Supartono JW
Supartono JW Pengamat

Untuk apa sembuhkan luka, bila hanya tuk cipta luka baru? (Supartono JW.15092016) supartonojw@yahoo.co.id instagram @supartono_jw @ssbsukmajayadepok twiter @supartono jw

Selanjutnya

Tutup

Bola Artikel Utama

Tanpa Penonton dan Denda Bukanlah Cara Mendidik Suporter Sepak Bola yang Benar

7 Oktober 2018   22:56 Diperbarui: 8 Oktober 2018   14:42 2450 4 2
Tanpa Penonton dan Denda Bukanlah Cara Mendidik Suporter Sepak Bola yang Benar
Para Suporter Sepak Bola Indonesia/foto: pssi.org

Kendati PSSI tidak meminta izin kepada Menpora atas bergulirnya kembali Liga 1, namun baru saja roda Liga 1 bergulir selang sehari, suporter sudah bikin rusuh lagi. Padahal penghentian Liga 1 baik oleh Kemenpora maupun PSSI adalah buntut dari perilaku suporter.

Bahkan, kini PSSI telah memastikan akan segera membahas sanksi untuk klub Arema FC maupun panitia penyelenggara pertandingan pascainsiden di laga antara Arema FC versus Persebaya, Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, Malang, Jawa Timur, Sabtu (6/10/2018).

Sejatinya, laga Arema FC dan Persebaya berakhir dengan skor 1-0 untuk kemenangan tuan rumah. Namun, lagi-lagi, suporter kembali menjadi biang keladi dan mencoreng kemenangan Arema FC. Ulah suporter yang meneriakan cacian, hinaan, dan rasis, ternyata masih terjadi.

Bahkan, suporter juga menorobos masuk ke lapangan pada jeda istirahat babak pertama dan beberapa saat setelah babak kedua berakhir dengan melakukan beberapa kejadian yang membuat publik sepakbola nasional tidak habis pikir akan perilaku oknum suporter bersangkutan.

Yang pasti, apa yang telah dilakukan oleh suporter  Arema FC, melanggar regulasi dan sudah barang tentu akan ada  konsekuensi. Untuk itu, Komisi Displin PSSI-pun tentu tak akan ragu dalam mengambil keputusan tegas sesuai kode disiplin.

Hebatnya, dalam rilis di media, pengurus teras Arema FC yang juga menjabat di PSSI, memastikan  Arema tidak akan melakukan banding atas apapun hukuman yang akan diberikan oleh Komisi Disiplin PSSI.

Bukan persoalan hukum-menghukum

Kejadian ulah suporter yang kembali terulang setelah Liga 1 dihentikan oleh dua pihak, sebenarnya sudah diprediksi oleh publik sepakbola nasional.

Persoalan yang terjadi pada suporter sepakbola nasional secara umum adalah, mereka wajib diberikan edukasi secara masif dan terstruktur.

Mengapa PSSI dan PT LIB berani-beraninya menggulirkan kembali Liga 1, sementara persoalan mendasar mengenai edukasi suporter belum sama sekali tersentuh hingga akar-akarnya!

Secara nasional, seluruh suporter sepakbola Indonesia wajib dibantu tentang bagaimana caranya menjadi suporter sepakbola yang benar.

Memang, bila dipetakan, mungkin hanya beberapa daerah yang klubnya memiliki suporter yang wajib segera mendapatkan edukasi secara khusus.

Namun, alangkah lebih eloknyanya, bila program edukasi suporter memang dirancang untuk edukasi suporter nasional.

Bila PSSI tetap tidak tergerak dan bergerak melakukan edukasi suporter secara terprogram, terstruktur, dan masif, maka kejadian suporter berbuat tak terdidik, tak memilki tata krama, tak santun, dan tak berbudi pekerti luhur, akan terus berulang.

Percuma, menghukum klub bertanding tanpa suporter. Paling-paling suporter hanya akan berdiam diri tanpa menonton timnya bertanding selama masa hukuman.

Tapi ketika hukuman berakhir dan suporter kembali hadir ke stadion, kira-kira apakah suporter yang tidak diedukasi secara terprogram, tiba-tiba akan semudah membalik telapak tangan dan membuat mereka cerdas dan dapat menjadi suporter terdidik, santun, dan berbudi pekerti luhur.

Hanya ada satu cara membuat seluruh suporter sepakbola nasional berbudi pekerti luhur. Lakukan program edukasi suporter terstruktur dan masif, bukan dengan cara hukum-menghukum, maupun denda-mendenda!