Mohon tunggu...
Suryadi Maswatu
Suryadi Maswatu Mohon Tunggu... Kita sama, kita satu, kita indonesia

Kemiskinan Sejati bukanlah semalam tanpa makan, Melainkan sehari tanpa berpikir.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Begini Suka-Duka Hajah Termuda Asal Barru, Etri Humaerah dan Pengalamanya di Tanah Suci

2 September 2019   21:42 Diperbarui: 2 September 2019   21:57 0 0 0 Mohon Tunggu...

MAKASSAR - Jemaah haji Indonesia mulai pulang ke Nusantara setelah melaksanakan rukun Islam kelima di Arab Saudi kurang lebih 40 hari. Begitu juga jemaah haji embarkasi debarkasi Makassar.

Setelah menyandang gelar haji. Jemaah haji perlahan lahan mulai berdatangan kembali di tanah air. Berbagai persiapan pun dilakukan, mulai dari fisik, ole-ole hingga finansial. Semuanya sudah disiapkan jemaah calon haji sebelum bertolak ke kampung halamannya.

Tak terkecuali, berbagai upaya dan fasilitas semaksimal mungkin diberikan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) guna kelancaran jemaah Indonesia setelah kembali dari melaksanakan ibadah haji.

Banyak dari mereka yang sudah melaksanakan rukun haji merasa sedih karena rindu sanak saudara dan kerabat di Tanah Air.
Rasa rindu akan keluarga memang sudah menjadi fitrahnya manusia yang tengah melakukan perjalanan.

Lantas bagaimana suka-duka para jemaah haji saat di tanah suci menjalankan rukun dan kewajiban haji ditengah jutaan manusi. Baimana rasanya berdiri di terik matahari dan menahan dinginya kondisi cuaca di tanah suci.

Salah satu jemaah Haja (JH) termuda Embarkasi-Debarlasi Makassar, kloter asal Kabupaten Barru, Provinsi Sulawesi Selatan, Hj. Etri Humaerah (23 tahun), menceritakan kesan suka-duka selama di tanah suci.

Etri Humaerah menceritakan bahwa, kesan mendalam selama di tanah suci pada adalah saat puncak pelaksanaan ibadah di Armuzna (Arafah Muzdalifah Mina).

"Selama kurang lebih 6 hari kami tinggal di tenda dengan pakaian ihram, yang harus dijaga kebersihannya. Dan tidak boleh melanggar aturan serta cuaca yang sangat panas," kenang dia saat ini masih berada di Saudi menunggu giliran kloter kembali ke tanah air.

Seperti diketahui, setiap tahun lebih dari juta umat Islam menunaikan ibadah haji ke tanah suci. Saat puncak di arafah para jemaah haji itu, berinteraksi secara alami membagi kebaikan pada jamaah haji dari negara lain.

Menurut dia, terlebih lagi di Mina cuaca yang hampir 45C dan harus menempuh 6-7 km pulang pergi untuk melaksanakan ibadah (melontar jumarat/melempar jumrah (Ula,Wustho, Aqabah) setiap hari selama 4 hari.

"Alhamdulillah semua bisa terlewati berkat kuasa Allah. LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLAA BILLAHIL 'ALIYYIL 'AZHIIMI," katanya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2