Mohon tunggu...
Sukmasih
Sukmasih Mohon Tunggu... Lainnya - Akun Resmi

Seorang ambivert dengan zodiak Taurus yang mempelajari ilmu komunikasi, terkadang berbagi pengetahuan tentang branding. Menulis tentang isu-isu sosial-politik dan LBQ.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Memangnya Kenapa Kalau Biseksual?

24 September 2022   07:17 Diperbarui: 25 September 2022   12:28 28 5 3
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Illustrasi overthingking yang dialami wanita biseksual (Desain: Sukmasih/dokumen pribadi)

Sebenarnya, saya juga tergelitik karena baru mengetahui bahwa 23 September diperingati sebagai Hari Visibilitas Biseksual. Entah saya yang kurang gaul, atau karena di Indonesia isu LBQ kurang mendapat fokus perhatian. Oh ya, barangkali masyarakat juga sedang tenggelam dengan kepusingan mereka tentang harga pangan yang merangkak naik karena pemerintah telah menaikkan harga BBM.

Indonesia memang terlalu banyak memiliki masalah, utamanya hal-hal yang menyangkut kesejahteraan masyarakat. Sehingga tidak heran jika isu-isu gender dan LBQ terkadang tersisihkan dan hanya dibahas ketika telah menjadi sesuatu yang viral.

Sebenarnya saya juga butuh beberapa waktu untuk mengumpulkan keberanian saat menulis tulisan ini, karena pasti ada beberapa stigma yang akan menempel pada saya jika orang-orang tertentu membaca tulisan ini. Tapi seorang dosen yang menjadi panutan saya pernah mengatakan bahwa tidak ada yang bisa membatasi pemikiran, dan hal itu mendorong saya untuk berani menulis artikel ini.

Jika saya telusuri mesin pencarian Google, artikel yang memuat tentang Visibilitas Biseksual juga sulit ditemukan. Sepertinya media pemberitaan saat ini fokus terhadap isu-isu lain seperti kenaikan harga BBM, BLT dari pemerintah yang konon katanya sedang dalam proses penyaluran, permasalahan hacker Bjorka, dan sederet isu lainnya di luar pembahasan Visibilitas Biseksual.

Hari Visibilitas Biseksual nyatanya diperingati untuk menyebarkan kesadaran dan melawan stigma, diskriminasi, penghapusan identitas mereka, dan bifobia.

Dipandang rakus hingga identitasnya dihapus

Seorang Bi memiliki ketertarikan dengan pria maupun wanita, hal ini yang membuat mereka dilabeli seorang yang 'rakus'. Padahal, jika pandangan saya pribadi, orang yang melakukan poligami bukankah juga bisa diberi label yang serupa karena konteks poligami berarti memiliki pasangan lebih dari satu?

Lantas, apakah seorang Bi juga sama seperti poligami?

Seorang Bi memang memiliki ketertarikan dengan pria maupun wanita, namun tidak pada waktu yang bersamaan. Bi akan mengalami ketertarikan romantisme dan/atau ketertarikan seksual, kemudian menjalin hubungan dengan salah satunya saja, entah si pria atau si wanita. Maka label 'rakus' kurang tepat untuk diberikan kepada seorang Bi dan hal ini menjadi salah satu stigma yang perlu dilawan oleh seorang Bi.

Permasalahan lain yang dihadapi seorang Bi ada pada diskriminasi dan juga upaya penghapusan identitas mereka. Loh gimana maksudnya?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan