Mohon tunggu...
Sugiyanto Hadi Prayitno
Sugiyanto Hadi Prayitno Mohon Tunggu... Lahir di Ampel, Boyolali, Jateng. Sarjana Publisistik UGM, lulus 1982. Pensiunan Pegawai TVRi tahun 2013.

Pensiunan PNS, penulis fiksi. Menulis untuk merawat ingatan.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Pagi Alangkah Renyah-Cerpen

13 September 2014   20:17 Diperbarui: 20 April 2017   09:00 23 0 0 Mohon Tunggu...

PAGImekar indah, alangkah hangat dan renyah. Kilau sorot mentari berpendar-pendar di daun, rumput, titik embun, dan bahkan pada kabut tipis yang segera meruap. Di kejauhan para pemetik teh, kaum ibu dan beberapa orang gadis, dengan ditunggui seorang mandor, memulai kerja keras mereka. Warna-warni anyaman bambu sebagai tutup kepala dan pakaian panjang tebal, dengan selapis plastik sebagai mantel, menghiasi lereng itu.

Di kawasan perumahan para pekerja kebun teh, Sunar tercenung, dan kembali pada pemikiran yang dalam. Ia melangkah gagah sambil menuntun sepeda di depan gerbang Sekolah Dasar Negeri tempatnya mengajar. Topi panan lebar menutupi wajahnya dari pancaran sinar matahari pagi. ”Pagi ini alangkah hangat dan renyah!” gumamnya lirih.

Lelaki kurus, dengan tinggi sekitar seratus lima puluh sentimeter itu, sebulan lagi akan pensiun. Mengabdi sebagai guru dijalaninya hampir empat puluh tahun. Selama itu pula ia rajin menjadi guru ngaji. Bagi Sunar, semua dirasa tak pernah direncanakan. Sebenarnya dulu, dulu sekali, ia minggat, atau lebih tepatnya menghilangkan diri dari kota kelahirannya.Ia pergi dari keramaian kota sekitar 160 kilometer dari tempatnya berdiri kini.

Kenangan itu seperti tiba-tiba saja mengerubuti benaknya.Masih di depan gerbang, saat jam pelajaran pertama seharusnya dimulai, ia terkenang pada Ramlia, seorang gadis cantik di masa lalu.

”Aku sudah punya pacar. Jadi tolong jangan ganggu aku lagi!” gadis itu berkata ketus nyaris kasar. Sesuatu yang sama sekali tidak diduga oleh Sunar muda. Ia tampak sekali terlalu berharap. Padahal ia tidak punya modal apapun. Ketampanan, kekayaan, atau kecerdasan otak untuk menggapai kegemilangan masa depan; ia tak punya. Bahkan ia pun tidak mempersiapkan satu siasat pun. Karuan saja gadis populer itu tidak mengacuhkannya. Sunar sangat menyesal menuruti  anjuran busuk teman-temannya.

”Menjauhlah dariku sebelum bapakku mengusirmu!””Gadis itu membelalak dengan matanya yang hitam bulat, dagu mendongak, dan rambut tergerai dipermainkan angin sore.

Ramlia, gadis yang populer dan jadi rebutan pemuda kaya, dengan gayanya itu,  tegas menolak. Tidak ada kemesraan seperti dibayangkannya setiap kali. Tidak ada sekedar senyum. Dan  Sunar melangkah lungai tanpa mau menoleh lagi. Ia tidak tahu perasaan rremuk bagaimana memenuhi rongga dadanya. Itulah kali ke empat ia ditolak oleh gadis yang ditaksirnya.

KISAH mata-buta Sunar celaknya menjadi bahan olok-olok, jadi gosip murah. Bahkan jadi bahan tertawaan sesama teman. Meski ada pula yang bersimpati dan coba membantu sekuat tenaga untuk menjadikannya Arjuna tulen. Sebagian yang lain justru menjerumuskan pada pikiran kotor, ngawur, dan nakal!

Seorang teman kuliah, Nurabid, yang dikenal alim menasehati Sunar.”Kebahagiaan orang berpacaran itu hanya fatamorgana. Hanya kepura-puraan dan semu. Dalam ajaran agama kita pun tidak dikenal cara pergaulan itu. Kalau kau merasa sudah siap putuskan untuk menikah saja!-

Sunar terduduk di bangku taman kampus. Nasehat itu tidak salah, salahnya ia tidak berani melakoninya.

-Buatlah kesiapan matang, lalu nikah? Nafkah datang dari kerja apapun!Setidaknya jangan menggantungkan diri pada orang tua. Aku sendiri sudah menjalaninya, karena itu aku berani menasehatimu!” sambung Nurabid.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x