Mohon tunggu...
Ahmad Sugeng Riady
Ahmad Sugeng Riady Mohon Tunggu... Warga menengah ke bawah

Masyarakat biasa merangkap marbot masjid di pinggiran Kota Yogyakarta

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Saya dan Kali Pertama Shalat di Masjid Yogyakarta

14 Juni 2020   10:14 Diperbarui: 14 Juni 2020   10:23 50 4 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Saya dan Kali Pertama Shalat di Masjid Yogyakarta
sumber: zakat.or.id

"Terminal terakhir, terminal terakhir. Ayo penumpang siap-siap turun. Barangnya jangan sampai ada yang lupa, jangan ada yang ketinggalan", seru kondektur saat bus melaju mendekati terminal.

Lama saya terlelap. Terakhir sadar kendaraan masih berada di terminal Madiun. Tas masih saya dapati di bawah tempat duduk, tepat disamping kaki. Saya membukanya untuk memastikan tidak ada barang yang dicuri, alhamdulillah, barangnya masih utuh semua. Hanya makanan yang saya bawa dari rumah untuk oleh-oleh sudah tidak berbentuk seperti semula lagi.

Bus berhenti. Saya beserta penumpang lainnya berdesakan, antri untuk segera keluar. Hidung mulai mencium bermacam aroma, mulai dari tahu, minyak kayu putih, balsem, sampai parfum yang wangi. Tak ketinggalan, tangisan bayi menjadi alunan yang menyertai penumpang keluar bus.

"Hufffftttttt.....", saya ambil nafas dalam-dalam kemudian mengeluarkannya. Perbuatan ini kulakukan berkali-kali setelah keluar dari bus. Tengok kanan dan kiri, teman yang menjemput ternyata belum datang. Beberapa saat, beberapa bapak ojek datang menawarkan jasanya mengantarkan sampai ke tempat tujuan. Saya menolaknya dengan permohonan maaf, karena sudah ada teman yang hendak menjemput.

Sekitar setengah jam menunggu, teman saya pun datang. Kami berdua bergegas menuju ke tempat peristirahatan, asrama.

Dua puluh menit kemudian, motor sudah berhenti di tempat tujuan. Saya bergegas  turun dan masuk sembari membawa oleh-oleh yang sudah tak berbentuk ke dalam asrama. Oleh-oleh saya taruh di meja makan, dan saya segera masuk ke kamar untuk merebahkan badan yang sudah terasa lelah. Tanpa terasa saya terlelap.

Lamat-lamat saya mendengar suara adzan dhuhur berkumandang. Jam telah menunjukkan pukul dua belas kurang lima menit. Cepat-cepat saya meraih sarung, handuk, sekaligus peralatan mandi. Tepat iqamah terdengar, mandi segera saya pungkasi dan kemudian mengambil wudhu lantas bergegas menuju ke masjid.

Setelah memasuki masjid, sebelum mendapati shaf sholat, saya terperangah dengan pemandangan yang saya rasa terasa agak ganjil. Karena memang baru awal itu saya sholat berjamaah di masjid tersebut. Iya...saya pendatang. Orang desa yang baru datang dan menjejakkan kaki di salah satu masjid di Yogyakarta. "Di sini, jamaahnya unik dan nyentrik", gumam saya saat terperangah.

Di desa, orang yang hendak ke masjid untuk beribadah sholat, selalu mengenakan pakaian yang bersih, bersarung atau minimal pakai celana yang bukan jeans. Karena menurut masyarakat di desa saya, sholat dengan celana jeans itu kurang pas. 

Entah apa sebab yang melatarbelakangi tidak pasnya, saya kurang tahu pasti. Mungkin ada jejak memori kolektif di masa silam yang menandai bahwa celana jeans kerap dipakai penjajah, dan itu tidak etis jika digunakan untuk shalat. Dan andai pun mengenakan kaos, itupun yang terlihat layak dan pantas. Dan semua jamaah laki-laki bekopyah, baik kecil maupun orang dewasa.

Berbanding terbalik ketika saya beribadah shalat di masjid ini, salah satu masjid di Kota Yogyakarta yang berdekatan dengan asrama saya. Jamaahnya beragam. Secara kuantitas jamaahnya lebih banyak dari jamaah sholat fardhu masjid saya di desa. Jamaah laki-laki ada yang bertato, ada yang pakai celana jeans, ada yang hanya menggunakan celana tiga per empat. Kemudian ada yang berkaos lusuh, tanpa berkopiyah. Jamaah perempuan pun demikian, ada yang tidak mengenakan mukena, hanya kerudungnya lebih besar.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x