Mohon tunggu...
chandra ubayanti
chandra ubayanti Mohon Tunggu...

saya seorang pendidik

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Apa yang Dapat "Dicuri" di Korea Selatan? (Bagian 1)

12 Maret 2019   08:40 Diperbarui: 17 Maret 2019   10:03 0 0 0 Mohon Tunggu...
Apa yang Dapat "Dicuri" di Korea Selatan? (Bagian 1)
Dokpri

Catatan Program Pelatihan 1000 guru di Korea

Berada di Korea bahkan dapat menimba ilmu di Korea menjadi mimpipun tidak. Tapi inilah kenyataannya. Saya bersama seribu lebih guru dan tenaga pendidikan lainnya adalah satu dari yang mendapatkan kesempatan untuk belajar di luar negeri. 

Program pelatihan bagi 1000 tenaga pendidik dan tenaga kependidikan di tahun 2019 ini memang untuk pertama kalinya dilaksanakan secara serentak  oleh Dirjen GTK di beberapa negara, termasuk Korea Selatan. 

Untuk Korea Selatan, Dari hasil seleksi PPPPTK Matematika diutuslah  17 orang guru-guru matematika jenjang SMP dan SMA, serta 3 orang widyaswara dari PPPPTK Matematika ke Korea National Universty of Education (KNUE) di CheongJu, termasuk saya.  

Perjalanan (formal) kami diawali dari kegiatan pre-departure mulai 17 Februari hingga 2 Maret 2019 di Hotel Grand Mercure, Harmoni, Jakarta. 

Pembekalan berupa arahan dan bimbingan, serta wawasan tentang konten materi yang akan diterima di Korea disampaikan oleh pemateri dari PPPTK Matematika, PPPPTK MIPA, dan Seamolec. Sejumlah template: jurnal harian, laporan individu, dan  bahan ajar menjadi bekal kami. 

Pesan Ibu Kapus P4TK Matematika adalah untuk senantiasa serius dan bersemangat dalam belajar selama di Korea, karena kami adalah duta bangsa. Kami adalah guru pilihan dari jutaan guru di Indonesia, maka berbuatlah yang terbaik bagi bangsa


Bekal ke Korea

Usai penutupan kegiatan pre-departure tanggal 2 Maret pukul 11.00 WIB bukan saat yang longgar bahkan justru sebaliknya. Pasalnya pukul 16.00 WIB kami sudah harus bersiap untuk berangkat ke bandara Soeta tujuan Seoul Korea. 

Bagi teman-teman dari daerah yang belum menyiapkan perlengkapannya terutama pakaian untuk di musim dingin ini menjadi saat yang menegangkan. 

Ada yang masih belum memiliki sarung tangan, sweater, jaket, masker, longjohn langsung bergegas menuju Pasar Mangga Dua, atau mall-mall di sekitar hotel. 

Tak hanya itu, para ibu-ibu (termasuk saya) tak lupa membekali diri dengan aneka sambal, abon, mie instan, dan penganan lainnya yang kira-kira dapat membantu kami bertahan hidup. 

Dari informasi yang diperoleh dari pihak KNUE, kami akan tinggal di dormitory (asrama), di sediakan mesin cuci, dan makan di cafetaria kampus. 

Informasi ini seharusnya tidak membuat kami harus membawa bekal berupa makanan, namun memang sebagai muslim, kami harus ekstra hati-hati dengan menu yang disedikan oeh pihak kampus, hal ini karena menu masyarakat Korea tidak semua dapat halal dikonsumi oleh kami. Siap tidak siap kamipun bertolak ke bandara Soeta menggunakan bus. 

Waktu keberangkatan yang tertera di tiket adalah pukul 23.05 WIB memang, namun karena kami berangkat dalam jumlah yang tidak sedikit yang dikhawatirkan akan memakan waktu saat masuk di bagian imigrasi maka pilihan waktu berangkat di sore hari sudahlah tepat. 

Kami semua belum pernah ke Korea. Bahkan beberapa dari kami ada yang belum sama sekali ke luar negeri. Perjalanan Jakarta- Seoul sekitar  7 jam  non stop. Suhu udara di bandara InCheon saat kami mendarat esok paginya diperkiran -1 derajat Celcius. 

Macam-macam tingkah kami. Ada yang sudah memakai baju berlapis mulai dari Jakarta sampai-sampai belum juga naik pesawat, keburu kuyup dengan keringat. Meski sangat senang dapat benar-benar akan Korea, namun sesungguhnya kami semua berdebar apakah mampu atau tidak bertahan dalam paparan udara dingin nanti setiba di Seoul.

Welcome in Incheon, Seoul

Pesawat Garuda jenis Boing menyentuh landasan Incheon tepat waktu, yakni pukul 07.05. Terdapat perbedaan waktu sebesar 2 jam dengan Jakarta, namun sama dengan waktu Indonesia Timur. 

Jam tanganku tidak perlu aku ubah, karena sudah sama-sama WIT, tidak repot pula menyesuaikan waktu dengan waktu senggang anak untuk berkomunikasi. 

Benar sesuai ramalan cuaca, suhu di bandara sekitar -1 derajat Celcius. Kami semua mengeluarkan seluruh perlengkapan untuk melindungi diri. Volume tubuh tiba-tiba bertambah 20 hingga 30 persen rasanya. 

Kesan pertama menginjakkan kaki di bandara Incheon ini adalah rapih dan bersih. Desain interiornya tidak ramai tapi elegan. 

Tidak banyak ornamen yang kadang dapat membuat bingung para penumpang, namun petunjuk-petunjuk yang ada cukup mudah dipahami bagi penumpang yang baru pertama kalipun. 

Mulai dari toilet, pemeriksaan di bagian imigrasi, hingga pengambilan bagasi tampak teroganisir sangat rapih, hal ini karena teknologi yang digunakan tampak canggih. 

Ada robot yang berkeliling (meski aku tidak tahu persis fungsinya) namun ia lebih tampak seperti petugas bandara yang berkeliling untuk menjalankan tugas tertentu. 


Apa yang dapat "dicuri" dari Korea? 

Setelah bagasi kami lengkap dan siap untuk melanjutkan ke tujuan kami yaitu KNUE, di Cheong Ju yang jauhnya sekitar 1,5 jam perjalanan. Utusan KNUE ada yang menjemput, yaitu seorang dosen Bahasa Korea yang sempat bertugas di Jakarta selama 8 tahun. 

Ia sempat berpesan kepada kami untuk dapat membekali diri dengan air minum yang tersedia bebas di bandara. Tidak hanya itu, ia pun menyebutkan bahwa di Korea air minum dapat diperoleh secara gratis, tidak seperti di Indonesia ya begitu katanya. Meski tersindir dengan pernyataan ini, tapi memang kenyataan. 

Saya masih hafal benar berapa saya harus mengeluarkan uang untuk keperluan air minum selama satu bulan di tempat tinggal saya di Fakfak, Papua barat. Rata-rata saya memerlukan 30 galon air minum selama sebulan. Harga per galon Rp. 15.000,- berarti Rp. 450.000,- satu keluarga seperti saya mengeluarkan uang untuk memenuhi kebutuhan air minum. 

Mari angka ini dikali banyaknya angka KK yang ada, sudah berapa? Tidak sedikit tentu. Meski PDAM dengan kepanjangan Perusahan Daerah Air Minum, yang bermakna apa yang dihasilkan PDAM haruslah dapat diminum, namun tak dapat dipungkiri kenyataannya tidak sesuai namanya.

Apa yang disampaikan dosen KNUE itu bukan isapan jempol. Saya melihat dan menyaksikan sendiri bagaimana mudahnya memperoleh air minum di tempat-tempat umum. 

Di kampus tempat kami belajar juga di dormitory tersedia air minum panas dan dingin dari dispenser tanpa galon sama sekali. Di belakang dispenser itu tampak selang-selang ke dalam dinding, yang menunjukkan ada sistem, ada instalasi yang menghubungkan seluruh dispenser yang ada di sini. Bagaimana teknik pengolahannya? Pendistribusiannya?pemeliharaannya? 

Perangkatnya harus seperti apa saja? Hal ini sangat menarik perhatian saya. Jika saja hal ini diterapkan di Indonesia tentu kebutuhan mendasar bagi masyarakat akan air minum dapat tercukupkan secara gratis. Tidak hanya dispenser air minum yang mudah ditemui di tempat-tempat umum, mesin penyedia gelas juga disediakan.

 Ada mesin yang dapat mengeluarkan gelas-gelas alunumium yang dapat dipakai siapapun yang hendak minum. Gelas kotornya diletakkan ditempat tertentu untuk kemudian didaur (dicuci di dalam mesin itu) untuk kemudian siap digunakan kembali. Beberapa mesin menyiapakn pilihan gelas sekali buang dari kertas berlapis plastik. 

Saya pernah menemukan ada dua tipe kertas. Berbentuk kerucut (yang tersusun seperti susunan cone es krim) dan bentuk kertas (yang selintas seperti amplop kecil). 

Hal ini sangat menarik dan penting dicuri bagi kita bangsa Indonesia, terutama para pemangku kepentingan. Tidak dapatkah hal ini dapat kita curi  lalu diterapkan di Indonesia?


KNUE, Cheong Ju, Korea Selatan, 12 Maret 2019






VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x