Mohon tunggu...
Sudirman Hasan
Sudirman Hasan Mohon Tunggu... Dosen

Asli Jombang dan kini mengabdikan diri di sebuah lembaga pendidikan di Malang. "Dengan menulis, aku ada. Dengan tulisan, aku ingin hidup seribu tahun lagi..."

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Tips Menghadapi Asesor BAN-PT Era SAPTO

4 Februari 2019   11:48 Diperbarui: 4 Februari 2019   11:58 756 0 0 Mohon Tunggu...

Bulan Desember lalu, saya baru saja menyelesaikan pekerjaan bersejarah bagi program studi yang saya pimpin. Program Studi Hukum Keluarga yang berada di Fakultas Syariah UIN Malang meraih akreditasi dengan predikat A untuk kali yang ketiga. 

Kami sangat bangga karena kami dapat mempertahankan tradisi peringkat tertinggi di program studi kami dan bahkan kami mampu meraih nilai lebih tinggi daripada nilai akreditasi sebelumnya. Itu artinya performa program studi saat ini mampu menunjukkan trend positif dalam banyak aspek yang menjadi standar ukuran BAN-PT.

Pada kesempatan ini, saya ingin berbagi pengalaman hiruk-pikuk selama menyiapkan borang hingga menghadapi asesor saat asesmen lapangan. Jujur, ini adalah pengalaman pertama saya menahkodai proses akreditasi, apalagi di era SAPTO yang kesannya rumit dan menakutkan. Dulu, saat prodi kami dinilai untuk yang pertama dan yang kedua, saya hanya sebagai partisipan pendukung. 

Kali ini saya harus berhadapan langsung dengan asesor dan mempertanggungjawabkan segala data yang tercantum dalam borang serta menyiapkan seluruh bukti fisik dan argumentasinya.  Rasanya, tantangan ini jauh lebih berat ketimbang ujian disertasi...(hehehe). 

Tapi, alhamdulillah,  semua itu sekarang sudah berakhir dan menjadi masa lalu yang manis. Untuk itu, agar pengalaman ini tidak hanya tersimpan dalam memori saya pribadi, ada baiknya saya bagikan dalam bentuk tulisan yang semoga bermanfaat bagi siapa saja yang sedang menyongsong akreditasi di lembaganya.

Hal pertama yang harus dilakukan adalah memastikan bahwa isian borang sudah lengkap dan terkirim secara online dengan sempurna. Dulu, sebelum era SAPTO, naskah borang harus dikirimkan secara fisik ke BAN-PT. Di sana, ada proses pendaftaran borang dengan antrian yang cukup panjang.  Hal ini sering menimbulkan permasalahan tersendiri, misalnya terkait dengan waktu, biaya, dan keamanan fisik borang. 

Jika suatu saat ada keinginan untuk menyusulkan  borang revisi, proses panjang itu harus dilalui dan belum tentu borang lama dapat ditemukan dengan mudah. Akhirnya,  saat penilaian, tidak menutup kemungkinan, justru borang lama yang dinilai, bukan borang revisi yang disusulkan. Inilah salah satu kendala akreditasi di era manual. 

Sekarang, di era SAPTO, tidak ada lagi pengiriman naskah borang secara fisik. Borang dan lampirannya dikirim secara online. Oleh sebab itu, jika ada kesalahan pengiriman, file bisa dihapus dan dapat diganti dengan file baru secara langsung dengan catatan bahwa file tersebut belum divalidasi oleh BAN-PT. Jika file sudah dinyatakan lengkap dan telah diterima oleh BAN-PT, tidak ada lagi kesempatan untuk revisi borang. 

Kedua, persiapan bukti fisik.  Setelah dipastikan bahwa borang telah diterima dan telah dilakukan proses penentuan angka kecukupan, BAN-PT akan mengirimkan surat pemberitahuan bahwa asesmen lapangan akan dilakukan oleh dua asesor yang ditugaskan. Surat ini bisa jadi baru datang setelah masa penantian 3-5 bulan. 

Info ini sangat dinantikan karena tak lama lagi penilaian secara sempurna secara face-to-face akan dilakukan. Saya dan kawan-kawan semakin intensif menyiapkan dan memastikan keberadaan berbagai dukumen wajib dan dokumen pendukung agar mampu meyakinkan asesor. 

Tak lupa pula, kami memperbaiki fasilitas sarana dan prasarana fisik untuk memantapkan penilaian. Hal ini bukan mengada-ada tentunya apalagi menyulap hal-hal yang tidak ada sebelumnya. Kami lebih memastikan bahwa seluruh informasi dalam borang sejalan dengan kenyataan di lapangan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN