Mohon tunggu...
surya hadi
surya hadi Mohon Tunggu... hula

Pengkhayal gila, suka fiksi dan bola, punya mimpi jadi wartawan olahraga. Pecinta Valencia, Dewi Lestari dan Avril Lavigne (semuanya bertepuk sebelah tangan) :D

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Kedai Kopi

21 Januari 2019   08:46 Diperbarui: 21 Januari 2019   09:13 0 3 0 Mohon Tunggu...
Kedai Kopi
Sumber : idntimes.com

Wanita itu terlihat sibuk dengan laptopnya. Di laptopnya terlihat layar putih yang siap untuk di tuliskan naskah. Beberapa kali jari-jemarinya terlihat menari di atas keyboard laptopnya, namun beberapa jam berselang, tetap saja masih hamparan layar putih polos yang terlihat, tidak ada gambar, naskah, ataupun tulisan yang seharusnya sudah terangkai seperti biasanya.

Di sudut kedai kopi sepi yang pencahayaannya minim tersebut wanita itu duduk bersama laptopnya. Sendirian. Minimnya pencahayaan tidak mampu menutupi wajahnya yang terlihat di penuhi beban, masalah, dengan berbagai asumsi dan pemikiran yang bergerak dengan liar di kepalanya yang merusak konsentrasinya untuk melanjutkan karyanya.

Matanya sesekali terlihat kosong, beberapa kali ia terlihat mengambil nafas panjang, yang biasanya di akhiri dengan sedikit senyuman yang tersungging di bibirnya, namun kembali hilang ketika ia sadar hanya laptop yang menjadi temannya.

Wanita itu kecewa, beberapa bulan terakhir pria yang sedang mendekatinya menghilang, lalu meninggalkannya. Ia kecewa pada dirinya yang terlalu gampang membuka pintu hatinya yang selama 10 tahun ia tutup rapat.  Kenapa ia begitu bodoh ?? kenapa ia bermain dengan harapan untuk hal yang pasti berakhir mengecewakan ?? Kenapa ia mau membuka pintu untuk sebuah harapan bernama hubungan ??

Ia juga kecewa pada pria yang sebelumnya dianggapnya sebagai obat yang akan memulihkanya dari ketakutannya untuk sebuah relasi, namun justru sebaliknya. Orang itu hanya menambah luka batinnya.

Sesekali terlihat ia melipat tangannya, memejamkan matanya dan mulutnya mengucapkan kata kata yang hanya bisa di dengar oleh batinnya yang kembali terluka. Bertanya kepada Tuhan kenapa Ia tega mengirimkan laki-laki yang hanya berniat mengecewakannya. 

Wanita itu tahu, pasti Tuhan mengetahui akan ada hari ini, di mana ia hanya bisa duduk sendiri dan menyesali semua kebodohannya ketika ia mulai membuka diri. Kenapa skenario Tuhan untuk dirinya terlalu kejam ?? 

Handphonenya berbunyi... Sebuah pesan masuk cukup untuk membuyarkan sedihnya namun tidak cukup untuk memperbaiki wajahnya yang kusut.

Di luar kedai kopi itu, sepasang mata memperhatikannya dengan seksama, mata yang sama sedihnya, penuh air dan luka. Seolah ia merasakan pergulatan batin yang tengah dirasakan wanita tersebut. Laki laki itu hanya bersandar di balik tiang listrik, sambil sesekali melnghisap rokoknya. Ia tidak merokok  sebelumnya, hanya saja rasa frustasi yang tengah melandanya membuatnya menjadi perokok.

Beberapa bulan terakhir bisnisnya hancur berantakan, hartanya habis untuk membayar hutang, dan hanya tersisa sebuah rumah yang dulu hanya dijadikannya sebagai gudang. Dokter juga memvonisnya gagal ginjal, sehingga ia di anjurkan untuk cuci darah setiap bulan. 

Ia hilang harapan, dan memilih menjauhi orang yang dicintainya menjadi pilihan terakhirnya. Ia tidak ingin penulis perempuan yang di cintainya itu harus hidup bersusah payah dengannya yang hanya tinggal menunggu kematian. Lagipula, ada ketakutan kalau suatu waktu ia akan di tinggalkan, seperti yang pernah terjadi padanya  beberapa tahun silam.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x