Mohon tunggu...
Sunan Amiruddin D Falah
Sunan Amiruddin D Falah Mohon Tunggu... Administrasi - Staf Administrasi

Observator fenomena sosial dan interaksi sosial digital dalam perspektif neologisme

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Hanya Ada Tiga Kata: Lawan TikTok Shop!

26 September 2023   16:17 Diperbarui: 26 September 2023   16:25 63
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber gambar : Illustrasi e-commerce (MONEY.KOMPAS.COM/SHUTTERSTOCK)

Peringatan

Jika para pedagang luring pergi
Ketika harga jual murah produk daring mewabah
Kalian pembeli harus berhati-hati
Sebab barangkali konsumerisme bagi para konsumen merendah

Kalau para pedagang luring bangkrut
Mereka akan berbisik setengah berisik
Toko-toko yang disewa banyak yang tutup
Siap-siap pasar mati merajalela

Bila pedagang mulai mengeluh dan mengkritisi
Itu artinya sudah tak bisa lagi bersabar
Dan bila para influencer dan artis turun gunung ikut berjualan dengan kreasi
Tidak dapat dibantah para pedagang pasar terancam bubar 

Apabila permintaan ditolak tanpa empati
Ruang kompetisi sakit tak dibatasi
Dituduh lemah, tak bermotivasi dan mengganggu aktivitas ekonomi
Maka hanya ada tiga kata: lawan TikTok Shop

Puisi di atas bukan puisi 'Peringatan' populer karya Wiji Thukul yang terkenal dengan penggalan kalimatnya "Maka hanya ada satu kata: lawan!". Tetapi puisi tersebut merupakan adopsi dari bait-bait puisi 'Peringatan' karya Wiji Thukul. 

Dalam puisi adopsi 'peringatan' memiliki makna mengenai keresahan dan kritisi para pedagang luring yang jika tidak dianggap dan tidak didengarkan serta tidak diberikan empati untuk keberlangsungan ekonomi mereka, bagian urat nadi kehidupan perekonomian yang selama puluhan tahun sudah berjalan akan terputus.  

Lewat puisi adopsi ini ingin disuarakan ketidakadilan yang dilakukan regulasi terhadap para pedagang pasar (luring). Dalam puisi tersebut juga ada campur tangan tokoh yang dinilai tidak sebanding dan seimbang jika disandingkan dengan para pemasar yang bisa dibilang masih konvensional.

Karenanya, bila regulasi bagi media sosial yang sekaligus merangkap e-commerce yang katanya akan diperketat, ternyata tidak mengubah biang kerok yang menjadi tumbangnya para pedagang luring atau pasar-pasar, hanya ada tiga kata: lawan TikTop shop! Apa yang dilawan?

Jika merujuk berbagai informasi daring, yang menjadi fokus perlawanan bagi para pedagang luring adalah biang keroknya. 3 Kecenderungan yang menjadi biang kerok adalah harga jual yang murah bahkan seringkali tidak masuk akal, jualan live dengan promo yang juga tak masuk akal, lalu jualan live dengan host streamer influencer atau artis ternama. 

Sehingga perlawanan yang perlu dilakukan adalah dengan meminta tiga hal terkait kecenderungan ketiga biang keroknya. Pertama, meminta harga jual ditanggulangi awal dengan pembatasan barang impor dan wajib kena pajak. Kedua, meminta regulasi promo jualan live jangan lagi menggunakan strategi bakar uang dengan memberikan banyak promo diskon dalam satu transaksi. Ketiga, jualan live yang menggunakan host streamer influencer atau artis ternama harus memiliki lisensi atau ijin berjualan sebagai regulasinya, serta memiliki batasan waktu dalam berjualan live.     

Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun