Mohon tunggu...
Sudirman Sultan
Sudirman Sultan Mohon Tunggu... Lainnya - Widyaiswara Balai Diklat LHK Makassar

Jagawana/Polisi Kehutanan di Taman Nasional Taka Bonerate 1999-2004 Widyaiswara di Balai Diklat LHK Makassar 2005 S/d Sekarang

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Ikhlas dalam Bekerja

15 April 2019   15:03 Diperbarui: 30 Juni 2021   08:57 1122
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ikhlas dalam Bekerja | freepik

Di zaman yang hampir semua diukur dengan materi, ikhlas dalam bekerja menjadi perkara yang sulit dilakukan.  Umumnya orang bekerja untuk mendapatkan uang.  Jika pekerjaannya telah dihitung akan menghasilkan uang banyak, maka pekerjaan itu akan dikerjakannya dengan sangat baik. Namun apabila pekerjaan itu dinilai menghasilkan uang sedikit maka kerjanya asal-asalan saja.

Ikhlas berarti membersihkan tujuan bekerja sebagai ibadah kepada Allah SWT dari segala noda yang mengotorinya. Memfokuskan diri bekerja sebagai ibadah hanya kepada Allah SWT dan bahkan bisa juga berarti tidak memperhatikan alam sekitar karena yang ada di matanya hanyalah Allah SWT semata.

Ikhlas merupakan syarat diterimanya pekerjaan sebagai amal shalih.  Allah SWT memerintahkan kita untuk selalu ikhlas dalam bekerja agar dapat dinilai sebagai amal shalih. "Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar)". (QS Al Bayyinah: 5).

Baca juga: Menyongsong Masa Pensiun dengan Ikhlas dan Bahagia

Ikhlas dalam bekerja bukan berarti orang tersebut tidak membutuhkan uang dalam hidupnya.  Tetapi menomor satukan tujuan ibadah dalam setiap pekerjaannya dan berserah diri kepada Allah Swt, Tuhan pencipta alam semesta sebagai penguasa dan pengatur rezeki.  Dengan keikhlasannya dalam bekerja, Ridho Allah Swt akan dia dapatkan dan kebutuhan uang pun akan terpenuhi.  

Sabda Rasulullah SAW, "Barangsiapa yang tujuan utamanya meraih pahala akhirat, niscaya Allah akan menjadikan kekayaan dalam kalbunya, menghimpunkan baginya semua potensi yang dimilikinya, dan dunia akan datang sendiri kepadanya seraya mengejarnya. Sebaliknya, barangsiapa yang tujuan utamanya meraih dunia, niscaya Allah akan menjadikan kemiskinannya berada di depan matanya, membuyarkan semua potensi yang dimilikinya, dan dunia tidak akan datang sendiri kepadanya kecuali menurut apa yang telah ditakdirkan untuknya". (Tirmidzi).

Hal ini sesuai dengan jaminan Allah dalam firmanNya, "Tetapi hamba-hamba Allah yang dibersihkan (bekerja dengan ikhlas). Mereka itu memperoleh rezki yang tertentu, yaitu buah-buahan. Dan mereka adalah orang-orang yang dimuliakan, di dalam syurga-syurga yang penuh kenikmatan". (Ash-Shaaffat: 40-43).

Akan berbeda halnya dengan orang yang bekerja dengan "TULUS" alias "Tujuan Fulus".   Uang akan dia dapatkan, tetapi bisa jadi Ridho Allah Swt akan semakin jauh darinya karena uang itu didapatkan dari jalan yang tidak diridhoi Allah Swt seperti menyalah gunakan kewenangannya sebagai "abdi negara". Imam Al-Ghazali menuturkan, "Setiap manusia binasa kecuali orang yang berilmu. Orang yang berilmu akan binasa kecuali orang yang beramal (dengan ilmunya). Orang yang beramal juga binasa kecuali orang yang ikhlas (dalam amalnya).  Keikhlasan dalam bekerja akan mendapat keutamaan dan keberkahan yang sangat besar.

Baca juga: Ngeyel-Marah-Nawar-Depresi-Ikhlas

Keutamaan dan jaminan bagi orang yang ikhlas dalam bekerja ini seharusnya menjadi motivasi utama kita dalam menjalankan tugas dan pekerjaan kita sehari-hari dalam apapun dimensi dan bentuknya. Karena hanya orang yang ikhlas dalam bekerja yang akan meraih keberuntungan yang besar di hari kiamat, yaitu syurga Allah yang penuh dengan kenikmatan, meskipun dia harus banyak bersabar terlebih dahulu ketika di dunia. Dalam tuntunan agama, orang yang ikhlas dalam bekerja adalah orang yang bersyukur, menikmati prosesnya dan menyerahkan segala urusan dan kepentingan hanya kepada Allah Swt, sehingga kesuksesan datang menghampiri ikhtiarnya.

Untuk menilai tingkat keikhlasan yang dialami saat bekerja, menurut ulama ada tiga tingkata ikhlas, yaitu :

  • Tingkatan tertinggi dari nilai ikhlas adalah bekerja merupakan ibadah yang semata-mata mengharapkan ridho Allah SWT, dengan berserah diri dan tawakkal kepada Allah SWT.
  • Tingkatan menengah dari nilai ikhlas adalah bekerja merupakan ibadah yang semata-mata mengharapkan pahala dan surganya Allah SWT dan terhindar dari siksa neraka-Nya.
  • Tingkatan bawah dari nilai ikhlas adalah bekerja merupakan ibadah  kepada Allah dan berniat mendapatkan kebaikan di dunia. Sebagai contoh : beribadah kepada Allah untuk mendapatkan rizki di dunia baik berupa kerja, uang atau

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun