Mohon tunggu...
Sulthon Abdul Aziz
Sulthon Abdul Aziz Mohon Tunggu... Volunter Wonderhome Library

Penulis amatir

Selanjutnya

Tutup

Transportasi Pilihan

Yang Biasa Jadi Istimewa, Hanya JNE yang Bisa

27 Desember 2020   23:50 Diperbarui: 28 Desember 2020   01:12 315 0 0 Mohon Tunggu...

Aku adalah salah satu generasi milenial yang berdomisili di Kabupaten Bantul, D.I. Yogyakarta. Selain sebagai asisten dosen sebuah universitas swasta di Yogyakarta, keseharianku seringkali kuisi dengan kegiatan sosial bersama kawan-kawan komunitas literasi.

Juga bercengkerama bersama teman-teman di kampung halaman menjadi salah satu kesibukanku. Bukan kesibukan sih, tapi untuk bernostalgia di tengah situasi 'gabut' akibat pandemi. Hehe.

Aktivitas menulis sebenarnya bukanlah hobi utamaku. Namun aku selalu berusaha untuk bisa menuangkan segala pikiran yang acapkali membesit di kepalaku, tentunya selain tugas menulis ala kampus. Dan semua itu butuh paksaan yang luar biasa keras. Paksaan yang berasal dari diri sendiri.

Terlebih setiap kali ada even atau kompetisi menulis, aku selalu menyempatkan waktu untuk berpartisipasi. Untuk berharap hadiah, tentu. Tapi sebenarnya lebih dari itu, tujuanku adalah untuk berbagi pengalaman yang mudah-mudahan dapat menjadi inspirasi untuk yang lainnya.

Setiap kali ada kompetisi menulis, aku segera membuat outline. Aku buat catatan secara umum, meskipun belum tentu berhasil sampai  selesai dan terkumpulkan. Yang jelas, hasil karyaku yang telah aku kumpulkan untuk kompetisi, selama ini  belum ada yang pernah berhasil menjadi juara.

Demikian pula kompetisi menulis kompasiana yang disponsori oleh JNE ini, aku langsung membuat outline yang sesuai dengan pengalamanku. Mungkin aku termasuk yang terlambat untuk mengetahui informasi lomba menulis 'JNE 3 Dekade Bahagia Bersama' ini. Karena saat itu aku tengah fokus membuka-buka website untuk mencari beasiswa kuliah S-3. Ya beasiswa, karena tampaknya aku tidak akan bisa S-3 tanpa bantuan beasiswa. Namun di tengah online ku, tak sengaja aku membaca pengumuman akan adanya lomba menulis ini.

Setelah melihat kompetisi menulis bersama JNE di laman kompasiana, aku serta merta berharap semoga ia dapat menjadi jalanku. Jalanku untuk mengumpulkan biaya demi meraih cita-cita. Aku semakin yakin untuk ikut berpartisipasi setelah melihat tema yang diusung, yakni 'Berbagi Kebahagiaan' yang bagiku sesuai dengan pengalamanku bersama JNE.

Salah satu usahaku untuk memenuhi kebutuhan biaya kuliahku adalah dengan berjualan barang elektronik bekas. Aku memutuskan berjualan dengan marketplace dengan maksud efisiensi waktu di samping tugas-tugas kuliah S-2 ku. Saat itu, tepatnya tahun 2019, aku memiliki beberapa barang elektronik bekas, di antaranya adalah kamera saku. Aku lupa merknya, tapi kamera warna putih itu masih dalam kondisi 100 persen normal. Semua fiturnya, termasuk foto dan video masih berfungsi dengan baik. Kamera itu aku banderol dengan harga murah, sangat murah, tidak sampai 100 ribu. Karena aku ingin segera terjual.

Benar saja, sekitar 2 hari kemudian ada yang bertanya-tanya tentang kamera sakuku ini. Setelah bernegosiasi, aku memutuskan untuk menjualnya sesuai harga yang disepakati, yakni 70 ribu. Harga yang sangat murah bukan?

Dengan harga segitu, aku berpesan kepadanya untuk menggunakan sebuah jasa kirim yang dekat dengan rumahku. Setidaknya aku tidak perlu jauh-jauh keluar untuk mengirimkannya melalui jasa kirim. Kebetulan beberapa jasa kirim yang dekat dengan rumahku tidak satupun ada nama JNE. Karena ukuran dekat yang aku maksud adalah hanya berjarak sekitar 2 menit perjalanan motor. Cukup keluar desa saja, aku langsung dapat menemui kantor jasa pengiriman itu. Seingatku ada 3 jasa kurir yang membuka kantor di dekat rumahku.

Namun tak kusangka, ternyata 3 opsi kurir yang aku sampaikan kepada pembeliku tidak ditemukan di aplikasinya. Daerahnya masih merupakan wilayah terpencil. Aku lupa alamatnya, tapi yang jelas di Pulau Sumatera. Katanya, di sana belum ada jasa pengiriman yang aku sarankan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN