Mohon tunggu...
Sudomo
Sudomo Mohon Tunggu... Guru - Guru Penggerak Lombok Barat

Guru IPA SMP Negeri 3 Lingsar | Ketua Komunitas Guru Penggerak Lombok Barat | Penulis Buku 'Di Penghujung Pelukan (Mediakita), 'Pahlawan Antikorupsi: Sudah Adil, Kok!' (Funtastic MnC Gramedia), 'Tim Pencari Pesawat Sederhana' (Penerbit ANDI)

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

5 Cara Menanggapi Komentar Miring Netizen

27 November 2022   19:15 Diperbarui: 27 November 2022   19:40 138
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Dibuat dengan menggunakan Canva

Mengikuti kompetisi telah menjadi bagian dalam pengembangan diri sebagai seorang guru. Menang dan kalah adalah hal yang lumrah. Setidaknya dengan ikut kompetisi, seorang guru bisa meningkatkan kompetensi diri. 

Apa pun jenis lomba yang diikuti tetap saja tujuan akhir adalah mengetahui kemampuan diri. Sebab tanpa mengikuti kompetisi seorang guru tidak akan pernah tahu apa yang harus diperbaiki ke depannya. 

Menang bukanlah segala-galanya. Kalah pun tidak berarti akhir dari segalanya. Seringkali menang, berkali-kali kalah. Itu merupakan hal yang biasa. Yang luar biasa adalah menang tidak tinggi hati, kalah tidak rendah diri. 

Termasuk saya yang senang berkompetisi. Berkali-kali mengikuti kompetisi, menang dan kalah adalah cara belajar meningkatkan kompetensi. Saya pribadi tidak pernah berpikir harus atau seharusnya menang dalam sebuah lomba. Hanya berusaha mengikuti lomba dengan sebaik-baiknya. Hal ini terbukti tidak membebani. 

Hal ini juga justru menjadikan diri tidak mudah menyerah untuk terus mengembangkan diri melalui kompetisi. Pemikiran ini bisa menjadikan diri sebagai sosok petarung sejati. Pantang menyerah meskipun pada akhirnya harus kalah. 

Perjalanan mengikuti kompetisi penuh liku dan teka-teki. Saat sangat berharap bisa menang ternyata hasilnya tidak sesuai harapan. Namun, saat harapan menang tidak terbersit singgah di hati, justru di situ seringkali benderang asa menjadi nyata. Benar adanya jika rezeki adalah rahasia-Nya. 

Demikian halnya dengan komentar dari sejawat maupun netizen saat pengumuman pemenang sebuah lomba. Beragam komentar mau tidak mau harus ditanggapi. 

Komentar rekan sejawat relatif mudah dihadapi. Hal ini karena komentar sejawat berisi apresiasi dan umpan balik positif. Berbeda halnya dengan netizen dengan beragam komentar. 

Sebagai pribadi tentu tidak bisa mengatur netizen harus berkomentar apa. Setiap netizen memiliki penilaian sendiri terhadap hasil lomba. Tentu banyak hal yang melatarbelakanginya. 

Komentar positif dan negatif terkait kinerja dewan juri dan penyelenggara lomba adalah hal biasa. Meskipun demikian tentu jangan sampai menjadi kebiasaan. Bagaimanapun juga kita harus menyadari bahwa penyelenggara punya standar penilaian sendiri. Layak menurut netizen, belum tentu bagi juri dan penyelenggara.

Sebagai pejuang kompetisi, saya telah dia kali menemukan hal ini saat diputuskan menjadi pemenang. Pertama, saat mengikuti lomba menulis blog salah satu BUMN bidang telekomunikasi. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun