Akhmad Sujadi
Akhmad Sujadi wiraswasta

Entepreneur

Selanjutnya

Tutup

Jakarta Pilihan

Om Han, Angsana Tua dan Kucing Kesayanganya

13 Maret 2018   17:48 Diperbarui: 13 Maret 2018   19:10 444 1 0
Om Han, Angsana Tua dan Kucing Kesayanganya
Om Han dan kucing hitam sahabtanya (ft pribadi)

Sejak pohon-pohon angsana tua ditebang sebagai kelanjutan pengosongan rumah tua di Jalan masuk Jalan Pembangunan II Gajah Mada, Jakarta Pusat, Om Han, pria sebatang kara yang semula tinggal di rumah tua itu, lebih sering ketemu penulis. Setiap pagi dan sore ketika berangkat dan pulang kerja dari tempat kos penulis, selalu ketemu Om Han. Kadang bertemu di Warteg Bu Santi, kadang di bangku pinggir jalan, kadang masih tidur di teras toko kadang sedang memarkir kendaraan tamu-tamu ruko di sekitar Jalan Pembangunan II.

Sejak tidak tinggal di rumah tua, Om Han tidur di emperan atau teras toko. Sehari-hari Om Han yang  terus berjuang  mencari nafkah dengan memberikan jasa parkir di dekat ruko-ruko di Jalan Pembangunan II, ia selalu tersenyum. Meskipun sudah berusia senja,  74 tahun pria kelahiran Mando, Sulawesi Utara yang pernah merantau ke Aceh ini memilih tinggal di Jakarta.

Hingga usianya sudah senja Om Han mengaku belum  menikah, sehingga tidak mempunyai anak atau keturunan. Mengaku tidak punya saudara di Jakarta  menjadikan Om Han tinggal sendiri,  atau sebatang  kara. Meskipun banyak orang Manado di Jakarta, ia mengaku tidak memiliki saudara  yang ia kenal di Jakarta. Om Han sudah sejak tahun 1961 tinggal di Jakarta.

Meskipun kulitnya sudah keriput, Om Han menyenangkan untuk diajak berbicara dan penuh bersahabat. Kebiasaanya setiap pagi ia harus bangun sebelum toko buka, hal ini kata Om Han, agar si pemilik toko tetap baik hati ke Om Han, sehingga ketika toko buka kondisi lingkungan tempat ia tidur sudah rapi,  meskipun harus tidur di emperan dia bertanggung jawab dengan kondisi kebersihan lingkungan. Ia pu rajin membersihkan tempat ia tinggal dan tidur.

Usai bangun pagi, sebagai manusia normal Om Han harus buang hajat, mandi agar badanya bersih. Untuk kebutuhan MCK, Om Han diberi kesempatan mandi dan berhajat di Toko Buah Segar Jakarta melalaui pintu samping di Jalan Pembangunan II. Hal dituturkan Om Han ketika ngobrol dengan penulis, Selasa (13/3) sore. "Saya diberi kesempatan mandi dan hajat di Toko Buah Segar Jakarta," ungkap pria yang suka bertopi dengan senyum manisnya yang khas.

Om Han sebatangkara di Jakarta (ft pribadi)
Om Han sebatangkara di Jakarta (ft pribadi)

Kebiasaan lain Om Han selalu membeli makanan di warteg Bu Santi yang tidak jauh dari tempat ia tinggalnya.  Meskipun serba terbatas Om Han membeli makan bukan hanya untuk sendiri. Ia punya tanggung jawab memberi makan 3 kucingnya setiap hari. Kalau kucingnya belum makan, ia akan berusaha memanggil kucing-kucing yang menjadi sahabatnya dalam kehidupan sehari-hari.

 Kucing-kucing itu akrab dan selalu bersahabat dan seolah tahu kalau Om Han butuh kasih sayang,  kucing-kucing menjadi sahabat dan mengasihi  Om Han. Kucing-kucing itu sangat penurut kepada  Om Han. Kasih sayangnya yang tulus memberikan makan, mengelus-elus penuh kasih sayang  menjadikan Om Han terhibur dengan kucing-kucingnya. "Ada 3 kucing yang saya kasih makan setiap hari. Kucing hitam, kucing belang dan kucing putih," kata Om Han sambil mengelus kucing hitam pada Selasa siang.

Orang-orang di sekitar tempat tinggal Om Han sudah paham dengan perilaku dan keinginan Om Han. Bu Santi, pemilik Warteg dan para pelayananya setiap pagi  menyiapkan kopi sebagai minuman kesukaan Om Han dan selalu menyiapkan kopi sebelum Om Han tiba di warungnya. Om Han diberi gelas khusus, yang ada peganganya. Hal ini agar ketika gelas dibawa Om Han tidak jatuh, maklum, untuk berjalan  Om Han harus dibantu dengan tongkat bambu yang selalu menempel di tubuhnya.

 Kedatangan Om Han di Warteg Bu Santi seringkali pagi-pagi sebelum para tamu makan di  Warteg, sesekali ia datang malam. Untuk urusan makan dan minum Om Han lebih sering mengandalkan Warteg Bu Santi  yang banyak pelanggannya  dari karyawan di sekitar Wartegnya. Meskipun kadang uangnya belum cukup untuk membayar makanan dan minuman yang ia pesan, Om Han dimaklumi oleh pelayanan Warteg Bu Santi.

Usia Om Han makin tua, makin repot berjalan. Hingga saat ini Om Han harus berjuang sendiri dengan mencari makan sendiri dari jasa parkir yang terkadang tidak mencukupi. Tempat tinggalnya di emperan toko membuat tubuhnya makin loyo. Om Han makin sempoyongan, akankah ada nurani yang akan menolong Om Han yang sudah memasuki usia senja? Hanya Tuhan yang menggerakkan orang-orang baik, sehingga Om Han masih bertahan dengan kondisi serba kesulitan. Meskipun demikian Om Han selalu tersenyum, seolah tak punya beban dalam kehidupan. Semoga Om Han tetap sehat dan selalu dilindungi Tuhan Yang Maha Kuasa. ***