Mohon tunggu...
Suradin
Suradin Mohon Tunggu... Duta Besar - Penulis Dompu Selatan

Terus Menjadi Pembelajar

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Menua Bersama di Laut Desa Jala

2 November 2021   13:32 Diperbarui: 2 November 2021   13:35 111 7 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun

GARIS-garis ketuaan menghinggapi wajahnya. Dia tidak sekuat dulu. Hari-harinya hanya memandang laut, lalu sesekali mengisap rokok kretek. Menyeruput kopi hitam buatan sang istri setelah terang tanah menyambut. 

Duduk di bawah pohon ketapang dengan tempat duduk yang terbuat dari beberapa lapis papan, sudah cukup baginya menikmati hari di bibir pantai. 

Dulu ketika ombak menerjang pantai, rumah gubuknya hampir terbawa arus. Tapi sejak tanggul penahan gelombang ditimbun dengan batu yang diikat bronjong sepanjang pantai, maka amanlah kampung dan rumahnya.

Dokpri. Suradin
Dokpri. Suradin
Dokpri. Suradin
Dokpri. Suradin
Kini, ketika sudah tidak bisa melaut lagi, dirinya hanya bisa mengenang kembali masa-masa itu. Masa dimana dirinya begitu tangguh. Berani walau hanya bermodal jaring, lalu menerjang ombak hanya dengan kekuatan tangan untuk mengayuh perahunya hingga ke tengah samudra. Menentukan arah. 

Membaca bintang, lalu membuat perhitungan dengan waktu. Hanya bermodalkan senter dan lampu yang terpasang di tiang perahu menjadi penerang gelapnya malam. Sesaat jaring dibiarkan mengerem gerak ikan, sesaat itu pula kail di lepas di kedalaman laut.

Menunggu di sambar ikan, bahkan kadang cumi-cumi, dia sejenak membaringkan badannya di papan perahu. Dilihatnya bintang-bintang memenuhi langit. Ia lalu merenung, imajinasinya membumbung tinggi. 

Menerawang hari-harinya yang melelahkan. Berpeluh keringat demi keluarga yang dicintainya. Bergumul dengan perahu dan aktivitasnya di laut lepas. Dia menjadi orang laut, tapi bukan bajak laut. Dia bahkan tak paham bagaimana bercocok tanam. Ia hanya mengikhlaskan takdirnya menjadi nelayan, tanpa pernah protes pada nasib.

Dokpri. Suradin
Dokpri. Suradin
Masa itu masih segar dalam ingatannya. Kini hanya bisa dikenangnya kembali. Membuka lapisan-lapisan yang terjauh hingga serpihan masih bisa ditemukan. Kisah hebatnya selalu diceritakannya pada generasi yang memilih hidup menjadi nelayan. Walau pun dia tahu nelayan sekarang sudah tersentuh teknologi untuk memberikan kemudahan pada saat melaut. 

Dan bahkan dia pun tahu nasib nelayan tidak banyak mengalami perubahan yang signifikan kalau tidak mau di bilang masih seperti dulu. Hasil tangkapan hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Bahkan ada yang terlebih dahulu mengutang hanya ingin memastikan bisa tidaknya melaut hari itu. Malah pengepul dan pendatang jauh lebih survive terhadap kondisi yang ada.

Dokpri. Suradin
Dokpri. Suradin
Di rumah yang serupa gubuk itu, dia hanya merawat sisa kejayaan masa lalunya. Berdua dengan istrinya yang rambutnya sudah memutih, mereka merawat kenangan masa silam dengan saling menguatkan. Cinta keduanya tak mampu dihempas ombak, tak terkikis air laut dan kini benar-benar teruji oleh waktu. Keduanya serupa kisah romeo dan juliet. Masa bahagia. 

Masa sulit saling berkelindan dalam benaknya.HHSesekali dia tersenyum lepas kala teringat masa bahagia dengan seorang perempuan yang hingga kini memilih menua bersamanya. Dia merasa beruntung menjadi lelaki yang dicintai oleh seorang perempuan hebat seperti istrinya. 

Kala dia terbaring lemas karena sakit dan tak bisa melaut, istrinya setia menemani, merawatnya hingga kembali tersenyum menyambut mentari. Setelah melewati semua kisah hidup, dia baru tersadarkan dengan arti ketulusan, kejujuran, keikhlasan serta cinta yang dipenuhi pengorbanan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan