Sumbadi Sastra Alam
Sumbadi Sastra Alam

santri manula di pondok pesaantren Al-Ishlah Bobos Dukupuntang. Pengurus Lembaga Bahasa lan sastra Cirebon (LBSC) dan Lembaga Kebudayaan Cirebon

Selanjutnya

Tutup

Sosial Budaya

Topeng Palimanan Cerbon; Dari Babakdeng Sampai Babakbelur

27 Juli 2012   00:32 Diperbarui: 25 Juni 2015   02:34 196 0 0

Topeng Palimanan Cerbon; Dari BabakdengSampai Babakbelur

Oleh : Sumbadi Sastra Alam

Pengurus Lembaga Bahasa Lan Sastra Cerbon (LBSC)

Nenekberusia 75 tahunbegitu kokoh menancapkan kuda-kuda kakinya di atas panggung papan di depan rumahnya. Meski digerogoti usia yang renta, tubuh Mimi Tursini- penerus sekaligus pewaris maestro tari topeng Palimanan Mimi Sudji (almarhumah) – tak bergeming. Tubuhnya nampak tangguhmenari tarian topeng Panji khas Palimanan Cirebon. Sesekali dengan penuh kehati-hatian ia gerakkan tangan dan kepalanya sambil ditimpali hiruk pikuk tetabuhan gamelan.

Wajahnya yang keriput kentara saat tertimpa cahaya neon yang terpasang di atas panggung sederhana. Namun sekejap berubah rona raut mukanya saat Mimi Tursini mengenakan kedok topeng Panji. Wajah topeng yang cat putih itu menyatu dengan gerak tubuhnya yang bersahaja. Mimi Tursini piawai menyuguhkan tari topeng Panji seperti sosok manusia yang penuh bijak.Kepiawaian Mimi Tursini menarikan topeng Panji sehebat maestro penari topeng Palimanan almarhumah Mimi Sudji. Gelar maestro topeng Palimanan selayaknya disandang Mimi Tursini selaku pewaris maestro topeng almarhumah Mimi Sudji.

Namun Mimi Tursini tak pernah tersentuh perhatian pihak berwenang. Sebagai pewaris sah topeng Palimanan dari keturunan asli almarhumah Mimi Sudji , tak pernah mendapat bantuan apapun dari pemerintah daerah setempat. Padahal perjuangannya mempertahankan keberadaan topeng Palimanan yang hingga kini tetap ada, Mimi Tursini melangkah melalui perjalanan yang panjang dan tak pernah terhenti hingga usianya senja.

“Sejak usia 12 tahun, sekitartahun 1950 an, saya diajak ibunda Sudji keliling bebarang atau mengamen dari kampung ke kampung hingga menyeberang kabupaten lain menjadi penari topeng Palimanan. Sebagai penari kecil saat itu bebarang bukan semata untuk mengais uang, tapi lebih penting menggodok diri hingga matang kepiawaian saya dalam menari di depan penonton. Itulah perjalanan hidup topeng palimanan yang disebut “babakdeng”. Yakni perjalanan mengamen menari topeng satu babak dibayar satu gedeng padi,” tutur Mimi Tursini ketika ditemui di sanggar tari Sujdi Mekar Harum yang sekaligus di rumah kediamannya di sebuah gang sempit di kampung gempol Palimanan Kabupaten Cirebon.

Kini untuk melestarikan secara nyata, Ibu Tursini mendirikan sanggar Suji Mekar Harum. Muridnya sekitar 20 anak yang masih sekolah di sekolah dasar. Meski sanggarnya sendiri sebenarnya bukan tempat yang layak, namun Mimi Tursini tak pernah lelahmepertahankan keberadaan Tari Topeng Palimanan, tanpa bantuan atau perhatian pemerintah daerah. Bahkan untuk tetap pertahan hidup dan menjaga agar topeng Palimanan tidak punah tertelan jaman, Mimi Tursini harus rela menanggung ekonomi keluarga yangbabak belur. Himpitan ekonomi dalam usianya yang kain rapuh terus mencekik kebutuhan hidup keluarganya.

Mimi Tursini tak bergeming dalam kenestapaan sebagai pewaris topeng Palimanan. Ia tetap setia melanjutkan pewarisan topeng Palimanan yang pernah dikibarkan hingga mancanengara oleh ibundanya almarhumah.Ibu Sudji.Bahkan sampai saat ini yang masih menjalin silaturahmi dan mengakui tari topeng Palimanan dan pernah menjadi murid Mimi Sudji (almarhumah) yakni penari kontemporer Indonesia bernama Didik Ninik Towok. “ Mimi Tursini benar adalah anak Mimi Sudji, dan satu perguruan dengansaya belajar menari topeng Palimanan sama mimi Sudji. Karena itu sebagai ungkapan hormat saya kepadasalah satu guru tari saya, setiap tahun saya meluangkan waktu bersilaturahmi dengan putrid mimi Sudji yakni Mimi Tursini,” ujar Didik Ninik Towok ketika ditemui saat silaturahmi di sanggar Mimi Tursini.

Mimi Tursini masih punya kebanggan tersendiri. Selain mewarisi keahlian menari topeng Palimanan dari Ibu Sudji (almarhumah), juga masih menyimpan perlengkapan tari topeng Palimamanan yang pernah dipakai Mimi Sudji yakni sobra, kedok Klana dan rumyang.

Meski ekonomi keluarganya babak belur, mimi Tursini tak pernah mau beranjak meninggalkan profesinya saat ini sebagai pelatih tari topeng Palimanan, baik melatih disanggarnya maupun ke tempat-tempat lain walau tak mendapat imbalan yang layak. Hanya yang tersisa harapan mimiTursini saat ini yakni mendapat sedikit perhatian pemerintah terhadap sanggar tari yang didirikannya, semata demi kelestarian seni tari topeng palimanan yang nyaris punah.@