Mohon tunggu...
Panuntun
Panuntun Mohon Tunggu... Petani yang hobbi menulis

Seorang Petani yang tinggal di pedesaan

Selanjutnya

Tutup

Novel

"Mendung di Langit Demak" (Bara di Kademangan Dawungan) bagian 16.

2 Agustus 2020   08:51 Diperbarui: 2 Agustus 2020   08:49 25 2 0 Mohon Tunggu...

"MENDUNG DI LANGIT DEMAK"
(Bara Di Kademangan Dawungan)

Bagian 16.


Dan demikianlah di ke esokan harinya, terlihat Kyai Bahuwirya telah mempersiapkan diri untuk mengunjungi orang yang membutuhkan tenaganya.

Setelah memeriksa kembali barang yang akan dibawanya termasuk reramuan yang menjadi kelengkapan dalam pekerjaannya, Kyai Bahuwirya telah mendatangi tetangganya yang terbiasa Ia mintai pertolongan untuk menjaga rumahnya selama Ia bepergian.

Tetangganya yang sudah mengetahui kebiasaan Kyai Bahuwirya bepergian nampaknya sudah mengetahui apa yang harus dilakukannya selama Kyai Bahuwirya tidak ada dirumah.

Meskipun demikian Kyai Bahuwirya nampaknya memerlukan untuk memberikan pesan kepada tetangganya itu.

"Kalau kau tidak sempat menggembalakannya, jangan lupa kau siapkan dedaunan untuk kambing kambingku. Sesuai janjiku yang pernah aku sampaikan kepadamu tempo hari, ambilah satu dari ketiga anak kambing yang baru lahir itu. Pilihlah yang manapun kau suka, tapi jangan kau bawa sekarang, biar ia disusui induknya dulu.", berkata Kyai Bahuwirya kepada tetangganya.

"Terima kasih Kyai. Berapa lamakah kira kira Kyai bepergian".

Tak lebih dari sepekan aku sudah berada dirumahku kembali", jawab Kyai Bahuwirya sambil berpamitan kepada tetangganya itu.

Demikian selanjutnya, setelah memberikan pesan pesan lainnya kepada tetangganya akhirnya Kyai Bahuwirya melangkahkan kakinya meninggalakan rumahnya untuk melakukan perjalanan mengunjungi orang orang yang membutuhkan tenaganya.

Kyai Bahuwirya memang tidak tergesa gesa meskipun Ia mengetahui bahwa jarak yang akan ditempuhnya adalah jarak yang sangat jauh.

Bahkan Kyai Bahuwirya nampaknya sudah memperkirakan bahwa Ia nanti terpaksa harus menginap dalam perjalanannya. Hal yang demikian nampaknya sudah terbiasa dilakukan oleh kyai Bahuwirya.

Ketika Kyai Bahuwirya baru saja meninggalkan pintu gerbang kademangan, Kyai Bahuwirya melihat dua orang penunggang kuda datang dari arah yang berlawanan dengan dirinya.

Ketika kuda itu telah semakin dekat, akhirnya Kyai Bahuwirya mengetahui bahwa kedua penunggang itu adalah Jatmika dan Apsara.

Terlihat keduanya telah turun dari kudanya dan menghampiri Kyai Bahuwirya.

"Sepagi ini angger berdua telah datang dari ujung hutan itu, dari manakah kiranya angger berdua", tanya Kyai Bahuwirya kepada kedua anak muda itu.

"Kami berdua hanya sekedar berjalan jalan Kyai. Nampaknya adi Apsara ingin menunjukkan kepadaku beberapa tempat yang masih belum sempat aku ketahui meskipun aku sudah beberapa waktu lamanya tinggal dikademangan ini", jawab Jatmika.

"Nampaknya Kyai akan melakukan perjalanan yang jauh", kata Apsara sambil matanya memandang kantong yang tersangkut di pundak Kyai Bahuwirya.

"Demikianlah ngger. Seperti yang kalian lihat, aku memerlukan membawa beberapa perlengkapan keperluanku karena aku harus mengunjungi beberapa orang yang membutuhkan bantuanku", jawab Kyai Bahuwirya.

Sambil mengangguk angguk terlihat Jatmika menatap tajam Kyai Bahuwirya seolah ada sesuatu yang ingin dicarinya dari orang tua itu.

Dan sejenak kemudian Jatmika telah berkata.

"Baiklah Kyai, silahkan melanjutkan perjalanan. Nampaknya hari ini adalah hari yang cerah, dan semoga sinar mataharipun tak seterik biasanya".

"Terima kasih ngger, akupun tidak ingin terburu buru dengan perjalananku ini justru karena orang orang yang akan aku kunjungi tinggal di padukuhan yang agak jauh dari kademangan ini", jawab Kyai Bahuwirya.

Sesaat kemudian Kyai Bahuwirya telah kembali meneruskan perjalanannya. Sementara Jatmika dan Apsara pun telah kembali menaikki kudanya.

Sambil melarikan kudanya dengan perlahan lahan terdengar Jatmika telah berkata kepada Apsara.

"Siapakah sebenarnya Kyai Bahuwirya itu", desis Jatmika.

Sambil mengerutkan dahinya Apsara menjawab pertanyaan dari Jatmika tersebut.
 
"Bukankah orang tua itu yang telah mengantarkan kakang Jatmika ke rumah Ki Bekel sebelum peristiwa dibanjar itu terjadi".

"Ya" jawab Jatmika singkat.

Pertanyaan dan jawaban dari Jatmika terasa aneh bagi Apsara, namun sebelum Apsara menanggapinya, terdengar Jatmika kembali berkata.

"Maksudku adalah, apakah kau mempuyai pengenalan yang lain terhadap orang tua yang bernama Kyai Bahuwirya itu selain sebagai seorang dukun yang memang sudah dikenal luas dan diketahui banyak orang selama ini".

"Aku tidak mengerti apa yang kakang maksudkan sebenarnya. Sejauh pengenalanku, itulah pekerjaan yang selama ini di tekuni Kyai Bahuwirya", jawab Apsara.

Jatmika hanya terdiam saja medengar jawaban dari Apsara. Sementara Apsara mulai dapat merasakan bahwa Jatmika nampaknya telah menaruh curiga terhadap Kyai Bahuwirya.

"Apakah kakang mempunyai penilaian yang lain kepada Kyai Bahuwirya selain sebagai dukun hewan", desis Apsara.

"Aku selalu merasa kurang mapan setiap kali melihat orang tua itu. Panggraitaku mengatakan bahwa orang yang bernama Kyai Bahuwirya itu bukanlah sekedar seseorang yang mempunyai keahlian dalam bidang raja kaya saja", berkata Jatmika.

Dan sebelum Apsara menanggapinya, terdengar Jatmika berkata kembali.

"Tapi sudahlah, jangan hiraukan orang tua itu. Aku mungkin terlalu terbawa oleh perasaanku saja.

Tanpa menunggu tanggapan dari Apsara, terlihat Jatmika telah mempercepat lari kudanya. Sementara Apsara sendiri yang sempat heran dengan perkataan dari Jatmika telah ikut mempercepat larinya kudanya.

------ 

Bersambung..

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x