Mohon tunggu...
Suparjono
Suparjono Mohon Tunggu... Administrasi - Penggiat Human Capital

Human Capital

Selanjutnya

Tutup

Kisah Untuk Ramadan

Refleksi Puasa di Masa Pandemi

23 April 2021   11:21 Diperbarui: 23 April 2021   11:39 582 2 2
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Bersyukur kita diberikan berkah umur panjang sehingga kita bisa bertemu di bulan Ramadhan tahun ini. Berkah yang berlimpah diberikan Allah swt kepada kita sehingga kita bisa tetap sehat menjalankan ibadah puasa di saat pandemi. Pandemi sudah bertemu dua kali Ramadhan dan setahun yang sudah mengajarkan kita tentang bagaimana kita berpuasa disaat yang tidak biasa. Ibadah ritual yang dilakukan di masjid dan mushola sebelum pandemi selalu merapatkan barisan dan luruskan sudah tahun lalu dijalani. 

Ramadhan kali inipun masih harus tetap berjarak bahkan ada yang dilakukan tetap dirumah saja. Rumah menjadi tempat yang ideal bagi pelaksanaan ibadah ritual sholat sunah maupun wajib serta tadarus. Sehingga rumah adalah surgaku merupakan manifestasi dari kondisi yang mestinya kita bisa memahami agar rumah menjadi tempat melepaskan penat dan aktivitas yang bersifat material. Tentu bukan pada keluasan rumah secara fisik dan kemewahan isi rumah dan modelnya, tetapi lebih kepada besarnya kelapangan hati dan pikiran manusia yang mengisi rumah tersebut.

Ada yang perlu kita ambil pelajaran dari puasa disaat pandemi ini, paling tidak himbauan pemerintah tentang menggunakan masker, cuci tangan dengan sabun, jarak jarak, di rumah saja keluar untuk hal -- hal yang penting dan tidak berkerumun. Himbauan yang menjadi protokol kesehatan tentu bisa kita ambil pelajaran dengan memaknai hal tersebut sebagai renungan untuk kita semua sebagai manusia. Sadar ataupun tidak sadar kondisi yang demikian memberikan pelajaran bahwa himbauan tersebut memberi pelajaran tentang perilaku manusia khususnya dalam kontek ibadah puasa dan hubungannya dengan relasi sosial. Secara bahasa puasa diartinya sebagai menahan dari makan dan minum serta hal -- hal yang telah diatur sesuai dengan syariat. Dalam puasa kita diharapkan untuk menahan hal -- hal yang sudah ditentukan oleh syariat meskipun hal -- hal tersebut dinyatakan boleh dilakukan. Tentu dalam pembahasan ini kita tidak sedang membahas tentang syarat sahnya puasa. Tetapi kata menahan yang dihubungkan dengan kondisi pandemi saat ini.

Mencuci tangan setiap saat merupakan bagian dari menjaga kebersihan raga ini dari bakteri dan virus. Kalau kita cermati dan renungkan kita mesti melihat lebih dalam lagi tentang aktivitas tangan -- tangan kita. Bagaimana tangan kita menuliskan sejarah tentang perilaku kita dalam interaksi baik keluarga, masyarakat sekitar maupun berbangsa dan bernegara. Tangan -- tangan yang bersih mestinya mampu memberikan sentuhan pada lingkungan seperti antara hubungan antar manusia, hubungan manusia dengan binatang dan hubungan manusia dengan tumbuhan. Tangan -- tangan bersih yang kita maknai bukan hanya pada aspek fisik tetapi lebih kepada aspek spiritualitas. Harmonisasi dan keseimbangan pengelolaan alam ini tentu menjadi tanggungjawab manusia sebagai mahluk yang mempunyai akal dan hati. Pembeda (baca: Akal dan Hati) inilah yang kemudian meniscayakan akan hadirnya kepemimpinan manusia dimuka bumi ini. Oleh karena itu, dalam menjalankan kepemimpinan dimuka bumi ini perlu tangan -- tangan yang bersih sehingga ekosistem dan keberlanjutan alam dan seisinya mampu memberikan keseimbangan dan manfaat bagi seluruh alam.

