Mohon tunggu...
Suradin
Suradin Mohon Tunggu... Penulis Dompu Selatan

Terus Menjadi Pembelajar

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Benarkah Siswa SD Lebih Rajin Dibandingkan Siswa SMP dan SMA?

19 April 2021   09:29 Diperbarui: 19 April 2021   09:39 79 6 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Benarkah Siswa SD Lebih Rajin Dibandingkan Siswa SMP dan SMA?
Dokpri. Bersama Siswa SD 06 Hu'u, Dompu-NTB, 

SETIAP ke tempat kerja saya selalu melihat siswa sekolah dasar bergerombol berjalan bersisian menuju sekolah. Bahkan tidak sedikit yang sedang menunggu di depan pintu masuk sekolah. Tidak satu sekolah. Ada tiga sekolah dasar yang saya perhatikan selama kurang lebih tiga bulan. Nampaknya mereka rajin sekali ke sekolah bahkan sebelum gurunya datang. Jika dibandingkan dengan siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) terlebih siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) nampaknya siswa sekolah dasar jauh lebih rajin. Paling tidak demikian penilaian saya.

Tidak hanya itu, siswa SD yang saya perhatikan lebih ceria dan bersemangat menuju sekolah. Mereka seolah tanpa beban. Berlarian sesuka hati. Saling kejar mengejar sampai-sampai melompat di taman sekolah. Mereka sangat aktif jika dibandingkan dengan gurunya. Gurunya biasanya hanya berteriak dari jauh, tanpa ada inisiatif ikut nimbrung bermain dengan siswanya. Guru terlihat hanya aktif ketika jam mengajarnya, sedangkan siswa baik ada jam belajar maupun tidak mereka selalu ingin bermain dengan teman-temannya. Sangat kontras jika dibandingkan dengan SMP dan SMA. Sekali lagi demikian penilaian saya.

Dok. Siswa SD 06 Hu'u
Dok. Siswa SD 06 Hu'u
Dokpri. 
Dokpri. 
Seperti hari ini, Senin, 19 April 2021 saat melajukan kuda besi yang membawa saya ke tempat kerja. Saya baru menyempatkan waktu untuk foto bersama dengan beberapa siswa sekolah dasar. Lama sebenarnya niat hati ingin mendokumentasikan momen seperti ini, tapi baru kali ini bisa saya tunaikan. Bahkan pernah suatu hari, saya melihat dari kendaraan, seorang siswa SD dengan rok panjang melompat masuk di pagar sekolah karena pintunya masih terlihat terkunci. Melihat itu, saya seakan tidak percaya. Luar biasa. Pagar setinggi satu meter lebih bisa diloncantinya demi bisa masuk ke sekolah. Namun sayang saat itu saya tidak sempat mengambil gambarnya.

Dokpri. Siswa menunggu kendaraan menuju sekolah. 
Dokpri. Siswa menunggu kendaraan menuju sekolah. 
Kali ini saya kembali disuguhkan dengan pemandangan yang hampir sama dengan hari-hari sebelumnya. Siswa SD terlihat rajin. Sebelum semerbak mentari pagi menyapa semesta, beberapa siswa SD di salah satu sekolah dasar di Desa Marada terlihat sudah berada di areal sekolah. Gurunya pun belum terlihat. Beberapa ada yang menenteng tas dengan sapuan mike up yang terlihat mencolok di pipi. Lakinya terlihat rambutnya begitu rapi dengan sisiran ke samping kanan dan kiri. Sejenak saya berbincang dengan beberapa. Saat saya menghampiri, mereka terlihat malu-malu. Ada penolakan yang halus dari gesturnya. Tapi mereka terlihat lucu dengan wajah mungilnya yang halus. Kami pun foto bersama.

Dokpri. 
Dokpri. 
Dokpri
Dokpri
Saya melontarkan beberapa pertanyaan. Mereka saling memandang satu sama lain. Tiba-tiba salah seorang menjawab dengan suara yang hampir tak terdengar. Saya memakluminya karena saya tidak dikenalinya. Ia menjelaskan bahwa ibunya selalu mendadaninya setiap ia ingin ke sekolah. Bahkan ibunya lah yang membangunkannya, memandikan, dan bahkan memakaikannya pakaian seragam sekolah. Bahkan ibunya pula yang memberinya uang jajan. Tidak jarang ibunya mengantarnya ke sekolah. Hampir semua ibunya yang punya peran penting dalam urusan sekolahnya. Tapi ketika sudah duduk di bangku kelas enam, ia mulai mandiri dan belajar melakukannya sendiri.

Namanya Maulida  Salsabila. Umurnya masih sebelas tahun. Kini menimba ilmu di Sekolah Dasar 06 Hu'u. Ia duduk di kelas enam. Saat ini ia fokus belajar menyelesaikan ujian akhir bersama teman-temannya.  Ia berkisah, gurunya selalu mengajarinya dengan penuh kesabaran. Ia tidak rewel seperti siswa kebanyakkan. Tapi ia jujur, ketika di sekolah, selain bisa bertemu dengan teman-temannya, juga bisa bermain. Sekolah merupakan rumah ke dua baginya untuk bisa bermain. Sebab jika sekolah libur, ia hanya bermain di rumah dengan beberapa temannya saja. Berbeda ketika sekolah aktif dan ia pun ikut aktif.

Kini ia sedang fokus menghadapi ujian akhir sekolah. Nanti kalau sudah lulus, ia ingin melanjutkan studinya di pesantren. Di pesantren dirinya bisa memperdalam ilmu agama, dan kelak bisa membanggakan kedua orang tuanya.

"Nanti mau melanjutkan di pesantren" Kata Maulida malu-malu.

Dokpri. 
Dokpri. 
Dokpri. Bersama siswa SD 07 Hu'u
Dokpri. Bersama siswa SD 07 Hu'u
Seusai foto, kembali saya melanjutkan perjalanan. Dengan membelah jalan yang mulai ramai, saya disapu mentari pagi yang mulai menghangatkan punggung. Melewati areal persawahan dan teluk Cempi yang tenang, saya terasa damai sambil merasakan hempasan angin laut yang sejuk.

Tak berselang lama memasuki Desa Hu'u, saya melihat beberapa siswa sekolah Dasar yang lagi duduk di pinggir jalan. Saya menepi. Mengajaknya ngobrol sesaat sambil mengajukan beberapa pertanyaan. Mereka terlihat malu-malu. Dalam mengakhiri perjumpaan singkat ini, saya meminta izin mengambil gambar. Mereka mengangguk dengan senyum tersungging.

Dokpri. Siswa memungut sampah
Dokpri. Siswa memungut sampah
Dokpri. 
Dokpri. 
Di sekolah dasar kosong tuju, saya sengaja menyapa beberapa siswa yang sedang menyapu dan membersihkan halaman sekolah. Baru terlihat satu guru, sedangkan siswa dengan pakaian merah putih sudah memenuhi pelataran sekolah. Saya mengajak mereka berfoto ria sambil memegang sapu lidi di tangan.

Pada siswa sekolah dasar ini, saya belajar tentang pentingnya disiplin dan rasa  tanggungjawab pada tugas yang diamanahkan. Hadir di awal waktu dengan semangat 45, sembari melepas senyum pada semesta seolah tanpa beban dipundak adalah cara hidup yang membahagiakan. Mereka melakukan dengan hati, sembari menikmati hidup dan memberi arti pada semesta.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN