Ummi Azzura Wijana
Ummi Azzura Wijana Penulis

perempuan, pendidik, music freak

Selanjutnya

Tutup

Ceritaramlan Pilihan

"Golek Apem", "Genduren Riyaya", dan "Nyekar", Tradisi Jelang Lebaran yang Mulai Hilang

13 Juni 2018   22:47 Diperbarui: 13 Juni 2018   23:08 433 1 0
"Golek Apem", "Genduren Riyaya", dan "Nyekar", Tradisi Jelang Lebaran yang Mulai Hilang
Ilustrasi. sangnanang.com

Hari ini Ramadhan dalam detik-detik akhir menuju kemenangan di hari lebaran. Dalam waktu 24 jam ramadhan pulang untuk kembali tahun depan. Waktu yang sempit ini benar-benar dimanfaatkan dengan baik. Ibadah dilaksanakan sepenuh hati mengharap ridho illahi.

Kebanyakan para pemudik sudah berada di kampung halaman bersama keluarga, termasuk saya. Saya telah dua hari menikmati suasana kampung tempat di mana saya dilahirkan, Semanu, Gunungkidul, DIY. Menata kembali kenangan-kenangan yang berserakan dalam pikiran saya.

Mainan sewaktu kecil saat pagi, sore, hingga malam di bulan ramadhan. Kegiatan-kegiatan yang tercatat jelas dalam memori kepala. Hingga saat ini mulai diingat-ingat kembali. Hingga muncul banyak pertanyaan, mengapa banyak kegiatan pada saat itu yang kemudian menarik saya bincangkan kembali bersama orang tua saya.

Budaya "Golek Apem"

Dalam artikel saya terdahulu pernah saya ceritakan tentang budaya "Golek Apem". Anak-anak kecil beramai-ramai mendatangi rumah-rumah untuk minta makanan kue apem. Ternyata kue apem memiliki makna filosofis yang dalam yang tak pernah terpikir sebelumnya.

okezone.com
okezone.com

Apem berasal dari bahasa arab afwan atau afuan yang artinya permintaan maaf. Selama ini orang berpikir bahwa membuat kue apem sekadar tradisi turun temurun yang diwariskan oleh pendahulu. Ternyata memiliki substansi pesan moral yang mendasar.

Dengan simbol kue apem menjelaskan bahwa sebagai manusia harus saling memaafkan. Memberikan maaf atas permintaan maaf orang lain dan meminta maaf atas kesalahan yang dilakukan.

Kemudian kenapa kue apem muncul saat sehari menjelang lebaran? Sudah dipastikan hal ini merupakan pembelajaran tentang kemenangan di bulan ramadhan yang dicapai pada hari raya Idul Fitri, hari lebaran. Di mana semua orang saling bermaaf-maafan atas segala kesalahan yang disengaja maupun tidak disengaja.

Sedekah "Genduren Riyaya"

Saat itu pula, habis maghrib hari terakhir ramadhan, biasanya setiap rumah mengadakan "genduren riyaya". Bentuk sedekahan makanan yang dihadiri tetangga terdekat dan didoakan oleh tetua atau sesepuh atau sering disebut dengan "Mbah Kaum". Kemudian makanan tersebut dibagikan kepada sanak saudara dan tetangga.

cookpad.com
cookpad.com

Dalam kegiatan "genduren riyaya" ini, setiap kepala keluarga membuat tumpengan nasi dan lauk beraneka macam namun sederhana. Tumpeng yang disediakan berupa nasi putih yang dibentuk kerucut, sejumlah anggota keluarga. Hal ini dimaksudkan sebagai rasa syukur seluruh anggota keluarga yang telah selesai menjalankan ibadah puasa.

Tumpeng yang dalam sejarahnya merupakan akulturasi budaya Hindu Jawa hingga pada Islam jawa. Tumpeng merupakan akronim dalam bahasa Jawa, yakni yen metu kudu sing mempeng (kalau keluar harus sungguh-sungguh). Artinya segala sesuatu yang dilakukan harus dilaksanakan dengan sungguh tidak ada kata ragu sedikitpun. Bentuknya yang kerucut diartikan sebagai harapan agar hidup selalu sejahtera. Seperti kemenangan yang diraih di hari raya Idulfitri. Harus sungguh-sungguh dirayakan dengan penuh rasa syukur tanpa berlebihan agar hidup sejahtera.

