Mohon tunggu...
Udin Suchaini
Udin Suchaini Mohon Tunggu... Penulis - #BelajarDariDesa

Lahir di Sukoharjo, Sekolah di Surakarta, Kuliah di Semarang dan Jakarta, Kerja di Jakarta, tinggal di Depok. Penduduk Indonesia!\r\n Serumit apa hidupmu, sebanyak itulah pengalamanmu.\r\n suchaini@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Menenggelamkan Kapal

22 September 2022   11:21 Diperbarui: 22 September 2022   11:26 78 0 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Filsafat. Sumber ilustrasi: PEXELS/Wirestock

Saya merasa, semakin bertambah umur semakin banyak yang berpura-pura. Ada raga yang harus berdiri tegak lebih dari biasanya. Ada jiwa yang harus berlagak kuat, karena tahu tidak ada pilihan lain selain bangkit dengan menerima keadaan. Karena, semakin ke sini, pilihan apapun menjadi semakin sulit. 

Semakin bertambahnya umur, usaha kita menghadapi persoalan seringkali menjadi bahan candaan. Saat kita dianggap gagal karena kesalahan hanya karena memiliki perbedaan sudut pandang, kita hanya diam dan berusaha mengabaikan. Karena, bagi mereka yang merasa tahu segalanya, apapun yang akan kita sampaikan menjadi  tidak menarik untuk disimak dan didengarkan. 

Padahal, mereka belum pernah tahu betapa lelahnya melewati derasnya hujan hingga badai yang panjang. Betapa banyak kita kehilangan, betapa banyak air mata kita keluarkan, betapa sakit penuh penderitaan. Masa-masa sulit, kegagalan, kehilangan, tak cukup sampai di sini, karena saat badai yang kita lalui terlihat mereda, ternyata harus berhadapan dengan tsunami yang lebih dahsyat melanda. Sementara, nahkoda mana yang ingin membawa kapalnya masuk ke badai yang jelas terlihat di depan mata? Sebagai penumpang, mengingatkan nahkoda tentu menjadi keharusan, karena kapal akan dibawa ke tengah lautan yang sudah dapat diprediksi di tengah musim yang terus berganti.

Pelaut pasti paham akan jalur yang akan dilalui. Nahkoda pasti mahir kapan memilih waktu yang tepat untuk membawa muatan dengan selamat. Nahkoda akan memilih diam di dermaga saat laut tidak bersahabat, sampai saat benar-benar aman untuk keselamatan penumpang dan muatan. Bukan memaksakan diri yang mengabaikan apa yang sedang dibawanya. Apalagi, bagi penumpang yang mabuk laut, jangankan badai, goyangan kapal pun seketika mampu membuatnya mual dan lunglai. Sementara saat badai melanda, orang kuat sekalipun mudah sekali bertumbangan. 

Jika perjalanan di laut dihadapkan pada gelombang, banyak strategi yang tentu sudah disiapkan. Bukan sekedar pelampung dan sekoci, namun seberapa kuat kapal ini menahan gelombang dan ributnya angin yang berpotensi menenggelamkan kapal. Apalagi, jika muatan yang memiliki harga fantastis, tentu nahkoda akan berupaya memilih jalur strategis, bukan jalur pintas yang membuat muatannya berhamburan, seakan-akan hanya memainkan peran tanpa memikirkan betapa besar kerugian yang akan terjadi. Apalagi, jika merasa kapalnya kuat, dan mampu melalui terpaan gelombang yang dahsyat.

Di darat, kapal dibangun dan diukur kemampuannya untuk menahan beban berat dalam kondisi aman. Di laut, kebocoran sana sini, tak akan mudah diperbaiki dan mencari pengganti, apalagi dibebani dengan muatan yang mudah menenggelamkan kapal yang ditumpangi. Tambah lagi, banyaknya orang-orang yang mabuk perjalanan, yang mencari jalan keluar sendiri-sendiri. Pilihan bertahan, menggunakan pelampung, hingga sekoci, ketiganya pilihan yang sulit dan sama-sama tidak bisa dinikmati.

Sementara, bagi mereka yang kuat dan mau memberikan motivasi, tak akan banyak didengar oleh penumpang yang kelelahan akibat guncangan. Tambah lagi mereka yang kuat dan marah-marah pada rekan seperjalanan, tentu saja hanya akan memperkeruh keadaan. Seakan-akan mereka yang paling kuat dan mampu bertahan di tengah badai yang sengaja diterobos nahkodanya sendiri. 

Nahkoda yang baik, pasti paham dengan kondisi laut yang akan diarungi. Sehingga nahkoda akan mengambil pilihan sulit jika sudah terlanjur di posisi ini, salah satunya menghentikan mesin sementara dan mengikuti arus sampai badai mereda. Karena, jika mesin kapal tetap menyala, potensi kapal karam akan semakin besar. Padahal, banyak penumpang dan muatan yang akan dipertaruhkan. 

Bagi penumpang, pelampung dan sekoci pilihan sulit yang sangat tidak disukai. Sehingga, mereka hanya berharap pada dua hal, segera terlihat dermaga atau segera mengganti nahkoda demi keselamatan bersama. Tentu saja, tidak ada hal yang menarik dari cerita ini, karena turun meninggalkan kapal saat badai sama saja bunuh diri. 

Akhirnya, sampai tidaknya kapal di dermaga tujuan hanya akan berakhir sama, rusaknya kapal atau karam tepat sebelum dermaga disinggahi. Lebih tidak menarik lagi, saat mabuk laut dianggap telah mencapai puncaknya, justru komedi yang sebenarnya baru dimulai: jika kamu beruntung, kamu akan melihat betapa lelahnya nahkoda yang kesulitan menyeimbangkan kapal, namun saat  mencoba membantu maka beban yang jauh lebih berat akan kau rasakan. Hingga akhirnya kamu tersadar, bahwa mengganti nahkoda adalah jalan terbaik menuju dermaga tujuan demi mengamankan penumpang dan muatan yang terlalu banyak jika harus dikorbankan. Jika tidak, kerugian apa lagi yang ingin diciptakan?

Mohon tunggu...

Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan