Mohon tunggu...
Supriati
Supriati Mohon Tunggu... Mahasiswa - .

Hadapi, Jalani, dan Syukuri

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

3 Hal yang Saya Dapatkan Saat Menjadi Relawan Pendidikan di Panti Asuhan

7 Februari 2022   17:26 Diperbarui: 8 Februari 2022   13:35 544 11 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Ilustrasi relawan di panti asuhan.|Sumber: Tribunjabar/Ferri Amiril Mukminin

Menjadi relawan adalah sebuah pilihan bagi saya si mahasiswa tingkat akhir. Tepatnya saat semester tujuh kemarin saya mendaftarkan diri menjadi relawan di salah satu komunitas belajar non profit yang bergerak di bidang pendidikan untuk adik-adik yang berada di bawah naungan yayasan panti asuhan di seluruh Indonesia. 

Saya mendaftar sebagai divisi pengajar dan alhamdulilah diterima. Saya bertugas untuk mengajar salah satu adik kelas satu SMP suatu yayasan yang berada di Kabupaten Kampar, Riau. Kegiatan belajar mengajar secara daring pun berlangsung selama kurang lebih 3 bulan. 

Sebenarnya selama 3 bulan mendampingi adik belajar banyak sekali hal yang saya dapatkan, namun akan dikerucutkan menjadi 3 hal saja yang benar-benar saya dapatkan selama menjadi relawan pendidikan.

Pertama, lebih bersyukur. 

Pertama kali bertemu adik secara virtual yang saya rasakan selain rasa senang adalah bersyukur. Senang karena bisa belajar bersama, walaupun secara daring dengan adik panti asuhan yang mempunyai semangat belajar dan bercerita bersama. Kemudian bersyukur karena saya masih mempunyai keluarga dan tinggal bersama walaupun ayah saya sudah tiada sejak saya kelas satu Sekolah Dasar. 

Jujur sebelum menjadi relawan pendidikan di salah satu panti asuhan, saya masih merasa menjadi orang yang tidak beruntung karena tidak punya ayah. 

Saya seringkali membandingkan hidup saya dengan teman yang mempunyai ayah. Saya selalu berkayal, kalau saja ayah masih ada mungkin hidup saya tidak akan seperti ini dan perbandingan lainnya. 

Bahkan saya pernah di suatu titik tidak mau keluar rumah dan bertemu orang. Karena jika keluar rumah dan bertemu orang yang mempunyai ayah, saya sakit hati dan merasa iri kepada mereka. 

Kasih sayang, pelukan, canda tawa, dan nasihat tidak pernah saya dapatkan dari sosok yang bernama ayah. Yah, tapi mau bagaimana lagi, namanya juga takdir dan mau tidak mau harus diterima.

Singkat cerita, setelah saya menjadi relawan pendidikan dan bertemu secara virtual dengan adik panti asuhan, rasa syukur itu hadir lebih dari yang sebelumnya saya rasakan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan