Mohon tunggu...
Akhmad Sujadi
Akhmad Sujadi Mohon Tunggu... Enterpreneur

Entepreneur

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan

Olah Sampah Berkonsep 3R, PELNI Resmikan RKS Kota Bima

6 Desember 2019   09:50 Diperbarui: 6 Desember 2019   10:06 23 0 0 Mohon Tunggu...
Olah Sampah Berkonsep 3R, PELNI Resmikan RKS Kota Bima
Peresmian RKS-PELNI Bima (ft. Pelni)

Mimpi menjadikan  Laut bersih terus diwujudkan PT. PELNI (Persero)  dengan langkah-langkah nyata. Sebagai BUMN transportasi laut, tentu laut menjadi bukan hanya sabahabat, namun laut adalah prasarana kapalnya untuk berlayar mengantar orang dan atau barang ke seluruh penjuru nusantara. Untuk menjadikan laut bersih PELNI mengolah Sampah Berkonsep 3R (Reuse, Reduce, Recycle).

Setelah sukses membangun RKS di Kota Batu Licin, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, perseroan melanjutkan programnya di Kota Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) dengan membangun "RKS Melayu".  Melayu sebuah nama yang akan terus menempel karena letak RKS ada di Desa Melayu, Kota Bima.

Program ini  merupakan program bina lingkungan (BL) yang ditujukan untuk pemberdayaan masyarakat dalam mengelola sampah rumah tangga, termasuk sampah dari Kapal PELNI untuk diubah menjadi barang bernilai jual.

Dalam mewujdukan tata kelola sampah berkonsep 3R, PELNI tidak bekerja sendiri, perseroan yang berdiri 28 April 1952 ini  menggandeng Pemerintah Kota Bima yang sangat mendukung program RKS Melayu ini.

"Dalam  opersionalnya, RKS Melayu PT. PELNI (Persero)  dibina oleh lembaga non profit Generasi Muda Cerdas (GMC)  Foundation yang sebelumnya bersama PT. PELNI (Persero)  telah sukses menjalankan program yang sama di Batu Licin, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan sejak 2018," kata Yahya Kuncoro dalam siaran persnya.

Anak sekolah setelah mengolah sampah di RKS (ft. Pelni)
Anak sekolah setelah mengolah sampah di RKS (ft. Pelni)
Dalam pelayaran melayari nusantara terdapat 5 (lima)  Kapal PELNI yang singgah di Pelabuhan Bima dan rata-rata menghasilkan 12 ton sampah setiap bulannya. Dari jumlah tersebut, RSK Melayu PT. PELNI (Persero) memisahkan sampah anorganik dari sampah organik dan mampu mengelola rata-rata 6 ton sampah anorganik untuk dijadikan barang bernilai jual.

"Masyarakat binaan RKS Melayu PT. PELNI (Persero)  memanfaatkan sampah seperti botol plastik, popok bayi, sendok plastik, bungkus rokok, bahkan tutup botol. Sampah tersebut akan diubah menjadipot tanaman, meja kursi, vas bunga dan tempat sampah. Untuk pemasarannya, kita mengandalkan penjualan online maupun kunjungan langsung masyarakat yang berminat ke RKS Melayu," tambah Yahya.

RKS Melayu PT PELNI (Persero)  sendiri berdiri di atas lahan TPS milik Pemerintah Kota Bima yang sudah memiliki kemampuan 3R (reduce, reuse, recycle). Untuk mendukung kegiatannya, PT. PELNI (Persero)  melengkapi RKS Melayu dengan bangunan kerja ukuran 5 X 6m, sepeda motor bak roda 3 untuk angkutan sampah, serta 1 unit mesin untuk pengayak sampah dan 2 unit mesin pencacah sampah organik dan anorganik.

Kehadiran RKS Melayu selanjutnya akan membina sembilan TPS milik Pemkot Bima dengan bimbingan dari pegiat lingkungan asal "Kampung Inspirasi Bandung." "Kami berharap kehadiran RKS Melayu PT. PELNI (Persero)  dapat  meningkatkan kualitas hidup masyarakat sekitar, khususnya menghadirkan lingkungan yang sehat dan memiliki nilai tambah dari sampah rumah tangga yang dihasilkan," tutur Yahya.

Pemilihan Kota Bima sebagai RKS-PELNI yang kedua dilatarbelakangi beberapa pertimbangan, diantaranya;

  • Permasalahan sampah merupakan Permasalahan yang hampir tidak berkesudahan baik di tingkat Nasional maupun Internasional. Permasalahan  harus disikapi serius oleh setiap perusahaan dan daerah. Pemerintah Kota Bima adalah salah satu dari beberapa daerah yang sangat konsisten terhadap permasalahan sampah. Kota Bima  sangat kooperatif dalam mendukung program PELNI  dalam pengelolaan sampah dari kapal.
  • Dalam menyikapi masalah sampah  Kota Bima sudah membangun TPS dengan Konsep 3R (Reuse, Reduce, Recycle). Potensi ini kami tingkatkan. Melalui survai oleh Tim GMC RKS Kota Bima bisa dibangun, tanggal 5 Desember 2019 kemarin diresmikan oleh Wali Kota Bima dan Kepala DPA SMK3LH PT. PELNI Persero).
  • Kota  Bima disinggahi 8 kapal, di mana keseluruh kapalnya membawa sampah dan hingga saat ini dibuang ke TPA tanpa dikelola dengan konsep 3R,  sehingga PELNI   hendak turut serta dalam penyelesaian masalah sampah, dimana Kota Bima memiliki  program yang dapat disinkron dengan PELNI.

Dalam menangani sampah,  PELNI telah mengubah dari sebelumnya  asal membuangnya  ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) diperbaiki dengan inovasi baru, mengolah sampah dan limbah kapal menjadi barang berguna dengan konsep 3R. Sampah sisa makanan diolah menjadi pelet untuk pakan ikan. Sampah organik diolah menjadi pupuk dan sampah botol dan kardus didaur ulang menjadi barang bernilai ekonomi. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x