Mohon tunggu...
Suparjono
Suparjono Mohon Tunggu... Penggiat Human Capital

Human Capital

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Pemimpin Lahirkan Budaya Organisasi

6 April 2021   16:40 Diperbarui: 6 April 2021   16:52 207 3 0 Mohon Tunggu...

Fenoma yang unik saat ini menarik untuk diperhatikan, bagaimana hingar bingar perebutan kekuasaan dilakukan dengan saling mengklaim paling benar. Perpindahan kepemimpinan dari satu orang kepada orang lain dalam satu organisasi yang dilakukan secara luar biasa untuk tidak mengatakan diluar rencana besar. Kalau kita melihat fenomena tersebut, bisa kita lihat sebagai hal yang biasa dan sering terjadi dalam organisasi manapun baik organisasi profit maupun organisasi non-profit. Apakah keluar biasaan tersebut menjadi hal yang buruk bagi organisasi atau malah menjadi langkah menerobos kebuntuan dan kejumudan sebuah organisasi dengan berbagai latar belakangnya. Tentu hal tersebut sah-sah saja dalam sebuah organisasi, selama tujuan bersama yang menjadi komitmen keberlangsungan organisasi masih menjadi landasan dari pergantian kepemimpin. Namun demikian proses pergantian kepemimpinan dalam organisasi perlu dikelola dengan baik agar tidak menimbulkan polemik baik secara internal maupun eksternal. Pola pergantian kepemimpinan yang tidak dikelola dengan baik alih -- alih menjadi boomerang bagi keberlangsungan organisasi kedepan.

Pengelolaan pergantian kepemimpinan yang baik dalam organisasi akan menjadi titik tolak bagi keberlangsungan organisasi untuk jangka waktu yang panjang. Proses pengelolaan pergantian kepemimpinan organisasi tentu akan berbeda antara organisasi yang satu dengan organisasi yang lain. Perbedaan tersebut biasanya terletak pada budaya organisasi yang dibangun dalam organisasi. Budaya organisasi yang dibangun sangat mempengaruhi proses pengelolaan pergantian kepemimpinan. Sebagai contoh organisasi yang berorientasi pada profit seperti perusahaan pengelolaan pergantian kepemimpinan dilakukan dengan mekanisme Rapat Umum Pemegang Saham. Biasanya dilakukan dengan mekanisme merit sistem agar capaian tujuan perusahaan bisa diwujudkan secara berkelanjutan. Perusahaan mengelola pergantian kepemimpinan berdasarkan pada mekanisme talent pool yang disiapkan sesuai dengan budaya organisasi yang sudah ditentukan sebelumya. Berbeda dengan organisasi yang bersifat non-profit sebut saja organisasi massa maupun organisasi partai politik. Proses pengelolaan pergantian kepemimpinan dalam organisasi tersebut biasanya melalui mekanisme kongres, munas dan istilah lainnya yang merupakan forum resmi yang dimiliki oleh organisasi tersebut dalam mengatur proses pergantian kepemimpinan.

Baik organisasi non-profit maupun organisasi profit selalu punya cara atau mekanisme untuk menjaga kesinambungan dengan memberikan ruang dalam mengelola proses pergantian kepemimpinan diluar mekanisme yang regular atau terencana. Istilah luar biasa sering dipakai oleh organisasi baik non-profit maupun profit untuk menempuh upaya secara legal agar pengelolaan pergantian kepemimpinan dapat dilakukan. Proses tersebut sah dan legal selama mekanisme tersebut diatur dalam Anggaran Dasar dan Anggaran rumah tangga organisasi yang disahkan oleh pemegang kebijakan yaitu Menkumham. Hanya saja, dinamika proses pergantian kepemimpinan dengan menambahkan istilah luar biasa antara organisasi non-profit dan organisasi profit sering kali mempunyai atmosfir yang berbeda. Organisasi yang berorientasi profit tentu proses pergantian yang luar biasa terjadi jika pucuk pimpinan perusahaan bisa disebabkan karena pejabat mengundurkan diri, meninggal dan atau sebab -- sebab yang menyebabkan harus mundur seperti terjerat kasus hukum, underperform dan pelanggaran lainnya yang diatur dalam anggaran dasar perusahaan. Prosesnya tentu sangat terpola,  karena perusahaan hanya memilih kandidat dengan profil kepemimpinan yang mampu memberikan dampak profit kepada perusahaan dan menjaga keberlangsungan bisnis. Berbeda dengan organisasi non-profit, selain kinerja organisasi peran serta dalam pemberdayaan masyarakat yang berdampak elektabilitas organisasi dan nama besar organisasi menjadi salah satu parameter yang sangat menentukan. Ukuran eksistensi organisasi seringkali menjadi hal yang menyebabkan terjadi keguncangan proses pengelolaan pergantian kepemimpinan pada organisasi non-profit.

