Mohon tunggu...
Suguh Kurniawan
Suguh Kurniawan Mohon Tunggu...

Content Writer. Bermukim di Bandung. Aktif blogging di http://suguh-kurniawan.blogspot.com/

Selanjutnya

Tutup

Politik

Wayang dan Etika Kepemimpinannya

16 Oktober 2011   09:13 Diperbarui: 26 Juni 2015   00:53 0 0 0 Mohon Tunggu...

Ironi Kepemimpinan Nasional
Idealisasi kepemimpinan nasional dalam dilema. Wacana perubahan sudah semustinya tak hanya berada pada ranah retorika dan pencitraan, namun harus bergulir pada tindakan nyata. Apalagi ditengah krisis yang masih menjadi musuh laten bangsa ini. Tiap pemimpin dituntut pandai pandai memosisikan diri. Karena mereka sejatinya adalah representasi dari rakyat Indonesia yang sedang gamang didera kemiskinan. Legitimasi dan kepercayaan kemudian menjadi semacam bonus, karena hal paling esensial adalah berjalannya roda kepemimpinan yang manjur untuk ‘menyehatkan’ kembali bangsa yang sedang ‘sakit’.

Namun sejatinya kini, ibarat pepatah lama berdedah, “buruk rupa cermin dibelah”. Harapan tak melulu paralel dengan kenyataan. Sikap egalitarian elit seperti makan nasi aking, keliling pasar tradisional atau kunjungan ke tempat pembuangan sampah hanya marak ketika kampanye. Setelah itu semua kebiasaan tersebut raib. Kita menyaksikan kebiasaan baru dimana antara pemimpin dan rakyat seperti minyak dan air. Ketika dibawah rakyat memanut penuh monoloyal, diatas para pemimpin justru bertingkah monoroyal. Belum kering berita soal mobil dinas mewah jajaran kabinet Indonesia Bersatu jilid II dan rencana ambisius membangun degung DPR baru yang menyulut kontroversi luas itu.

Hal yang amat ironis sekaligus memrihatinkan. Dikatakan memrihatinkan lantaran diatas gelimang kemewahan, masih terdapat 8,89 juta orang menganggur pada 2010. Selain itu masih terdapat pula 11,7 juta siswa putus sekolah pada 2009. Tentu hal ini menjadi preseden buruk. Bila terlalu lama didiamkan berpotensi menurunkan popularitas dan legitimasi pada pemimpin bersangkutan. Reaksi rakyat yang terlanjur kecewa pada sebuah rezim, berpotensi menimbulkan chaos. Huru hara 12 Mei 1998 dapat dijadikan pelajaran betapa kekuasaan yang sudah tak legitimated akhirnya harus tumbang.

Karena itu cara cara solutif tanpa kekerasan sudah selaiknya ditempuh sebagai ikhtiar mencari jalan keluar. Diharapkan potensi pertumpahan darah antar anak bangsa dapat diredusi. Jangan sampai ‘ijtihad’ kita menyesaikan masalah ternyata menimbulkan masalah baru. “Cai na herang lauk na beunang” (airnya terang ikannya dapat), ujar ungkapan Sunda lawas.

Wayang Dan Kearifannya
Selanjutnya, kembali pada nilai nilai kearifan yang datang dari budaya bangsa patut mendapat porsi lebih. Karena nilai nilai tersebut selain membuat kita tak lupa pada purwadaksina (asal usul), ajaran yang dikandungnyapun tak kalah canggih dengan sejumlah pemikiran ‘stensilan’ barat. Wayang dalam hal ini bisa kita jadikan bahan pembelajaran. Menurut akademisi Universitas Indonesia Darmoko, wayang memiliki nilai moral serta seni yang akan selalu mendominasi dalam setiap ceritanya. Hal itu diamini pula oleh pengamat kebudayaan Dr. A Ciptoprawiro, bila kesenian yang telah ditetapkan sebagai "A Masterpiece of The Oral and Intangible Heritage of Humanity" oleh Unesco ini dianggap sebagai pagelaran kesenian yang menyajikan banyak nilai sebagai tuntunan (etika) dan tontonan (estetika).

Sebelum tokoh tokoh barat macam Abraham Zalzenik, John P. Kotter, James M. Kauzes, Barry Z. Posner atau Burt Nanus merumuskan teori kepemimpinan versi mereka masing masing, nilai nilai kearifan wayang sudah mendedahkan perkara bila sebaik baik pemimpin adalah ia yang dapat meresapi hakikat Purwa Sajati. Inilah tipe kepemimpinan yang bersifat amanah dan terpercaya. Didalamnya terkandung ajaran sepi hing pamrih rame hing gawe. Dalam prespektif pewayangan Jabatan dimaknai sebagai suatu pengabdian bukan untuk menumpuk numpuk kekayaan seperti tejadi sekarang. Dengan merenungi intisarinya seseorang dapat menjadi sosok yang selamat secara personal hingga terbebas dari cela dan dosa politik serta menyelamatkan karena fungsi fungsi kepemimpinanya bisa dirasakan langsung oleh lingkungan.

Hal tersebut tercermin dari sifat Kresna misalnya. Dibidang politik karirnya amat cemerlang bukan karena faktor pencitraan namun sifatnya yang bijaksana. Meski berdarah, berkulit dan berdaging hitam, tapi ia adalah sosok yang amat disegani. Ucapan ucapannya amat inspiratif hingga setelah pulang berkonsultasi darinya, para relasi Kresna merasa bersemangat kembali menjalani hidup. Selain itu terdapat Sri Rama dan Arjuna yang tak hanya penampilanya saja yang rapi, tapi juam mereka penuh dengan senyum, bertutur bahasa halus, bertingkah laku terukur dan tampak tak berminat membuat orang susah terhadap siapapun serta selalu mengedepankan kebenaran dan keadilan. Atau pada ‘bab lain’ kita bisa belajar dari Abiasa. pada waktu menjadi penguasa di negeri Astina ia selalu mencintai dan memberi perhatian kepada rakyatnya, memiliki kepribadian kuat, konsisten, visioner dan integritas tinggi hingga ia dicintai dan dipercaya oleh pengikutnya.

Guna mewujudkan suksesi kepemimpinan ideal, dalam pewayangan terdapat tiga syarat yang sifatnya simbolik sekaligus mengandung kedalaman makna dan pesan moral. Ketiga syarat itu ialah,

1. Nembus Bumi (Bisa menembus Bumi)
Dalam prespektif nembus bumi, seorang pemimpin musti bisa menyelaraskan standar hidupnya dengan standar kebanyakan rakyat. Kalau kemiskinan itu menyebalkan ia lebih memilih hidup sederhana daripada bermewah mewah. Hal ini dapat kita simak dalam dedahan ki dalang yang sering diucapkan pada saat pertunjukan, “Gedong sigrong moal digandong, Sawah lega moal dibawa, Pamajikan geulis moal diais, Salaki ginding moal dijinjing (Gedung (rumah) mewah tidak akan digendong (dibelakang), Sawah luas tidak akan dibawa, Istri cantik tidak akan digendong (didepan), Suami gagah tidak akan dijinjing).

Dalam konteks kekinian kita dapat belajar dari Presiden Iran Mahmmoud Ahmadinejad. Meski menduduki posisi Iran satu, sosok Ahmadinejad jauh dari kesan glamor. Ia tinggal dipemukiman padat penduduk di Teheran dan menolak segala macam kemewahan. Pernah suatu ketika listrik mati di Iran, sejumlah pegawai membawakan mesin pemanas untuknya. Tapi simaklah apa yang dikatakan anak pandai besi ini, “kalau rakyatku dan mustadh’afin menggigil, mengapa pula aku harus bersenang senang dengan mesin pemanas ini.”. Tat Twam asi (aku adalah kamu) ujar Mahatma Ghandi, dan karenanya legitimasi dari rakyat makin tebal pada seorang pemimpin karena mereka melihat diri mereka pada diri pemimpinya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x