Akhmad Sujadi
Akhmad Sujadi Wiraswasta

Entepreneur

Selanjutnya

Tutup

Transportasi Artikel Utama

Menanti Transportasi Udara dari Bandara Wirasaba, Purbalingga

19 April 2019   21:08 Diperbarui: 20 April 2019   12:43 159 5 2
Menanti Transportasi Udara dari Bandara Wirasaba, Purbalingga
Bandara Jenderal Besar Soedirman di Wirasaba (Ft. Pemda Pbg)

Bandara Jenderal Besar Soedirman di Wirasaba, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah letaknya sangat strategis. Bandara kedua di Karesidenan Banyumas ini diharapkan dapat melayani 4 Kabupaten yang mengelilinginya, yaitu Kabupaten Purbalingga, Banyumas, Banjarnegara dan Cilacap yang telah memiliki Bandara Tunggul Wulung.

Bandara Tunggul Wulung Cilacap letak kurang strategis dibanding Bandara Jenderal Soedirman karenanya di kota Cilacap ibu kota Kabupaten Cilacap yang letaknya di pantai selatan Jawa. Bandara Tunggul Wulung lebih banyak melayani konsumen dari Pertamina, para pengusaha dan dari pemerintah pusat dan daerah yang akan dan dari ke Cilacap-Jakarta.

Bandara Tunggul Wulung letaknya jauh dari Purbalingga, Banjarnegara, Wonosobo, Purworejo dan Kebumen. Agar dapat melayani 6 kabupaten di sekitarnya, pemerintah pusat bersama Pemda Purbalingga mengembangkan Bandara militer menjadi Bandara komersial yang dalam pengoperasinya melibatkan BUMN, PT Angkasa Pura II (Persero)-AP II.

Keunggulan Bandara Soedirman yang dikelilingi 6 kabupaten menarik minat BUMN pengelola 13 Bandara di wilayah barat Indonesia ini. Karena lebih unggul dengan letaknya di tengah-tengah jantung Provinsi Jawa Tengah, sehingga AP II tertarik karena dari segi bisnis Bandara ini memiliki prospek pasar yang cukup bagus.

AP II melihat potensi penumpang dari Bandara Soedirman cukup besar karena selain dapat melayani warga di Karsidenan Banyumas, Bandara Jenderal Besar Soedirman juga dekat dengan Kabupaten Wonosobo, Kebumen, Pemalang dan Purworejo, sehingga bandara ini dapat menjangkau hampir 8 kabupaten yang melingkari bandara.

Saat ini unutk menjangkau wilayah Kabupaten Purbalingga, Banyumas, Banjarnegara, Pemalang dan Kebumen hanya dilayani kereta api, bus antar kota dan travel. Untuk ke Kabupaten Purbalingg, Banyumas dan Kebumen saat ini masyarakat dapat menggunakan transportasi KA yang memerlukan waktu tempuh antara 5 hingga 6 jam dari Jakarta.

Dirut AP II M. Awaludin memberikan paparan kepada Pemda Purbalingga (ft. Pemda Pbg)
Dirut AP II M. Awaludin memberikan paparan kepada Pemda Purbalingga (ft. Pemda Pbg)
Transportasi KA dari Jakarta hanya sampai di Stasiun Purwokerto, Kroya, Gombong, dan Kebumen. Kota Purwokerto sebagai ibukota Kabupaten Banyumas memiliki akses kereta api tujuan Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, hingga ke Malang. Demikian juga Stasiun Kroya, Gombong, dan Kebumen tidak dapat menjangkau wilayah Banjarnegara, Wonosobo, dan Purbalingga.

Cikal bakal Bandara Soedirman bermula dari Bandara Militer Wirasaba milik TNI Angkatan Udara. Aktivitas Bandara Militer Wirasaba di Kabupaten Purbalingga sangat sepi, karena hanya untuk kepentingan militer. Rendahnya aktivitas Bandara Wirasaba mendorong Pemerintah Pusat melalui Kementerian Perhubungan, Gubernur Jateng dan Bupati Purbalingga melakukan studi untuk memanfaatkan Bandara Wirasaba menjadi bandara komersial dan namanya dirubah menjadi Bandara Jenderal Besar Soedirman, Pahlawan Nasional kelahiran Rembang, Purbalingga. 