Perbedaan proses pengelolaan pergantian kepemimpinan tentu sangat mempengaruhi jalannya roda organisasi. Proses pergantian kepemimpinan sejatinya mempersiapkan lahirnya model kepemimpinan yang menjadi modal bagi organisasi untuk terus bergerak maju kedepan. Artinya yang dibutuhkan adalah modal kepemimpinan yang akan menjadi model bagi setiap anggota dalam sebuah organisasi. Kepemimpinan yang mampu memberikan contoh dan menimbulkan dampak yang positif bagi organisasi. Kepemimpinan yang mampu mempengaruhi setiap anggota organisasi dan memberikan inspirasi, menggerakan setiap anggota organisasi untuk terus tumbuh dan menyempurna serta bersemangat dalam mencapai tujuan organisasi. Kepemimpinan yang mampu memberikan pengaruh atas lahirnya budaya organisasi. Budaya organisasi yang juga mampu melahirkan kepemimpinan yang solutif bagi organisasi. Budaya organisasi yang merupakan buah dari model kepemimpinan yang sesungguhnya diharapkan bagi organisasi baik non-profit maupun profit. Dengan membangun budaya organisasi maka kepemimpinan yang hadir dalam organisasi mampu bekerja berdasarkan mekanisme organisasi yang mapan. Kemapanan budaya organisasi disini tentu memberikan gambaran bahwa sebuah organisasi mampu mengakulturasikan budaya setiap anggota organisasi menjadi kesatuan dalam keberagaman. Kemapanan budaya organisasi yang ada dalam organisasi juga tidak berarti menutup ruang gerak dalam bertindak untuk membangun eksistensi organisasi, tetapi kemapanan budaya organisasi tersebut justru memberikan ruang lebih bagi kreatifitas dan inovasi yang melekat pada anggota organisasi.                

Dengan demikian proses pengelolaan pergantian kepemimpinan pada dasarnya proses membangun  budaya organisasi. Proses pengelolaan pergantian kepemimpinan bukan hanya sekedar pergantian pucuk pimpinan dan jajaran pada fungsi -- fungsi organisasi baik organisasi non-profit maupun profit tetapi bagaimana menjaga keberlangsungan dan eksistensi organisasi. Pergantian pucuk pimpinan dan jajarannya merupakan aspek kecil dari besarnya proses pengelolaan pergantian kepemimpinan dalam organisasi. Proses keluarbiasaan dalam pengelolaan pergantian kepemimpinan lebih dikarenakan pentingnya proses menjaga keberlangsungan organisasi. Keluarbiasaan dalam proses pergantian pucuk pimpinan yang disebabkan karena kinerja ataupun elektabilitas tentu menjadi tanda tanya atas model kepemimpinan yang ada dalam organisasi. Keluarbiasaan yang demikian tentu akan menimbulkan perpecahan dan perselisihan dalam organisasi sehingga sangat berpengaruh kepada eksistensi organisasi. Keluarbiasaan yang menimbulkan perpecahan bisa jadi disebabkan karena budaya organisasi yang kurang mapan akibat ketidakmampuan organisasi melakukan akulturasi secara harmonis akan perbedaan budaya yang melekat pada setiap anggota organisasi terutama organisasi non-profit.

Pada akhirnya, Kepemimpinan yang menghadirkan kemapanan budaya organisasi dihasilkan dari proses pergantian kepemimpinan pada organisasi yang mempunyai kemapanan dalam budaya organisasi. Sejalan dengan apa yang disampaikan Schein bahwa budaya organisasi adalah pola dasar yang diterima oleh organisasi untuk bertindak dan memecahkan masalah, membentuk anggota organisasi yang mampu beradaptasi dengan lingkungan dan mempersatukan anggota-anggota organisasi. Sehingga dapat kita simpulkan bahwa kehancuran dan kemajuan sebuah organisasi sangat ditentukan oleh proses pengelolaan pergantian kepemimpinan yang baik , proses yang mampu menghasilkan pemimpin dalam mengelola organisasi dan menjadikan budaya organisasi sebagai cara untuk menjaga keberlangsungan organisasi. Sudahkan kita berada pada organisasi yang memiliki proses pengelolaan pergantian kepemimpinan yang baik dan sesuai dengan kebutuhan organisasi?. Semoga sudah!        

VIDEO PILIHAN