Mohon tunggu...
Sudiono
Sudiono Mohon Tunggu... Berbagi, membagi ide, cita-cita dan gagasan demi kemanusiaan

Pemerhati Masyarakat

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Jumputan, Lestarikan!

2 Agustus 2020   07:34 Diperbarui: 2 Agustus 2020   07:50 2 1 0 Mohon Tunggu...

Jumputan Di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Dari kata dasar: jumput. Cara menabung dengan memungut sejumput beras.

Contoh: Tradisi jumputan ini sudah sejak lama dilakukan oleh ibu-ibu rumah tangga di pedesaan jawa  dalam banyak tafsir jumputan adalah cara tradisional masyarakat pedesaan untuk memperkuat ketahanan pangan. Di masa era pandemik ini sirkulasi perdagangan bahan pangan terganggu seperti ekspor dan impor dalam memenuhi kebutuhan maka pemerintah menunjuk Provinsi Kalimantan tengah sebagai lokasi "Food Station" lumbung pangan stok di masa depan.

Kembali ke masalah Jumputan, pengalaman Penulis menunjukkan bahwa tradisi jemputan yang berakar dari kebiasaan (habit) nenek moyang kita harus benar-benar dilestarikan walaupun kita telah hidup di era digitalisasi.  Bagaimanakah cara Jumputan di masyarakat ? Sebenarnya sederhana dan simpel. Pada suatu desa, perkampungan atau dalam Kompleks Perumahan jumputan adalah cara yang tepat memperkuat ketahanan pangan. Jumputan biasanya berupa hasil bumi terutama beras yang merupakan makanan pokok orang Indonesia.

Tadi di atas telah disebutkan bahwa Jumputan tradisi kuno, menabung dengan memungut beras kemudian dikumpulkan dalam wadah oleh kepala Desa,  Ketua RT atau tokoh masyarakat. Biasanya waktu yang tepat untuk melaksanakan Jumputan adalah Sabtu malam minggu satu kali dalam satu minggu. Beras yang dijadikan sebagai sarana jumputan ukuran atau takaran biasanya disepakati bersamatergantung keinginan warga ada yang menetapkan mengunakan ukuran gelas minum, 1/4 literan, dan lain-lain kemudian di wadahi dengan kantong plastik. Warga yang menyerahkan jumputan biasanya meletakkan di depan  teras rumah masing-masing, atau kalau di perumahan gantung di pagar rumah.

Kapan petugas mengambil jumputan ? umumnya jika malam minggu ada sebagian kecil warga yang bertugas Ronda Malam bisa 3-4 orang. Nah, malam itu juga sambil ronda keliling desa, perumahan atau kompleks petugas ronda mengambil beras jumputan. Berdasarkan pengalaman dan pengamatan rata-rata di atas 70% warga masyarakat taat memberikan jumputan. Bisa kita kalkulasi berapa banyak hasil jumputan yang terkumpul. Jika satu perumahan ada 300 kepala keluarga (KK) dan mereka memberikan 1/4 liter saja maka setiap malam minggu bisa terkumpul 75 Kilogram beras. dalam sebulan ada 4 minggu maka rata-rata terkumpul 3oo Kilogram. Jika hanya terkumpul 70% pun jumlah beras Jumputan masih tetap banyak karena terkadang ada warga yang berkemampuan ekonomu berkecukupan akan memberikan dalam jumlah yang banyak bisa satu liter beras. Ini benar2 luar biasa cara berpikir nenek moyang kita dulu dalam membentuk "Food Station" siap masak.

Bagaimana pengelolaan Jumputan ? Pengelolaan Jumputan dilakukan oleh  perangkat desa bisa. Ketua RT, Kepala Desa atau tokoh masyarakat Ada dua cara pengeloaan  yaitu di jual langsung pada calon pembeli atau di simpan di lumbung Kantor Desa.  Jumlah beras yang terkumpul akan di simpan dahulu selama satu atau dua minggu agar jumlah yang terkumpul lebih banyak. Jika masyarakat akan mengadakan acara syukuran kampung, HUT RI atau agenda kerja bakti bulanan maka penyediaan makan warga bisa menggunakan beras jumputan. 

Sebaliknya jika ada warga masyarakat yang mengalami kesulitan finansial maka keberadaan jumputan sangatlah membantu. Mereka bisa membeli beras per liter atau per kilogram  jauh di bawah harga pasaran. Misalkan saja harga beras di pasaran paling murah Rp. 8.000,- per liter maka beras jumputan bisa di beli dengan harga Rp. 4.500 - 5.000,- per liter. Bayangkan berapa banyak warga masyarakat yang terbantu untuk memenuhi kebutuhan paling dasar manusia yaitu pangan. 

Di sisi lain beras yang di jual langsung bisa memberikan  pemasukan kas RT atau kas desa dan berguna untuk keperluan dan kepentingan masyarakat yang lebih luas dalam acara-acara warga tanpa terlalau banyak membebani masyarakat dengan pungutan-pungutan liar. Sangat luar biasa bukan ? Jadi bagaimana kita  menyikapi Jumputan di masa pandemik Covid-19 ini ?  Jawabannya wajib  kita LESTARIKAN bila perlu I FORMALKAN berupa peraturan Bupati/Walikota.

Beberapa kebaikan dari tradisi nenek  moyang kita bisa  dari sisi aspek sosial,  budaya, ekonomi, dan keamanan. Aspek sosial artinya jumputan meningkatkan kepedulian sosial masyarakat indonesia yang saat ini tergerus oleh nilai-nilai luar. Aspek budaya artinya kebiasaan baik harus dipertahankan dan terus di sosialisasikan secara intens. Aspek ekonomi artinya jumputan  mampu mengatasi kesenjangan ekonomi dan telah gterbuti tidak ada pelaku kejahatan yang berasal dari desa atau  perumahan yang menyelenggarakan jumputan dengan rutin dan berkesinambungan. Aspek kemanan artinya jumputan mengurangi tekanan pada aparat dalam menghadapi gangguan keamanan masyarakat.

Demikianlah kita wajib melestarikan Jumputan, setuju kah ?

VIDEO PILIHAN