Mohon tunggu...
Sunan Amiruddin D Falah
Sunan Amiruddin D Falah Mohon Tunggu... Administrasi - Staf Administrasi

NEOLOGISME

Selanjutnya

Tutup

Nature Artikel Utama

Cuaca Ekstrem Akhir Tahun dan Pengalaman 2020, Perhatikan Ini Sebelum Pergi Berlibur!

28 Desember 2022   19:22 Diperbarui: 29 Desember 2022   21:59 423
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Freepik/Kireyonok_Yuliya

Curah hujan pada 1 Januari 2020 di sekitar Jakarta, menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), termasuk yang paling terekstrem dan tertinggi sejak 154 tahun lalu. Banjir yang dipicu hujan yang tak kunjung berhenti telah menenggelamkan sebagian besar kota Jakarta dan kota-kota di sekitarnya.

Jakarta nyaris lumpuh, krisis air bersih, listrik dan mobilitas. Lebih tragis, banjir tak hanya menyebabkan banyak warga harus mengungsi, tapi juga menelan korban jiwa.

"Dari data yang berhasil dihimpun oleh BNPB dari berbagai sumber, menemukan ada 9 korban meninggal dunia karena bencana banjir dan tanah longsor", kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi BNPB, Agus Wibowo.

Fakta dan data di awal tahun 2020 menunjukkan bahwa prediksi cuaca ekstrem akhir tahun  oleh BMKG jelang tahun baru 2023 patut diwaspadai dan perlu persiapan melakukan pencegahan dari segala sesuatu yang tidak diinginkan. Minimal persiapan pencegahan pada rumah dan keluarga sendiri.

Pengalaman saya ketika di akhir tahun 2019, pergi meninggalkan rumah tanpa melakukan persiapan pencegahan yang maksimal, kerugian materi menimpa keluarga kecil kami.

Saat itu, sekira tiga hari sebelum tahun baru kami meninggalkan rumah peninggalan orang tua yang kami tempati di Jakarta. Tujuan kami adalah berlibur akhir tahun di Parung Bogor.

Wilayah tempat tinggal kami di Jakarta merupakan area rutin yang disinggahi genangan air atau banjir. Terutama saat musim penghujan tiba. Kadang tanpa adanya hujan turun pun, air bisa tiba-tiba sudah menjulur-julur di depan pintu rumah kami, hendak bertamu. Air kiriman katanya.

Rutinitas banjir yang mendatangi rumah kami sebenarnya selalu bisa diprediksi ketinggiannya, jika tidak setinggi betis paling banter sebatas dengkul.

Baca juga: Sosialaba

Oleh karenanya, kami rutin mempersiapkan pencegahan segala kemungkinan yang bisa terjadi saat kedatangan air di ketinggian itu. Dan strategi pencegahan kami selalu berhasil. Tetapi di tahun baru 1 Januari 2020, gagal total.

Di pagi buta di awal tahun 2020 itu, kami menerima kabar lewat telepon, informasinya, air di jalan depan rumah kami sudah setinggi betis. Tiga jam kemudian tinggi air sudah di ujung paha.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Nature Selengkapnya
Lihat Nature Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun