Mohon tunggu...
Sunan Amiruddin D Falah
Sunan Amiruddin D Falah Mohon Tunggu... Administrasi - Staf Administrasi

Saat tapak tilas bukan lagi sekadar jejak kaki. Kala gading gajah dan belang harimau mulai punah. Ketika ilusi dirasa nyata. Di sanalah indra menangkap informasi yang diolah bersama akalbudi, lalu dengan memaksimalkan kemampuan nalar, naluri dan nurani, bergegas bersama menciptakan argumentasi sehat, cerdas dan berdaya pikir kritis

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Transformasi Aji Mumpung Lewat Aset Privilese di Dunia Digital

13 Maret 2023   19:02 Diperbarui: 13 Maret 2023   19:09 161
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber gambar : pophariini.com

Apa musik yang ingin kamu dengar hari ini? Orang bisa menjawab pertanyaan ini dari berbagai sudut pandang. Barangkali sebagian besar orang akan menjawab Musik Hari Ini sesuai dengan selera musik masing-masing saja; seperti Jazz, Blues, Pop, Rock, Metal,Dangdut, Reggae, Ska, Hiphop, Rap, Tradisional, Funk, Country, Klasik dan lainnya. 

Sebagian yang lain akan menjawab Musik Hari Ini berdasar suasana hati; sedih, kecewa, patah hati, marah, kesal, benci, dendam, riang, gembira, euforia, melankolis, jatuh cinta, energik atau lainnya. Penggambaran suasana hati yang terkait erat dengan jenis musik yang didengar oleh seseorang juga mengungkapkan bahwa musik dapat merepresentasikan dinamika kehidupan berideologi, berpolitik, berekonomi, bersosial dan berbudaya.

Sebut saja bagaimana Koes Bersaudara pernah dicekal oleh Presiden Soekarno karena dianggap membawa budaya barat ke Indonesia melalui musik. Ketika itu akhirnya personel Koes Bersaudara dipenjarakan tanpa proses pengadilan setelah membawakan lagu-lagu The Beatles dan Elvis Presley. Lalu ada musisi Iwan Fals, Slank, Elpamas dan Superman is Dead yang pernah sempat kena cekal lantaran lagu-lagunya berisi tentang kritik sosial atau politik. 

Di jalur ideologi dan politik, pernah ada sebuah lagu berjudul 'genjer-genjer' yang dikarang oleh seorang musisi yang terinspirasi dari kondisi sosial ekonomi suatu wilayah di zaman penjajahan yang masyarakatnya ketika itu mengolah daun genjer di sekitaran sungai sebagai bahan makan. Lagu tersebut kemudian dicekal karena dianggap sebagai lagu yang melawan ideologi dan politik bangsa Indonesia. 

Dalam kehidupan ekonomi dan sosial sekarang, setiap orang dapat memainkan dan menampilkan jenis musik dan lagu apa pun sekehendak hati. Semua teknologi pendukung dan media yang tersedia semakin memudahkan setiap orang untuk melakukannya. Dunia digital seolah tidak memiliki aturan. Orang yang berinteraksi di dalamnya tidak lagi peduli dengan etika, tata krama, adab,moral atau nilai positif lainnya. 

Sehingga secara otomatis pula konten-konten yang dibuat tidak mengindahkan semua nilai itu. Ketidakpedulian mereka semakin dipertontonkan ketika terindikasi bahwa bagi mereka apa yang ditunjukkan adalah bagian dari privilese yang dimiliki (aset). Salah satu contoh adalah mempertontonkan kekayaan atau harta milik. Pamer Kekayaan bagi mereka merupakan hak istimewa yang seharusnya ditunjukkan kepada orang lain. Sebuah aset privilese yang dikemas ke dalam digitalisasi konten, yang ujung-ujungnya unjuk kekuasan atau cari cuan. 

Digitalisasi konten yang sekarang membanjiri berbagai platform media sosial dan terus membombardir dunia digital telah menjadi media besar bagi para pemilik privilese untuk menggunakan hak istimewanya. Boleh dibilang privilese telah dijadikan aset aji mumpung baik dari aspek identitas sang pemilik privilese maupun kontennya. Sebab dengan mendigitalisasi konten dalam konteks hak istimewa yang dimilikinya, nama mereka menjadi semakin popular dan pundi-pundi cuan semakin membengkak.  

Mumpung kaya, mumpung kuasa, mumpung popular, dan mumpung lainnya terbukti ampuh ketika bertransformasi ke dunia digital. Mumpung ada kesempatan. Tengok saja nama-nama yang melenggang di dunia digital dalam meraih pengikut dan penonton serta mendapatkan cuan! Banyak dari mereka adalah orang-orang yang sudah memiliki popularitas, kekayaan, kekuasaan atau lainnya, jauh sebelum dunia digital menjadi tempat paling seksi di muka bumi dalam mencari peruntungan atau keuntungan. 

Maka Pamer Kekayaan di media sosial menjadi salah satu bentuk Musik Privilese digitalisasi konten yang dinyanyikan oleh para pemilik hak istimewa dalam melebarkan sayap popularitas, kekayaan, kekuasaan atau lainnya. Tetapi omong-omong, apakah ada musik atau lagu yang merepreresentasikan cara mereka bermusik?

Coba  dengar dan perhatikan lirik lagu "Aji Mumpung" karya Guruh Sukarno Putra yang sempat hit di era 80-an! Iwan Fals bersama Ubay Nidji merilis ulang lagu tersebut pada Februari 2020. Kata Iwan Fals, "Aji mumpung karya mas Guruh diolah kembali oleh Oni dan Ariel Nidji. Lagu lama, cerita lama, tetapi kekinian. Aji mumpung cenderung negatif. Padahal aji mumpung itu seperti pisau, bisa baik bisa tidak" 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun