Mohon tunggu...
Sugiyanto Hadi Prayitno
Sugiyanto Hadi Prayitno Mohon Tunggu... Penulis - Lahir di Ampel, Boyolali, Jateng. Sarjana Publisistik UGM, lulus 1982. Pensiunan Pegawai TVRi tahun 2013.

Pensiunan PNS, penulis fiksi. Menulis untuk merawat ingatan.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Orangtua Durhaka, Menjadi "Pembunuh" bagi Anak Sendiri

29 November 2021   13:58 Diperbarui: 29 November 2021   14:02 320
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Image caption - Sosok para pembunuh seorang anak autis,  di Polres Muba, Sumsel, Jumat (26/11/2021) - regional.kompas.com  

Kedua, meski tidak bermaksud untuk ikut campur urusan saudara/tetangga/kenalan, perhatikan dan kenali seperlunya kondisi rumah tangga mereka untuk mengambil sikap agar kejadian terburuk dapat dicegah.

*

Secara agama orangtua punya tanggungjawab besar terhadap anak-anaknya sebagai amanah/titipan Allah SWT. Menjaga dan menyayangi mereka sifatnya wajib.

Firman Allah SWT dalam Alquran, yang artinya: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad), dan (juga) janganlah kalian mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, padahal kamu mengetahui. Dan Ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan, dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. (Al Anfal ayat 27-28).  Sumber 6/

*

Siapapun kita tidak ingin menjadi anak yang durhaka kepada orangtua. Terlebih kepada Ibu. Sebaliknya kita pun (kalau boleh memilih) tidak mau punya orangtua durhaka.

Bagaimana menandai orangtua durhaka? Berikut kutipan pendapat dari Syekh Ali Jaber, orangtua durhaka kepada anak dapat ditandai dengan sikapnya yang buruk. Diantaranya suka mencaci-maki, menghina di depan orang lain, dan membanding-bandingkan anak sendiri dengan anak orang lain. Sumber 7/

Sikap buruk lain, menyayangi bila si anak mampu memenuhi syarat yang dibebankan kepadanya, memberi informasi keliru, dan selalu memberi ancaman. Bahkan melarang anak mengerjakan sesuatu tanpa penjelasan, menghancurkan kepercayaan diri si anak, mendoakan anak dengan doa yang buruk, serta membongkar aib anak, menjadi bentuk kedurhakaan orangtua kepada anak-anaknya sendiri. 

Apakah para calon pengantin telah mempersiapkan diri untuk kelak tidak berlaku durhaka kepada anak? Apakah para orangtua tahu betul tentang boleh-tidaknya serta batasannya dalam memperlakukan anak agar tidak menjadi durhaka?

Singgahlah pada bacaan menarik lain tentang Dua Istri

*

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun