Mohon tunggu...
Panuntun
Panuntun Mohon Tunggu... Petani yang hobbi menulis

Seorang Petani yang tinggal di pedesaan

Selanjutnya

Tutup

Novel

"Mendung di Langit Demak" (Bara di Kademangan Dawungan) Bagian 15

30 Juli 2020   13:44 Diperbarui: 30 Juli 2020   13:34 75 0 0 Mohon Tunggu...

"MENDUNG DI LANGIT DEMAK"
(Bara Di Kademangan Dawungan)

Bagian 15.


Untuk beberapa saat ketiga orang itu telah menjadi diam. Bagi Ki Demang persoalan yang saat ini mulai mengemuka di kademangan yang dipimpinnya memang memerlukan penyelesaian secepatnya. 

Meskipun kesehatannya belum pulih sepenuhnya nampaknya Ki Demang tidak mungkin untuk terus berdiam diri dalam keadaannya.


Putranya yang didampingi oleh Ki Bekel memang dianggapnya telah mampu menjalankan tugasnya memimpin kademangan, namun dalam persoalan yang berkaitan dengan masa depan dan keberlangsungan dari kademangan dan seluruh penghuninya nampaknya Ki Demang tidak ingin menyerahkan sepenuhnya kepada putranya. 

Ia menganggap putranya masih belum mempunyai pengalaman yang cukup dalam menghadapi persoalan yang membutuhkan perhitungan yang cermat.

Sementara Ki Bekel sendiri nampaknya mempunyai pertimbangan yang kurang mapan dengan persoalan yang saat ini sedang berkembang. 

Ia tak bisa menutupi atas kecemasan yang ada didalam hatinya. Ki Bekel mempunyai panggraita bahwa gagasan yang dikemukakan oleh kedua orang yang saat ini menjadi tamu dari Ki Demang itu pada saatnya justru akan membawa akibat yang buruk bagi masa depan kademangan dan seluruh penghuninya.

Apsaralah yang nampaknya telah mempunyai pertimbangan dan keputusan yang jelas. Mungkin karena dipengaruhi oleh gejolak kemudaanya dan juga kedekatannya dengan Jatmika, telah membuat Apsara mempunyai sikap yang mantap bahwa Ia akan mendukung sepenuhnya gagasan yang telah ditawarkan oleh Jatmika.

Bahkan Apsara telah mulai membayangkan bahwa dimasa yang akan datang, Ia akan mewarisi kedudukan ayahnya bukan sekedar sebagai pemimpin dari sebuah kademangan, tetapi yang diwarisinya adalah kedudukan yang lebih dari itu atau setidaknya kedudukan sebagai seorang pemimpin dari sebuah tanah Perdikan dengan segala keistimewaan yang dimilikkinya.

Hingga akhirnya keheningan ditempat itu telah dipecahkan oleh suara Ki Demang.


"Ki Bekel, Pada saatnya aku ingin membicarakan persoalan ini dengan beberapa bebahu dikademangan ini. Tetapi sebelumnya aku memerlukan untuk berbicara dengan kedua tamuku itu agar aku mempunyai bahan yang cukup untuk membuat satu penilaian atas apa yang akan menjadi keputusanku nanti. Aku menganggap penting untuk mengetahui siapakah sebenarnya kedua orang itu meskipun aku sudah mempunyai dugaan bahwa keduanya nampaknya adalah orang orang yang merasa mempunyai hak untuk mempersoalkan kekuasaan atas Demak".

"Kepada Ki Bekel dan kau sendiri Apsara", berkata Ki Demang lebih lanjut.


"Aku perlu memberi tekanan pada perkataanku ini, bahwa saat ini aku belum mengambil sikap apakah aku akan mendukung atau menolak gagasan yang telah disampaikan oleh Jatmika itu. Aku ingin kalian menyesuaikan diri dengan sikapku ini".

Dan sebelum Ki Demang menutup dan mengakhiri pembicaraan diruangan itu, Ki Demang ternyata memerlukan menanyakan satu permasalahan kepada Apsara.

Namun sebelum Ki Demang berkata kepada Apsara, terdengar Ki Demang justru berkata kepada Ki Bekel.

"Ki Bekel, sebenarnya apa yang ingin aku bicarakan dengan Apsara kali ini tidak mempunyai kaitan secara langsung dengan persoalan yang baru saja kita perbincangkan karena ini menyangkut dengan kepentingan keluargaku. Meskipun demikian Aku tidak berkeberatan Ki Bekel mendengarnya karena aku menganggap Ki Bekel telah menjadi batihku sendiri.


"Silahkan Ki Demang", jawab Ki Bekel singkat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x