Mohon tunggu...
suherman agustinus
suherman agustinus Mohon Tunggu... Dum Spiro Spero

Menulis sama dengan merawat nalar. Dengan menulis nalar anda akan tetap bekerja maksimal.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Menemukan Makna di Balik Wabah

25 Maret 2020   08:52 Diperbarui: 25 Maret 2020   08:58 44 0 0 Mohon Tunggu...

Virus Corona atau Covid-19 menjadi topik yang paling aktual saat ini. Bagaimana tidak, setiap hari dan setiap waktu, di sudut-sudut dan lorong-lorong sempit selalu terdengar pembicaraan tentang virus baru ini. Pembicaraan masyarakat tentang Covid-19 ini tentu saja berangkat dari kecemasan yang mengggumpal di dalam dada. Barangkali kecemasan itu disertai dengan doa agar badai ini segera berakhir sehingga mereka dapat melakukan aktivitas seperti biasa.

Selain menimbulkan kecemasan publik, Covid-19 ini juga memicu perdebatan yang hangat di berbagai sosial media seperti Instagram, Face Book, Line, twitter dan Whattsapp. Perdebatan tersebut bermula dari status-status di akun-akun pribadi. Misalnya, status: "Jangan sampai iman kita kalah di hadapan Covid-19. Apalagi sampai menghilangkan ibadah".

Mereka yang membuat status seperti itu mau menegaskan bahwa saat ini, iman kita sedang  tergoncang. Kalau kita sungguh-sungguh beriman mestinya kita tidak pernah takut terhadap ancaman apapun, terutama ketika berhadapan dengan Virus Corona yang merebak negara kita saat ini.  Saat membaca status seperti itu, saya teringat pada seorang filsuf dan teolog Canterbury, Anselmus. 

Anselmus mengatakan, "Fides Quaerens Quaerens Intellectum" (Iman mencari pemahaman). Secara singkat Anselmus mau mengatakan bahwa kita perlu memahami secara intelektual apa yang kita yakini alias bukan percaya begitu saja. Kita harus memahami siapa Tuhan yang kita imani?

Kalau dikaitkan dengan status singkat di atas, saya sendiri justru mempertanyakan iman dari pembuat status. Apakah dia sungguh-sungguh beriman atau sebaliknya, dia beriman tak sungguh-sungguh? Bukankah kita telah dianugerahi akal budi oleh Tuhan yang  satu dan sama? 

Dalam beriman, akal budi perlu dipakai sebab keduanya saling keterkaitan. Kita tak bisa beriman dengan mengabaikan peran akal budi, demikian sebaliknya. Ketika pemerintah memutuskan agar semua masyarakat perlu mengkarantinakan diri dan tidak berkeluyuran, kita mesti percaya bahwa di saat bersamaan mungkin Tuhan  berkarya melalui seruan dan perintah tersebut. Sebab perintah tersebut bertujuan untuk kebaikan seluruh masyarakat.

Jangan Menyalahkan Tuhan!

Kita juga tak perlu menyalahkan Tuhan atas wabah yang terjadi sekarang ini.  Tuhan tak pernah menginginkan kematian bagi ciptaannya sendiri, manusia. Sebagaimana yang kita yakini bahwa Tuhan itu Mahabaik, Mahapengasih dan penyayang. Karena itu, betapa berdosanya ketika kita dengan mudah menyalahkan-Nya atas Virus yang merenggut banyak nyawa di seluruh dunia. Cara berpikir kita sebagai ciptaan tak mampu menjangkau pikiran sang pencipta.

Barangkali wabah ini adalah ujian dalam hidup yang tak dapat kita hindari. Karena itu, kita perlu menemukan makna di balik situasi buruk yang menimpa kita saat ini. Sembari mengurung diri di rumah, kita dapat mengevaluasi diri dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana berikut.

Bagaimana kehidupan saya sejauh ini? Apakah saya memakai kesempatan yang Tuhan berikan dengan menyalurkan kebaikan-kebaikan pada sesama? Apakah saya telah menjaga dan merawat bumi sesuai dengan amanat pencipta? Apakah saya telah mencintai sesamaku layaknya mencintai diri saya sendiri? 

Apakah saya mampu menimba makna di balik hal-hal pahit yang terjadi dalam hidup? Apakah saya selalu bersyukur bukan hanya saat senang tetapi saat susah? Di akhir tulisan ini, saya mengutip perkataan neurolog Austria, Fiktor Vrankl. Vrankl mengatakan, "Hidup memiliki makna (arti) dalam setiap situasi, bahkan dalam penderitaan dan kepedihan sekalipun."

VIDEO PILIHAN