Menggunakan masker dalam setiap aktivitas keluar rumah, kalau kita renungkan lebih dalam lagi mungkin saja bukan hanya menutup mulut dan hidung kita agar droplet yang menjadi penyebab covid19 ini menularkan tetapi bisa jadi ada hal lain yang perlu kita ambil hikmahnya. Mulut seringkali mengeluarkan dan menghasilkan suara dan kata serta kalimat yang mampu memberikan efek yang signifikan bagi hubungan antara mahluk.

Ada pepatah mengatakan bahwa kalimat yang terucap dari mulut manusia diibaratkan lebih tajam dari tajamnya pisau, atau ada yang lain seperti mulutmu harimaumu. Tentu hal tersebut dapat menggambarkan bahwa mulut kita sebagai manusia harusnya mampu dijaga agar kerukunan dalam menjalankan interaksi sosial mampu memberikan ketentraman dan kedamaian. Pertikaian, perselihan dan caci maki serta fitnah untuk mendapat harta, tahta dan tujuan di alam ini harus kita akhiri dengan menutup mulut kita dengan masker. Masker adalah pembatas, penahan untuk menutupi mulut kita dari hal -- hal yang negatif seperti puasa yang mempunyai arti menahan. Semoga dengan puasa ini kita bisa menahan mulut kita untuk mengeluarkan suara, kata dan kalimat yang memberikan efek negative bagi kerukunan dan keseimbangan interaksi sosial.               

Menjaga jarak satu koma lima sampai dua meter mungkin menghindarkan kita dari bertebarannya virus melalui doplet, tetapi mungkin bisa telisik hikmah dibaliknya. Menjaga jarak kalau kita selami lebih dalam lagi tentu tidak berarti interaksi sosial menjadi terputus. Interaksi saat ini justru menjadi dekat dengan adanya teknologi yang menghadirkan interaksi (elektronik) sosial. Interaksi sosial yang bersifat face to face mulai berkurang dan beralih melakukan interaksi bersifat elektronik. Tentu hal tersebut menghadirkan suasana kebatihan yang berbeda bila dibandingkan dengan interaksi sosial bersifat face to face. Interaksi sosial tidak hanya dilakukan di kantor, meeting hall, resto maupun caf tetapi ruang -- ruang kamar di rumah menjadi tempat berinteraksi antara satu sama lain dengan teknologi yang ada.. Hal tersebut perlu dipahami mengingat interaksi dengan media elektronik terkadang banya noise yang muncul, karena kendala Bahasa dan jaringan serta situasi yang terkadang membuat komunikasi yang dilakukan menjadi kurang fokus.

Sebagai contoh, ketika komunikasi dilakukan di kantor, meeting hall maupun ruang meeting tentu sudah dipersiapkan secara matang dan focus, berbeda dengan ketika dilakukan di ruang-ruang rumah yang merupakan ruang privat yang berisi anggota keluarga yang mempunyai aktivitas yang berbeda. Dalam situasi yang demikian, memang kita sebagai manusia perlu berlapang dada, tetap berfikir positif serta perlu kedewasaan dalam melakukan interaksi dengan media elektronik sehingga komunikasi yang dibangun berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan.

Pelajaran puasa dimasa pandemi ini tentu bisa memberikan manfaat yang besar bagi kita sebagai insan kamil. Insan yang sempurna dimuka bumi ini yang mempunyai tanggungjawab mengelola alam semesta dan seisinya. Tidak hanya melakukan eksploitasi atas alam raya ini, tidak hanya melakukan kapitalisasi atas kekayaan alam raya ini, tetapi bagaimana manusia mampu menahan dan mengelola alam raya ini secara seimbang.

Puasa dimasa pandemi ini juga, memberikan hikmah kepada kita agar selain kesalehan spiritual yang meningkat kita juga diarahkan untuk mampu menghadirkan kesalehan sosial yang lebih agar kerukunan antar umat seagama dan antar agama mampu terjaga. Puasa dimasa pandemi ini juga mengajarkan kepada kita bahwa antara yang kaya dan yang miskin mempunyai potensi yang sama untuk terdampak. Untuk itu,  situasi ini memberikan semangat dan peluang agar saling bahu membahu antara yang kaya dan yang miskin bersama -- sama saling membantu baik secara material maupun non material. Puasa dan pandemi ini juga mengajarkan bahwa meskipun aktivitas yang dijalankan diperbolehkan tetapi kita harus bisa menahannya agar kebaikan datang kepada kepada setiap insan dan alam raya. Semoga!        

Mohon tunggu...

Lihat Kisah Untuk Ramadan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan