Mohon tunggu...
surya hadi
surya hadi Mohon Tunggu... Administrasi - hula

Pengkhayal gila, suka fiksi dan bola, punya mimpi jadi wartawan olahraga. Pecinta Valencia, Dewi Lestari dan Avril Lavigne (semuanya bertepuk sebelah tangan) :D

Selanjutnya

Tutup

Vox Pop

Ahok Si Penista Agama

23 Mei 2017   23:02 Diperbarui: 23 Mei 2017   23:18 669
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Keputusan Basuki Tjahja Purnama / Ahok untuk tidak melanjutkan sidang perkara penistaan agama yang tengah menimpa dirinya ke proses banding, bagi sebagian orang yang membencinya mungkin menjadi penegas yang hakiki dan sahih bahwa Ahok adalah penista Agama, toh keputusan pengadilanlah yang mengatakan demikian, namun bagi sebagian orang yang mendukungnya, itu adalah cara Ahok berkorban untuk kepentingan yang lebih banyak.

Pencabutan memori banding yang di lakukan pihak Ahok diharapkan dapat mengakhiri sudah polemik perpecahan yang sudah menguras energi bangsa ini. Demo, orasi, hate speech, hingga fitnah dan berbagai hoax yang telah di keluarkan selama ini di harapkan bisa berhenti untuk kembali membuat bangsa ini berpikir untuk lebih maju dan produktif, di banding berkutat dengan halk hal yang takkan habis nya jika di perdebatkan. Toh, perbedaan pandangan itu lumrah kan.

“Gusti Ora Sare”

Itulah sepenggal kalimat dari Ahok di balik penjara yang di tulisnya untuk kemudian di bacakan oleh istrinya di konfrensi pers tadi pagi (selasa 23/05/2017) dengan berurai air mata. Iya, Tuhan tidak pernah tidur, dalam perenungannya di balik jeruji, Ahok mungkin sadar bahwa jika ia meneruskan perkara ini ke tingkat banding, hal tersebut hanya akan berdampak pada munculnya demo demo lain dari orang orang yang memang tidak menyukainya, yang tentunya akan di barengi lagi dengan adanya demo tandingan yang hanya akan menguras energi bangsa.

Bagi saya, ahok bukanlah Tuhan, sama dengan agama. Saya percaya bahwa Tuhan tak pernah menciptakan agama Kristen, muslim, Hindu, ataupun agama agama lainnya. Manusialah yang menamakan agama agama tersebut, menjadikannya bersekat, walaupun seharusnya tetap saling berpengangan dengan erat. Bagi saya, keduanya tidaklah perlu di bela dengan berlebihan, hingga mengerahkan massa yang jumlahnya ribuan, bahkan jutaan. Membuat kemacetan, hingga tak sedikit orang bergertak ketakutan.

Kasus Ahok menjadi pelajaran berharga untuk negara ini, bahwa untuk melawan arus di Negara ini butuh pengorbanan. Tak percaya ?? Tengoklah Novel Baswedan, hingga Antazhari Azhar yang lucunya justru di bela oleh keluarga korban. Status minoritas menjadi hambatan. Jabatan pemimpin hingga sebutan negarawan mungkin hanya boleh di miiliki oleh mereka yang menjadi mayoritas. Padahal negara ini berlandaskan pada Pancasila dan UUD 1945, bukan negara dari sebuah agama.

Pernah terbayang jika Ahok bukan minoritas ??

Ah, mungkin ia bisa bebas berkata ta**, anji**g, hingga bang**at. Tidak percaya ?? Tengoklah mereka yang menganggap diri mereka sebagai pembela agama dan ulama. Apakah mulut mereka tak sama kotornya ?? Orasi mereka penuh dengan hujatan, sebutan kebencian, makian, hingga kata kata kasar yang tak sepatutnya di ucapkan di hadapan ribuan orang. Satu hal yang kadang membuat saya bertanya :

Siapa yang sebenarnya menista agama ??

Apa iya agama yang mereka anut mengajarkan untuk membenci orang ?? Menyebut dasar negara berada di pa**at ?? Hingga memasang harga untuk memenggal kepala seseorang, layaknya orang yang sedang taruhan ?? Kalau tidak, lalu mengapa banyak mendengarkan ?? Mengapa mereka turun ke jalan dengan alasan membela Tuhan ?? Mengapa tak ada dari mereka yang bersuara ketika niat mereka membela agama di susupi dengan kata kata kasar yang tak pantas d ucapkan ??

Adalah ironis, jika agama di jadikan tameng untuk membenarkan hal hal yang sesungguhnya tak bisa di benarkan, hal hal yag saya yakin tak pernah di ajarkan di kitab suci manapun. Menghina, menyebarkan kebencian, hingga bertaruh untuk harga kepala seseorang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Vox Pop Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun