Akhmad Sujadi
Akhmad Sujadi wiraswasta

Entepreneur

Selanjutnya

Tutup

Travel-story Pilihan

Bandara Letung Tak Hanya Melepas Kesulitan tapi Juga Tumbuhkan Ekonomi

2 April 2018   19:13 Diperbarui: 2 April 2018   21:53 586 2 0
Bandara Letung Tak Hanya Melepas Kesulitan tapi Juga Tumbuhkan Ekonomi
Bandara Letung Kab. Kep. Anambas (Ft. Kemenhub)

Penulis berniat ke Letung, Pulau Jemaja, Kabupaten Kepulauan Anambas pada awal tahun 2015, sayangnya waktu itu penulis yang baru bergabung dengan PT. Pelni (Persero) tidak berani menuruni anak tangga kapal di atas laut bebas.

Nyali belum terbiasa dengan risiko besar, sehingga mengurungkan niat untuk menjelajah salah satu pulau di wilayah Kabupaten Kepulauan Anambas, Provinsi Kepulauan Riau. Rombongan memilih ke , ibu kota Kabupaten Kepulauan Anambas yang memiliki pelabuhan dan KM. Bukit Raya bisa sandar. Dari Letung ke Tarempa perjalanan dengan KM. Bukit Raya ditempuh selama 3 jam.

Kunjungan kerja Direksi PT.  Pelni (Persero)  yang dilakukan bertepatan menjelang pergantian tahun  2015 itu terasa istimewa. Bagi penulis dan sebgaian besar jurnalis saat  itu merupakan kunjungan perdana ke pulau terluar.

Untuk mencapai Letung di Pulau Jemaja yang merupakan pulau  terluar di Laut China Selatan yang sisi baratnya berbatasan langsung dengan Singapura itu harus melalui perjuangan panjang naik kapal laut, turun naiknya berisiko.

Letung merupakan pulau pertama yang akan disinggahi KM. Bukit Raya sebelum melanjutkan ke Tarempa, Natuna, Serasan dan pulau-pulau lainnya di Kabupaten Kepulauan Natuna Provinsi Kepulauan Riau.

Rombongan Direksi PT. Pelni (Persero) dipimpin Dirut Sulistyo Winbo Hardjito bersama para wartawan yang dikemas dengan Media Tour saat itu menggunakan kapal laut dari Pelabuhan Kijang di Tanjung Pinang.

Untuk ke Letung, kami menggunakan KM. Bukit Raya yang saat itu  sebagai satu-satunya akses dari luar pulau. Kapal tipe 1000 pax dengan kapasitas penumpang 1.000 orang itu tidak dapat sandar di Pelabuhan Letung, maklum pelabuhanya dangkal dan drafnya tidak mampu untuk sandar KM. Bukit Raya.

20170903-140021-1-5ac2231ecf01b41e061b1543.jpg
20170903-140021-1-5ac2231ecf01b41e061b1543.jpg
Perjalanan KM. Bukit Raya dari Pelabuhan Kijang, Tanjung Pinang ke Letung  ditempuh selama 8 jam. Rombongan Pelni  bersama 5 wartawan cetak dan online dari Jakarta itu  melakukan perjalanan menyenangkan dengan kemasan pres tour. Para pewarta dari Jakarta yang ikut  umumnya baru pertama kali ke pulau terluar, sehingga mereka antusias bersama Pelni.

Sebagai pulau terluar, ketertinggalan ekonomi, dan akses transportasi menjadi ciri khas daerah pinggiran dan perbatasan negara Indonesia. Dari atas kapal terlihat banyak rumah-rumah warga di dekat pantai, maklum kapal menjadi satu-satunya akses. Mereka tidak ingin tambah sulit karena transprtasi darat di Jemaja juga belum ada.

Pulau terluar betul-betul menjadi belakang rumah yang saat itu belum terurus secara baik. Sebagai pulau terluar, Letung saat mengalami ketertinggalan ekonomi karena aksesnya yang terbatas.

Bagi pengguna KM.  Bukit Raya yang akan turun dan naik dari Pelabuhan Letung, tidak dapat turun langsung dari tangga ke daratan atau naik dari daratan ke kapal. Penumpang yang akan naik KM. Bukit Raya harus diantar dengan Rede (Perahu kecil) ke KM. Bukit Raya yang berlabuh di tengah laut. Para penumpang dari Rede, akan naik kapal setelah mendekati tangga kapal. Suatu perjuangan berisiko warga terluar dipertaruhkan agar dapat mengenal dunia luar.

Setelah orang dan barang bawaan  diangkut dengan Rede  mendekati tangga kapal atau Gangway yang letaknya di sisi kapal, para penumpang yang akan naik wajib  menggunakan pelampung. Penumpang dari Rede yang akan naik kapal diutamakan, hal ini agar penumpang yang akan turun ada space di kapal Rede, sehingga Rede dapat memuat penumpang yang akan berangkat dan baliknya dari kapal.

Setelah penumpang naik selesai, giliran penumpang KM. Bukit Raya  menuruni  anak tangga untuk pindah ke Rede. Sama seperti penumpang naik, penumpang yang akan turun juga diwajibkan memakai pelampung sebelum menuruni tangga. Proses naik dan turun penumpang dari pelabuhan, naik Rede dan  turun dari  kapal berlangsung sejak ada kapal Pelni ke Pelabuhan Letung. Mungkin  sudah lebih dari 40 tahun.

Atas berbagai kesulitan warga di daerah pinggiran dan  daerah perbatasan dalam 3 tahun ke terkahir Pemerintahan Presiden Jokowi-JK mulai melirik daerah terisolir, terluar dan tertinggal dan daerah perbatasan  (3TP) untuk dibenahi akses maupun ekonominya. Akses jalur laut diperbaiki, akses udara juga mulai dirintis.

Letung yang terletak di Pulau Jemaja  merupakan pulau terluar dan berada di garis depan perbatsan negara. Letaknya di kepulauan, maka pulau-pulau di sekitar Letung juga pulau-pulau kecil. Daratan lebih sedikit dibanding lautan.

Desa Letung, Kelurahan Jemaja  yang selama ini terisolir, dalam waktu dekan  akan berubah menjadi kota yang maju seiring pembangunan Bandara  Letung yang dalam waktu dekat akan selesai dan segera diresmikan Presiden Jokowi

Pelabuhan Letung sebagai akses dari laut yang semula terbatas kapal kecil juga sudah  dibangun pemerintah agar kapal besar bisa sandar. Kendala alur yang dangkal diatasi Kemenhub dengan membangun dermaga pelabuhan lebih menjorok ke laut, sehingga kapal besar dapat sandar. Sebelumnya hanya kapal-kapal kecil yang dapat sandar.

Pada pelayaran perdana di awal April 2018, KM. Bukit Raya telah dapat sandar di Dermaga Pelabuhan Letung. Kemajuan yang luar biasa untuk memberikan konektivitas dan akses bagi warga Letung untuk mengenal dan berinteraksi dengan dunia luar.

Letung merupakan pulau indah memiliki potensi wisata bahari berupa  pantai dan bawah laut yang menawan. Letkanya yang berbatasan langsung dengan Singapura, Maaysia, dan negera-negara tetangga  berpotensi untuk mendatangkan wisatawan  asing ke Letung. 

Untuk meningkatkan kunjungan wisatawan Kemenhub sedang membangun bandar udara untuk membuka dan mempercepat akses  melalui udara.  Bandara Letung merupakan satu dari banyak bandara yang siap beroperasi dan diresmikan Presiden Jokowi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2