Mohon tunggu...
Achmad Suhawi
Achmad Suhawi Mohon Tunggu... Politisi Pengusaha

--- MENULIS jadi saluran Hobi--- --- BERPOLITIK sebagai Pengabdian--- --- PENGUSAHA profesi Penghidupan--- --- BERORGANISASI ajang Persahabatan ---

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Ansor Mempersekusi HTI atau Membela Agama dan Negara

1 September 2020   13:40 Diperbarui: 16 September 2020   10:54 147 1 0 Mohon Tunggu...

Nahdliyin Membela Negara.

Baru-baru ini WargaNet dipertontonkan sebuah video adu mulut antara Banser atau GP Ansor - Bangil dengan tokoh HTI setempat yang ada di Pasuruan. Video tersebut menjadi perbincangan hangat diberbagai sosial media, bahkan menghiasi sejumlah media massa mainstreams. Ada yang menilai bahwa tindakan sejumlah kader GP Ansor Pasuruan itu merupakan suatu bentuk persekusi yang dilakukan kepada salah satu pemuka Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), ada juga yang berpendapat bahwa tindakan itu secara adab kurang sopan, bahkan ada yang menilai bahwa yang dilakukan merupakan bentuk lain dari tirani mayoritas atas nama kelompok. 

Anggapan atau pandangan yang mengemuka sesungguhnya mencerminkan pemahaman yang bersangkutan, baik personal maupun kelompok, dalam memaknai hakekat ke-Indonesia-an sebagai negara bangsa, dimana mayoritas penduduknya adalah Islam dengan berbagai bentuk heterogenitas yang melekat sebagai jati diri Indonesia. Selain daripada itu, pendapat yang mengemuka merupakan cerminan perspektif tingkat permisif seseorang terhadap paham kebangsaan atau nasionalisme dalam konteks ideologi kosmopolitan atau dalam video tersebut direpresentasikan dengan ideologi Khilafah Islamiyah dan Partai Komunis Indonesia (PKI). Ideologi kosmopolitan ialah faham atau ideologi yang menyatakan bahwa semua bangsa merupakan satu komunitas tunggal yang memiliki moralitas yang sama. Immanuel Kant merupakan pemikir kosmopolitanisme modern dalam esainya "Perpetual Peace" menggagas ius cosmopoliticum sebagai prinsip untuk melindungi masyarakat dari perang. Sedangkan Ansor bersama Banser menghendaki agar faham kilafah yang dianut oleh HTI dihentikan atau tidak disebarkan apalagi hendak dibumikan di Indonesia dengan berbagai penjelasan, pertimbangan dan argumentasi hukum yang mengemuka.

Nada suara yang meninggi layaknya dialeg di beberapa wilayah yang ada di Jawa Timur, khususnya di daerah Tapal Kuda turut menjadi sorotan karena dianggap kurang beradab dalam berkomunikasi dengan orang yang lebih tua, apalagi Ansor dengan Bansernya merupakan organisasi yang memiliki misi menjaga para Ulama. Dan oleh sebagian orang misi tersebut kemudian dikontraskan dengan kejadian yang ada di dalam video, sehingga terkesan para kader Ansor kurang menjunjung tinggi adab. Padahal Ansor merupakan entitas Nahdliyin yang menempatkan diri mereka sebagai penjaga Republik Indonesia yang dirintis oleh para Ulama, sehingga menjaga Indonesia merupakan bagian dari menjaga warisan para Ulama. Jiwa patriotisme itu seringkali disalahpahami oleh sebagian orang, karena kurangnya pemahaman atas proses internalisasi hubbul waton minal iman, cinta tanah air bagian dari iman.

Perbedaan gaya komunikasi di berbagai daerah di Indonesia sangat beragam, termasuk di Jawa Timur yang memiliki beberapa gaya komunikasi, misalnya menyapa teman akrab dengan cara memaki atau misuh seperti Jancuk merupakan cerminan kerekatan persahabatan bagi kalangan Arek Surabaya dan sekitarnya, demikian pula dengan bahasa walikan (kebalikan) semacam Sam untuk sebutan Mas, Ipok untuk Kopi yang banyak dipakai sebagai bahasa sehari-hari masyarakat diseputar Malang Raya, demikian halnya dengan intonasi bicara yang cenderung tinggi dalam dialeg daerah Tapal Kuda seputar Madura - Pasuruan sampai Banyuwangi, sehingga adakalanya sulit dibedakan antara bersitegang atau sedang bincang santai bagi yang tidak mengenal budaya setempat.

Oleh sebab itu, melihat Indonesia harus menggunakan berbagai sudut pandang, termasuk adat kebiasaan yang terjadi ditengah keseharian masyarakat. Dan dari segi adab memang sopan santun itu penting dalam melakukan amar ma'ruf nahi mungkar, walaupun dalam konteks tertentu perlu dilakukan dengan bahasa yang lebih vulgar dengan tetap mengedepankan etika. Atas dasar itu dibutuhkan Tabayun (klarfikasi) manakala ada miskomunikasi atas suatu peristiwa, sebab potongan video, tangkapan kamera, atau cuplikan berita seringkali tidak menampilkan fakta secara utuh atas suatu peristiwa, maka dari itu, suatu permasalahan yang disimpulkan dari sepotong fakta cenderung bias terutama bila sudah diniatkan untuk melakukan framing opini demi membangun citra negatif, padahal sebab - sebab yang melatarbelakangi suatu peristiwa seringkali diabaikan atau bahkan tertutupi oleh kejadian yang dimunculkan kepermukaan. Sementara kejadian yang mencuat kepermukaan merupakan akibat dari suatu sebab yang belum ditelisik dengan mendalam kebenarannya.

Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) telah dibubarkan oleh pemerintah dengan alasan : Pertama, HTI tidak melaksanakan peran positif dalam proses capaian pembangunan tujuan nasional; Kedua, HTI terindikasi bertentangan dengan tujuan, azas dan ciri organisasi yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang nomor 17 tahun 2013 tentang ormas; Ketiga, aktifitas HTI dinilai pemerintah telah menimbulkan benturan di masyarakat yang dapat mengancam keamanan dan ketertiban masyarakat, serta membahayakan NKRI. Senada dengan hal itu, Ansor - Bangil mendatangi salah satu tokoh HTI yang menyebarkan ideologi khilafah untuk menghentikan aktivitasnya.

Dan Islam memang mengajarkan bahwa masalah keagamaan khususnya dalam hal ubudiyah atau Tauhid, Keimanan, dan Ketakwaan seseorang kepada Tuhannya bukanlah domain manusia untuk menilai atau mengawasi, bahkan Rasulallah SAW diingatkan oleh Allah SWT sebagaimana difirmankam dalam QS : 42:6 yang menyatakan bahwa "Dan orang - orang yang mengambil pelindung selain Allah, Allah mengawasi (perbuatan) mereka, adapun engkau (muhammad) bukanlah orang yang diserahi mengawasi mereka." Dalam hal ini, Ansor dan Banser yang terbiasa menjaga toleransi umat beragama, bahkan seringkali membantu pengamanan peribadatan umat beragama lain, bukan tidak paham dengan maksud dan bunyi ayat suci Al Quran tersebut, justru mereka memahami hal itu. Kesalah pahaman justru terjadi kepada mereka yang menilai bahwa Ansor dan Banser telah melakukan persekusi kepada tokoh HTI, dimana letak kesalah pahaman tersebut justru karena melihat upaya Ansor dengan Banser dalam konteks ubudiyah bukan sebagai muamalah, apalagi bila ditempatkan dalam relasi ketatanegaraan dimana pemuda Nahdliyin itu merupakan entitas yang telah mewakafkan diri mereka demi menjamin eksistensi dan keutuhan NKRI bersama komponen bangsa yang lainnya.

Ruang Semu Gagasan Khilafah HTI

Permitaan Ansor - Bangil agar HTI  tidak menyebarkan ideologi khilafah sejatinya merupakan langkah preventif agar ideologi kosmopolitan semacam Komunisme dan Khilafah Islamiyah tidak mengganggu eksistensi ideologi pancasila sebagai ideologi negara bangsa. Pancasila sebagai ideologi seringkali ditempatkan secara diametral dengan ideologi kosmopolitan semacam khilafah, komunisme, liberalisme / kapitalisme / imperialisme atas dasar sila ketiga pancasila yaitu "persatuan Indonesia" ditengah berbagai keberagaman yang sudah melekat dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika. Sebab, rivalitas eksistensi antar ideologi kosmopolitan dengan pancasila bisa menimbulkan polarisasi ditengah ketentraman masyarakat Indonesia yang dalam sejarah perjalanannya telah banyak memakan korban jiwa karena dibarengi dengan aksi sparatisme. Artinya, upaya preventif merupakan bagian dari ikhtiar menghindarkan diri dari perpecahan bangsa, pertentangan dan permusuhan yang tidak perlu. Penyebaran ideologi khilafah di Indonesia bisa mengganggu keharmonisan masyarakat yang sudah terpelihara dengan baik dalam bingkai ideologi Pancasila yang dilandasi oleh spirit Islam yang rahmatan lil alamin. 

Memaksakan ideologi khilafah ditengah -tengah keharmonisan umat hanya akan membuka luka lama, bahkan bisa menjadi pemujaan yang berlebihan atas gagasan itu sendiri, apalagi gagasan model khilafah HTI tidak jelas hendak mengacu kemana, Republik Turki sendiri sebagai periode kekhalifan Ustmani tetap menghendaki model republik, bukan khilafah atau kerajaan. Model Khilafah Islamiyah yang pernah eksis pun memiliki corak yang berbeda-beda dalam setiap periode. Bekangan muncul wacana bahwa model kekhalifan yang hendak digagas oleh HTI lebih mirip dengan konsep Uni Eropa, padahal beberapa negara yang bergabung didalam Uni Eropa justru merasa terperangkap sehingga ada BREXIT.  Bahkan belakangan berkembang konsep yang lebih moderat dari para pendukung faham khilafah yaitu suatu pendekatan model kekhalifahan yang mirip dengan negara persemakmuran, federasi atau bahkan konfederasi dimana tiap-tiap negara terjamin eksistensinya. Dan perlu diketahui bahwa kerjasama antarnegara berpenduduk Islam sudah terjalin tanpa payung khilafah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x