Lauk yang disertakan dalam tumpeng tersebut juga sangat sederhana. Tanpa ayam atau telur yang bisa dibilang termasuk makanan mewah. Makanan tambahan ini biasanya berjumlah tujuh macam. Tujuh di dalam bahasa jawa penyebutannya adalah "pitu" yang berarti "pitulungan". Yaitu pertolongan dari Allah SWT. Dapat dimaknai bahwa setiap perbuatan yang dilakukan oleh manusia tidak akan tercapati tanpa campur tangan pertolongan Tuhan, Allah SWT.

Dalam tumpeng tersebut hanya terdiri dari urap sayuran yang diletakkan di antara tumpeng nasi tersebut. Bumbu urap berarti "urip" atau hidup atau mampu menghidupi (menafkahi) keluarga. Memberi makna berupa harapan yang besar supaya anggota keluarga dapat menghidupi dan dapat dihidupi dengan baik. Dengan rejeki yang halalan thoyibah.

Sebagai makanan penyerta, namun wajib, berupa sayur kluweh dan kacang panjang yang diikat dimasak rebus atau tumis. Kacang panjang dapat diartikan sebagai pemikiran yang jauh ke depan. Kluwih berarti linuwih atau mempunyai kelebihan dibanding lainnya. Dimaknai bahwa manusia harus memiliki visi yang jauh ke depan.

Makanan lain adalah Peyek teri. Peyek teri yang disertakan dalam "genduren riyaya" tersebut adalah simbol. Ikan teri selalu hidup bergerombol. Hal ini memiliki makna filosofi contoh dari kebersamaan dan kerukunan. Diharapkan setiap ummat muslim tidak terpecah belah namun bisa hidup rukun dan damai.

Makanan tambahan lain yaitu kerupuk, tempe goreng, kedelai goreng, dan mi goreng. Tentu saja yang tidak boleh ketinggalan adalah kue apem. Kue apem yang memiliki makna memaafkan seperti yang diungkapkan di muka.

Dengan penyajian makanan yang sederhana tersebut memberikan makna kesederhanaan yang luar biasa. Bentuk syukur yang tak harus dimaknai dengan hal-hal yang berlebihan. Seperti dalam menyambut lebaran, di mana pada intinya adalah merayakan kemenangan dengan rasa syukur dan saling memaafkan.

"Nyekar" ke Makam

Satu lagi kegiatan yang dilaksanakan jelang lebaran adalah "nyekar". Yaitu ziarah kubur ke makam leluhur, anggota keluarga yang telah meninggal mendahului kita. Ziarah ini diajarkan untuk mendoakan mereka yang telah tiada. Bagi kita yang masih hidup sebagai bentuk pengingat, bahwa setelah dunia akan ada akhirat. Setelah hidup aka nada kematian.

Di sana dapat memertebal keimanan karena mengingatkan akan mati. Bahwa apa yang pernah menginjak tanah suatu saat akan berada di bawah tanah. Atau dengan kata lain akan dikubur dalam tanah sebagai mayat tak bernyawa lagi.

Nyekar ini pula dapat menjadikan seseorang menjadi lebih rendah hati dan tidak sombong dengan keberadaannya sekarang. Sekuat dan sehebat apapun seseorang suatu saat dia akan kembali ke haribaan sang pencipta tanpa membawa apapun seperti saat bayi dilahirkan ke dunia tanpa sehelai benangpun.

Sungguh nyekar ini memberikan pemelajaran yang luar biasa bagi sesiapa yang sungguh-sungguh melakukannya. Terpenting, dalam "nyekar" tidak melakukan hal-hal yang bersifat syirik hingga menyekutukan Allah SWT. Misalnya dengan minta doa kepada orang yang sudah meninggal bukan pada Allah SWT.

Sebagai catatan akhir dapat diambil hikmah bahwa tradisi Jawa yang kini kian menghilang memiliki makan filosofis yang dalam. Namun seiring perkembangan zaman kian hilang ditelan peradaban yang dikatakan kian maju melesat ke depan. Sayang sekali, budaya "golek apem" dan "genduren riyaya" ini sudah hilang. Jikapun masih ada hanya sebagian kecil masyarakat yang melakukannya. 

Sedangkan "nyekar" masih banyak yang melakukannya. Namun kebanyakan hanya dilakukan oleh orang-orang dewasa. Belum diikuti oleh anak muda dan anak-anak yang seharusnya diikutsertakan sebagai bentuk pelajaran hidup. Wallahu'alam bisawab.

-Ummi Azzura Wijana-