Mohon tunggu...
Akhmad Sujadi
Akhmad Sujadi Mohon Tunggu... Enterpreneur

Entepreneur

Selanjutnya

Tutup

Birokrasi Pilihan

Menata Jakarta dengan Paksa

8 September 2015   10:04 Diperbarui: 8 September 2015   12:47 0 2 1 Mohon Tunggu...

[caption caption="Pembongkaran di Kali Citarum Sebuah alat berat sedang merobohkan bangunan di atas saluran air kali Citarum, Keluarahan Cideng, Jakarta Pusat, Rabu (23/10/2013).Kompas.com/Ummi Hadyah Saleh"][/caption]

Oleh: Akhmad Sujadi

Menata organisasi, menata perusahaan, menata kota apalagi Jakarta harus dengan paksa, tidak dengan cara biasa. Saya sependapat dengan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Gaya kepemimpinanan Ahok mirip dengan Ignasius Jonan, bedanya paa cara komunikasi. Ahok cetar membahana bersama media, Jonan lebih tertata baik.

Ketika menertibkan dan menata KAI Ignasius Jonan juga melakukanya dengan paksa. Doa seluruh karyawan KAI saat itu satiap hari Allahumma paksa. Dipaksa pasti bisa. hasilnya pelayanan KAI berubah total. Kios-kios di stasiun yang mengganggu pelayanan dibongkar paksa. Siapa yang menikmati? masayarakat, khususnya pengguna jasa KA.
Saya punya pengalaman rapat dengan Ahok dan staf DKI Jakarta beberapa kali. Pemikiran Ahok sepemeikiran.

Rapatnya tidak lama, efektif dan langsung setuju menertibkan lahan KAI. Untuk menertibkan dan membenahi DKI yang ruwet, Ahok sambil berjalan menata Jakarta adalah dengan penataan Sumber Daya Manusia (SDM). Aparat Pemda DKI yang umumnya PNS memang beda dengan aparat BUMN, oleh Ahok dikocok, diputar-putar mutasi lebih sering dan mendadak diberitakan kepada pejabat. Mirip seperti di KAI.

Pada era Ahok seperti era Jonan, panggilan akrab Menteri Perhubungan ketika memimpin KAI, salah satunya melakukan mutasi lebih sering. Jonan pada tahun 2010 hanya memutasi pejabat 48 kali, pada 2014 mutasi sudah tercatat 14.000 kali. Itu semua dilakukan untuk mencari kader-kader potensial perusahaan. Kader-kader yang berhasil disebar ke daerah, anak perusahaan, bahkan BUMD dan sejumlah BUMN ditempatkan orang eks KAI. Tujuannya untuk menularkan virus perubahan di tempat baru. Kalau diperlukan orang eks KAI dapat direktur di Pemprov DKI untuk mempercepat penertiban dan penataan Jakarta.

Membenahi DKI Jakarta dimulai membenahi aparat, itu betul. Namun sambil menata internal secara paralel para pejabat dikasih tugas-tugas berat yang dulunya sangat tidak mungkin dilakukan. Pada masa sebelum Ahok menertibkan Kampung Pulau mustahil dapat berhasil. Ahok memaksa dinas-dinas terkait, Wali Kota, Camat dan lurah setempat untuk bergerak. Menertibkan dan membongkar bangunan yang tidak pada tempatnya. Hasilnya nyata, Sungai Ciliwung mulai terlihat hasilnya. Proyek normalisasi Ciliwung pun berjalan dan dalam beberapa tahun ke depan akan Sungai Ciliwung akan tertib, tertata baik menyamai Sungai di Kota Paris.

Kegiatan penertiban dengan doa Alllahuma Paksa, dipaksa pasti bisa harus terus dilanjutkan. Bukan hanya tugas menata sungai saja. Bantaran rel yang sudah dimulai bersama PT. KAI harus terus dilanjutkan penertiban dan penataanya. Lalu penataan angkutan perkotaan Kopaja, Metro Mini dan angkot harus berlanjut. Kadishub DKI yang teah diganti diharapkan terlecut dan bernisiatif menertiban Kopaja, Metro Mini, Angkot, Bemo yang tidak layak pakai.
Penertiban dengan mengidentivikasi surat-surat angkutan umum harus dimulai. Jumlah Kopaja, Metro Mini dan angkot yang melebihi ijin trayek yang dikeluarkan Dishub DKI Jakarta harus ditertibkan, janagan takut didemo untuk menegakkan kebenaran. Angkot jurusan Tanahabang-Kebayoran misalnya, mungkin jumlah angkot terbanyak pada koridor itu angkot di Jakarta.

Jumlah angkot melebih kapasitas, melebihi ijin trayek menunjukkan ada ketidakberesan. Angkot berwarna biru itu dapat ditemui setiap 300 meter angkot mucul. Bersambung seperti siput. Persaingan antar sopir betul-betul sengit. Kenyataan di lapangan, tak ada angkot di jalur itu terisi penuh. Semua sama-sama rugi karen BBM boros pendapatan tekor. Namun hal ini terus dilakukan terus dan terus tiada perubahan. Sopir angkot mengeluh namun tidak dapat menyelesaikan sendiri masalahnya.

Siapa yang bisa merubah transportasi publik di Kota Jakarta? Kepemimpnan Ahok berpotensi dapat memberesinya. Dengan gerakan paksa Jakarta akan bisa berss. Namun bila ragu-ragu dan tak berani, Jakarta akan menjadi kota yang tetap semrawut, yang sudah terbentuk bertahun-tahun. Tak ada cara lain merubah wajah Jakarta, Allahuma Paksa, dipaksa pasti bisa. Sudah banyak bukti di KAI, dan Pemrov DKI sedang berlanjalan. Lanjutkan Ahok! Kepemimpinan Ahok memang tinggal 2.5 tahun. Jangan takut tidak terpililih lagi. Orang waras akan memilih Ahok dipasangkan dengan siapa pun pada Pemilukada 2017 mendatang.

Sudah banyak contoh yang berhasil dengan cara paksa. Selain Jonan ada Wali Kota Bogota. Kolombia, Enrique Penalosa (1998-2001) sukses memaksa warga kotanya meninggalkan kendaraan pribadi dengan menyediakan bus rapid transit Trans Millenio. (Kompas 7/9). Jakarta dipaksa pasti bisa. pemerintah bisa, warga pun akan menyambut dan mengikuti perubahan yang terjadi. Salam Perubahan Untuk Jakarta Yang lebih baik. ***

 

KONTEN MENARIK LAINNYA
x