Mohon tunggu...
Rai Sukmaning
Rai Sukmaning Mohon Tunggu... pelajar/mahasiswa -

Kepala dua. Tinggal di Gianyar. raisukma.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup Artikel Utama

Pernah Ngebet?

5 April 2015   20:41 Diperbarui: 12 Juli 2015   19:48 61 1 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Pernah Ngebet?
Gaya Hidup. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Rawpixel

Ingin ini, ingin itu. Merasa mesti mendapatkannya, meski tak tahu bagaimana melakukannya. Berjuang. Pupus. Lalu berpikir: sebenarnya berapa banyak keinginan saya?

Jawabannya tidak banyak. Hanya sejumlah penduduk Tiongkok. Tentang manusia urbankah ini? Tidak juga. Tapi jenis manusia yang membeli helm seharga delapan ratus ribu dengan mengorbankan sarapan paginya selama setahun.

Kota atau udik? Ini bukan soal dimana kalian tinggal. Tapi pola pikir. Oh, andai saja pikiran memang berpola, pasti pikiran saya tak seindah crop circle.

Semua orang ingin mendapat tempat duduknya sendiri-sendiri. Tak ada yang mau duduk berdempet, takut dikira minion. Semua ingin harapannya terpenuhi. Tak terbagi-bagi. Pasti. Ujung-ujungnya ngebet. Mesti dapat.

Berangkat dari optimisme. Saya bisa mendapatkan ini. Saya bisa melakukannya. Saya bisa begini. Pokoknya saya bisa. Semua tahu manusia mesti berpengharapan baik. Tapi hati-hati. Sering berabe.

Dari semangat menggebu dengan nyanyian punk sepanjang jalan, bisa berakhir sendu. Gagal? Ick. Bangkit lagi. Mencoba lagi. Gagal dengan lebih baik, seperti kata Samuel Beckett. Gagal lagi, mencoba lagi. Lalu obsesi. Seperti Black Swan.

Akankah menjadi lebih buruk lagi? Mungkin. Namanya juga ngebet. Kalau ditunda bisa meledakkan pembuluh darah. Sungguh. Tapi jangan minta saya membuktikkannya secara ilmiah.

Seorang perempuan mungkin tak mau ke mall tanpa high heel. Sementara lainnya merengek-rengek menolak memakainya. Mungkin tak akan ada yang percaya, tapi hal semacam itu juga termasuk ngebet. Maksudnya, saya yang ngebet menuliskannya. Meski jadinya sumbang, tak nyambung.

Jujur saja, saya masih ingin melanjutkan tulisan ini. Tapi ngerinya malah berakhir obsesi. Malah berpanjang-panjang. Makanya saya akhiri saja. Caranya: agar tak ngebet melanjutkan tulisan, saya juga mesti ngebet berhenti. Sederhananya: makanlah sebelum lapar. Tapi: jangan bertanya kapan tepatnya?

Oy. Sudahlah. Saya ingin ini, ingin itu. Semuanya sedang ditotal. Tidak banyak bukan?

Sampai jumpa.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Gaya Hidup Selengkapnya
Lihat Gaya Hidup Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan