Mohon tunggu...
Sundari Yanto
Sundari Yanto Mohon Tunggu... -

Saya berpikir dan kemudian menulis, tulisan saya memang belum baik diakui, saya kerja diswasta, sekolah di madiun lahir di makasar sampai SD

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Sutioso Mengkritik Ahok dan Jokowi Menuai Cacian

18 November 2012   08:20 Diperbarui: 24 Juni 2015   21:08 1116 2 9
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

99% Komentator dari 405 koment melakukan pembelaan luar biasa pada Ahok saat Sutioso mengkritik gaya kepemimpinan Ahok yang katanya keras pada bawahan. Ada yang berkomentar, " biasa mantan atasan koruptor membela koruptor, dari dulu khan orangnya itu-itu aja". Ada lagi yang mengatakan , " yos, yos kowe kok masih ngebacot kaki tinggal selangkah lagi ke kuburan masih mengkritik".

Pembelaan spontan dari masyarakat mengomentari kritikan Sutioso sebagai mantan Gubernur DKI selama 10 tahun. Komentator bahkan tanpa memegang asas perseption of innoncent atau asas praduga tidak bersalah telah menetapkan Sutioso sebagai koruptor besar yang bertanggungjawab terhadap kerusakan jakarta selama ini, Sutioso dilabel oleh mereka sebagai The bigger Koruptor untuk Jakarta. Justru sebaliknya Ahok mendapat pujian dari komentator, mereka mengatakan bahwa apa yang dilakukan Ahok sudah termasuk kategori sangat halus, mereka berpendapat bahwa warisan koruptor itu tidak patut untuk diberitahu secara halus tapi harus lebih keras lagi agar mereka mengerti bahwa pemborosaan anggaran yang disengaja akan mengakibatkan adanya peluang untuk mendapatkan sesuatu dari proyek.

Ahok dinilai telah memberikan pelajaran berharga bagi masyarakat Indonesia khususnya Jakrta yang pertama secara transparan dan akuntabel dalam pengelolaan anggaran. Langakh Ahok alias Basuki Cahya Purnama jelas menuju pada anggaran pro rakyat dan pro pembangunan. Komentator tak segan segan mengatakan akan melindungi Ahok sebagai aset yang sangat berharga bagi bangsa ini, aset luar biasa bagi Jakarta.

Sutioso hari ini kembali mengutarakan pendapatnya akan blusukan yang dilakukan oleh Jokowi, menurut Sutioso sudah cukup Blusukan yang dilakukan oleh Jokowi, sudah saatnya untuk merapatkan staff dalam mengelola jakarta. Kembali pula Makian dan Cercaan bukan pada Jokowi tapi Komentator menujukannya pada Sutioso mantan Gubernur 10 tahun itu. salah satu komentator mengatakan, " Jokowi baru satu bulan menjadi Gubernur, tapi yang dilakukannya sudah sama dengan Sutioso yang menjadi gubernur 10 tahun". bahkan ada komentator yang langsung menyerang pribadi Sutioso, dengan mengatakan" Sutioso adalah biang kehancuran jakarta selama sutioso menjabat dua periode, banjir, macet dan kesemrautan". Ratusan komentator kembali membela Jokowi agar Jokowi jangan terpengaruh dengan bandot tua itu yang hanya mementingkan diri sendiri dan kelompoknya, memang sangat berbeda dengan Jokowi yang dimana-mana kehadirannya dinantikan oleh masyarakat apalagi ibu-ibu dan anak-anak karna ibu-ibu dan anak-anak peka terhadap kepura-puraan seseorang, terhadap Jokowi mereka tidak menemukan adanya rekayasa pencitraan dan kepura-puraan itu. Sebaliknya Sutioso mendapat kecaman lagi ratusan komentator menyalahkan dia selama ini menjadi Gubernur, korupsi dan tatakelola jakarta ini adalah warisannya, kecaman bukan hanya pada kinerja Sutioso tapi juga menyangkut pribadi dan keluarganya.

Sutioso tidak pernah belajar dari tokoh sekelah Amin Rais ketika itu sebelum Jokowi menjabat sebagai Gubernur DKI, Amin rais menyatakan bahwa Walikota Solo yang menjadi kandidiat Walikota terbaik dunia adalah salah, menurut Amin Rais pencitraan Jokowi membodohi masyarakat Jokowi bukanlah kandidat Walikota terbaik dunia. Pernyataan Amin Rais ini direlease di Kompas.com, spontan masyrakat bukan hanya dari solo tetapi seluruh rakyat Indonesia mengecam dan mencaci maki Amin rais, tercatat 16.000 komentator kala itu menyerang tokoh sepopuler Amin Rais semuanya mengkoreksi pernyataan Amin Rais bahkan beberapa komentator menyerang eksistensi dan kredibilitas Amin sebagai salah satu tokoh reformasi yang seharusnya mendorong generasi muda malah membuat sensasi, Amin Rais dituduh sebagai seorang yang tidak mendukung Jokowi karna kedekatannya dengan Foke. Kesimpulannya habislah Amin Rais dimedia itu, sebalikinya Jokowi mendapat pujian dan dukungan luar biasa dari masyarakat, mereka menaruh harapan dan tumpuan pada tokoh ini agar tidak patah arang dengan serangan Amin Rais, dari 16.000 Komentator 98 % mendukung Jokowi sisanya adalah pendukung Amin rais. Pertanyaannya apakah Sutioso tidak belajar dari kejadian yang dialami oleh Amin Rais?

Saat ini Rakyat sangat menaruh harapan pada kedua sosok pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jokowi dan Ahok, keduanya terbukti sesuai dengan apa yang dikatakannya saat kampanye bahwa Jokowi akan turun langsung kelapangan dengan speed tinggi terbukti dilakukannya banyak permasalahan dijakarta yang telah dipetakan oleh Jokowi. Begitu juga dengan Ahok ditugaskan oleh Gubernur untuk mengelola anggaran secara transparan dan diakui oleh masyarakat bahkan di upload di Youtube sebagai pertanggungjawawabannya, kalau tiba-tiba tokoh politik, elite tidak menyukai keduanya tentu akan dikatakan mereka yang memang pro status quo , pro pada situasi koruptis, pro pada anggaran yang tertutup, pro pada mark up dan pro pada elitisme.

Keduanya adalah harapan publik JOKOWI dan AHOK semoga elite belajar dari pengalaman yang dialami oleh Sutioso yang tidak pernah belajar dari apa yang dialami oleh Amin Rais, bahwa melawan keinginan masyarakat sama saja melawan massa, saat ini JOKOWI dan AHOK adalah gambaran keinginan Rakyat jangan menggangunya dan jangan mengkritiknya serta menghancurkannya akan berhadapan dengan Rakyat Indonesia.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan