Mohon tunggu...
halub©
halub© Mohon Tunggu... Mahasiswa - Puisi, Cermin, Cerpen, dan Refleksi.

Pencarian dan keyakinan, berteman dekat, sampai kapan pun, selalu ada hal-hal yang membanggakan bagi setiap yang yakin

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Menjadi Inspirasi

11 Maret 2023   11:46 Diperbarui: 11 Maret 2023   11:55 60
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Source: the promise land ss.

   Berteriak tentang banyak hal. Membising di mana pun. Penerapan jauh dari punggung api. Berkoar-koar seolah hebat, penemu, mengklaim si paling jitu. Ternyata tindakan bising telah menjadi inspirasi yang---sebatas narasi emosi yang---sangat sekejap, kemudian hilang ditelan waktu yang terus menggulung apapun.
   Menjadi inspirasi,
Bukan sekedar narasi,
   Yang panas sesuai kondisi,
Lalu lenyap bersama,
   Kebengalan yang selalu dibalut alasan rasional.
Apalah yang mau dibanggakan,
   Memang setiap siapapun,
Pasti punya aib,
   Namun makanan kesukaan yang,
Banyak diminati oleh beberapa kalangan,
   Adalah daging saudara sendiri.
Sulitnya bukan main,
   Seolah yang satu telah menjadi inspirasi,
Untuk berbuat seperti itu.
   Gelombang bahaya yang melumat,
Banyak hal, tanpa disadari, tidak mau sadar, sengaja tak sadar.
   Benar-benar telah menjadi inspirasi,
Untuk tetap berkelanjutan dalam memakan, daging saudara sendiri.
   Tak tampak oleh mata,
Namun catatan terus mencatat.
   Memilih memperbaiki, jalan terjal, penuh kebencian, hujatan, cacian, juga tak menutup kemungkinan pemakanan daging.
   Zaman tak berubah, hanya pernak-pernik baru, yang beragam, sangat bermacam-macam.
   Sedikit banyak merenggut makna sejati dari "menjadi inspirasi".
   Bila,
Terbengkalai,
   Pada,
Suatu,
   Yang,
Sederhana,
   Lagi,
Fundamental.
   Maka, apa mungkin, apa mungkin?
Dengan yang lebih jauh lagi rumit,
   Akan kuat menghadang, lebur bersama, bersinergi?
   Pula khayalan yang berpindah-pindah, berubah-ubah sesuai keadaan.
   Yang pergi,
Bisa saja tak datang lagi.
   Terlalu menganggap 'tak mengapa' pada pemakluman yang sebenarnya pasti menemui penghujung---dan akhir dari menganggap biasa lagi tak mengapa.
   .
   Cls, Sabtu 11 Maret 2023, 11:40, halub

Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun