “Tak selamanya yang pertama selalu bisa bertahan”.Slogan ini diambil dari dunia persilatan sana, tetapi nampaknya relevan diterapkan di semua aspek kehidupan manusia.

Andrew Grove, founder dan mantan CEO Intel Corporation, mengarang sebuah buku dengan judul yang sangat provokatif, “Only the Paranoid Survive”.Saat itu, Intel memang sedang benar-benar mati langkah, ketika (hanya) satu chip dari ratusan ribu atau jutaan produknya, ternyata eror.Kesalahan itu diketemukan seorang Profesor Jepang yang hitungan matematiknya jadi ngawur.

Intel klimpungan karena hampir semua Purchase Order yang sudah dibukukan, dibatalkan user.Grove menamakan titik, saat dirinya limbung tadi, sebagai “Strategic Inflection Point”.Titik kritis ketika seseorang atau sesuatu mendapat “serangan” tak terduga, kemudian mati langkah.Kalau dibiarkan, ia akan kalah dan musna.

Judul buku tadi berarti “Hanya orang-orang yang waspada saja, yang akan bertahan dan sukses”.Yang lain akan mati langkah dan menghilang dari pasar.

Resepagar olahragawan tidak gampang mati langkah, adalah perbanyak dan perbanyak latihan.Kemudian, selalu waspada terhadap semua musuh.Rudy Hartono membuktikannya.Dia menjadi juara All England pertama kali, saat berusia baru 18 tahun.Itu pun setelah dia berlatih sungguh-sungguhsejak umur 7 tahun, selama kira-kira 10.000 jam latihan.Kemudian, diatetap juara sebanyak 9 kali.

Di dunia niaga, exercise bisa dilakukan dalam bentuk penyempurnaan proses produksi dan produk yang tak henti-hentinya.Plus sikap selalu waspada terhadap pasar seperti yang dianjurkan Andrew Grove.

Ironis memang, ketika hari-hari ini, pemegang gadget Blackberry sudah dianggap jadul.Ia tinggal digenggam ibu rumah tangga dan siswa Sekolah Menengah Pertama.Dijamin, sebentar lagi akan mati langkah dan hilang tak berbekas.Para trend setter sudah mencemooh pengguna BB, karena mereka telah mengantongi iPhone 5 agar disebut lebih eksis.Padahal belum lama, BB baru meledak 5 tahun lalu.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x