Kabupaten Purbalingga, Banjarnegara, Wonosobo dan Kebumen jumlah penduduknya sekitar 2,5 juta jiwa, Banyumas sekitar 2 juta jiwa, potensi penduduk di sekitar Bandara melebihi 4,5 juta jiwa. Populasi ini layak untuk diberikan fasilitas bandar udara sipil. Apa lagi waktu tempuh antar kota cukup lama dengan meningkatnya lalu lintas kendaraan bermotor yang makin lama makin banyak melebihi kapasitas jalan raya.

Kelima kabupaten tersebut mempunyai potensi yang sangat besar baik itu ekonomi, sosial, budaya dan pariwisata. Selama ini diperlukan waktu sekitar 5-6 jam dari kota besar seperti Solo, Jogja dan Semarang untuk menuju wilayah 5 kabupaten tersebut. Dengan KA Jakarta-Purwokerto sekitar 5 jam. Untuk meningkatkan arus barang dan jasa, perlu dikembangkan moda transportasi yang lebih cepat dan efisien yaitu transportasi udara.

Letak lima kabupaten tersebut memang agak jauh dengan kota Semarang, Yogyakarta dan Cilacap, tiga kota yang telah memiliki bandara. Perkembangan wilayah kabupaten di sekitar Bandara Soedirman sangat pesat baik itu ekonomi, sosial, budaya dan wisata. Sehingga diperlukan transportasi udara sebagai alternatif selain transportasi darat dan kereta api agar pergerakan barang dan jasa bisa lebih cepat dan efisien.

Perkembangan wilayah tersebut bisa dilihat dari perkembangan kota Purwokerto di Kabupaten Banyumas yang merupakan kota terbesar di wilayah tersebut. Sedangkan untuk wisata, juga ada beberapa tempat wisata yang sudah sangat terkenal baik nasional maupun internasional seperti Baturaden, Pegunungan Dieng, Gua Lawa, Owabong, Taman Kutabawa dan dan lainnya yang terus berkembang.

Bandara Jenderal Besar Soedirman, merupakan bekerjasama dengan TNI Angkatan Udara yang mempunyai lahan bandara. Pengembangan akan dilakukan secara kerjasama antara TNI AU, Ditjen Perhubungan Udara, AirNav Indonesia dan PT. Angkasa Pura II yang diberi hak oleh pemerintah untuk mengoperasikan bandara ini.

Bandara Soedirman akan dikembangkan di kompleks Pangkalan Udara TNI AU Wirasaba sehingga menjadi bandara enclave sipil. Nantinya akan dilakukan pembangunan terminal penumpang, perpanjangan runway, pembangunan apron, taxiway, jalan untuk GSE dan tower ATC serta melengkapi sarana dan prasarana lainnya untuk keselamatan, keamanan dan kenyamanan pelayanan penerbangan.

Pembangunan yang akan dilakukan di antaranya perpanjangan runway dari 850 m x 50 m (grass) menjadi 1600 m x 30 m (flexible). Sedangkan taxiway akan dibangun yang tadinya grass menjadi flexible berukuran 30 x 25 m dan dibangun satu lagi dengan ukuran 85 m x 13 m (flexible). Apron yang berukuran 100 x 45 (grass) juga akan dilakukan perbaikan menjadi jenis flexible.

Sedangkan untuk terminal penumpang, pada tahap pertama akan dibangun seluas 690 m2 yang bisa menampung pergerakan 300 ribu penumpang per tahun. Selanjutnya pada tahap kedua akan dikembangkan menjadi seluas 850 m2. Pembangunan tersebut diharapkan selesai dalam kurun waktu dua tahun yaitu 2018-2019 dan di akhir tahun 2019 bandara akan bisa dioperasionalkan dengan penerbangan pesawat jenis ATR 72.

Sebagai warga Purbalingga, tentu bangga Purbalingga punya Bandara. Mau pergi dengan perjalanan waktu lebih singkat, dari Purbalingga ada pesawat udara. Kami masih menanti semoga pembangunan Bandara Jenderal Besar Soedirman selesai sesuai rencana. ***