Mohon tunggu...
Subhan Yulianto
Subhan Yulianto Mohon Tunggu... Sang Jurnalis Madrasah di Hutan Sungai Mahakam

Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Dimana kita di SK-kan, disanalah kita menghormati adat istiadat di tempat tinggal kita. di Bumi Etam Muara Ancalong merupakan tempat saya di SK-kan untuk mengelola administrasi MTs Negeri Kutai Timur, sekaligus Jurnalis Madrasah dibawah naunagan Humas http://kaltim.kemenag.go.id . Pahit nggak pahit, mau nggak mau mesti HARUS dijalani demi Negara Indonesia tercinta. Saat kepenatan atas terkurungnnya saya, Istri dan anak saya di engah hutan belantara, 8 jam menuju Ibu kota Kaltim, Samarinda. 12 Jam ke Sangatta sebagai Ibu Kota Kutai Timur. belum lagi sakit saya batuk-batuk hingga berdarah; jauh dari Rumah Sakit, serta belum adanya tanda-tanda saya mutasi ke Kota, menjadikan diri ini semakin sempit dan pasrah terhadap keadaan. belum lagi masalah pendidikan anak saya. Saya ingin sekali menyekolahkan ke Kota, namun apa daya sangat jauh dari pantauan Orang Tua. Sempat saya katakan: "Bersabarlah nak.. walau kamu siswi terbaik pertama pada UNBK tahun 2019 se MTsN Kutim, amun kamu harus tahu kondisi abah.. Semoga pada saatnya kamu bisa melanjutkan Kuliah di tempat yang paling baik, sesuai dengan keinginan hatimu nak.." Diiringi dengan niat baik untuk mengubah kondisi tersebut, dengan berbagi pengalaman saya selama ini di tengah hutan, serta menimba ilmu dari senior, maka dari itulah saya bergabung dengan kompasiana. Semoga dengan secarik kertas digital ini dapat membantu teman-teman, Terimakasih..

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

MTs Negeri Kutai Timur Selenggarakan Upacara Hari Sumpah Pemuda ke-91

28 Oktober 2019   12:02 Diperbarui: 28 Oktober 2019   12:10 1 0 0 Mohon Tunggu...

Muara Ancalong, (Madrasah). Upacara Hari Sumpah Pemuda ke-91 di MTsN Kutai Timur berjalan dengan lancar, meskipun guru dan pesertanya tidak mengenakan baju adat istiadat sebagaimanana Juklak Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-91 tahun 2019. Hal ini mengingat haga baju adat yang relatif mahal dan sulit didapatkan di pedalaman hutan Kalimantan Timur. (28/10).

Anang Miftah, S.Ag, Selaku Kepala MTsN Kutai Timur mengatakan bahwa: "Pada zaman kemerdekaan dulu, para pemuda Indonesia, melalui Java, Jong Sumatranen Bond (Pemoeda Soematera), Pemoeda Indonesia, Pemoeda Kaoem Betawi dan Perhimpoenan Peladjar-Peladjar Indonesia dan sebagainya, bertempur melawan penjajah sampai titik darah penghabisan guna dalam melindungi Bangsa dan Negara Republik Indonesia. Menyatukan visi Indonesia satu, dengan mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia. Berbangsa yang satu, bangsa Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Sekarang kita juga dituntut untuk mengisi kemerdekaan ini dengan belajar, dan belajar, mengingat zaman sekarang tantangan pemuda sangat berat".

Anang menambahkan bahwa :"Canggihnya ilmu pengetahuan dan teknologi serta mudahnya akses terhadap sosial media, telah menjelma menjadi ajang hiburan anak-anak muda lintas negara, lintas budaya, lintas agama, dan interaksi mereka di sosial media berjalan real time 24 jam. Disinilah diharapkan peran kita dapat bersaing berlomba dalam bentuk apapun tentunya dalam hal yang posistif. Jangan hanya kita menang sebagai jago kandang, kita harus belajar untuk mengukir prestasi. Banyak sekali ajang prestasi di Kementerian Agama yang harus kita kembangkan, seperti KSM,Pentas PAI,Kompetisi Robotik, belum lagi dari Dinas Pendidikan seperti ODSN, OSN dan sebagainya". (Subhan).

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x