Mohon tunggu...
Stevanus Rivaldo
Stevanus Rivaldo Mohon Tunggu... Oh, hi there!

Nama gue Aldo Gue lulusan Fakultas Hukum Universitas Tarumanagara tapi bukan berarti gue bakal selalu nulis soal hukum. Gue bakal share pendapat gue soal beragam cerita yang ada di dunia atau share soal pengalaman pribadi gue yang mungkin akan berguna kalo gue share. Tulisan-tulisan gue akan gue buat dengan gaya yang informal dan santai (kayak gini) tapi gak bakal ilangin esensinya. Beberapa juga mungkin bakal gue selipin jokes (so don't take it too serious). Feel free to share your thoughts below, it's a free country. Cheers!

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Tertawalah Sebelum Tertawa Itu Menyinggung

2 Juni 2020   15:47 Diperbarui: 2 Juni 2020   15:58 21 2 0 Mohon Tunggu...

Oh hi there! Udah lama ya gak update haha. Maklum nulis emang kalo mood dan niat doang :)) Ditambah berita yang isinya kebanyakan soal corona jadi yah agak bingung juga mau nulis soal apa. Tapi ini gue ada sedikit cerita, semoga ada gunanya buat kalian yang baca.

Media sosial kembali membuat otak gue secara enggak sengaja memunculkan pertanyaan reflektif. 

Beberapa hari belakangan ini di timeline twitter, line dan bahkan instagram rame dengan jokes soal Fizi ngeledek Upin dan Ipin soal "surga di telapak kaki ibu". Yah, gue rasa kalian udah pada tau lah ya detailnya gimana jadi gak usah gue jelasin lagi. 

Kemudian gak sampe sehari muncul twitter account Fizi (jadi2an pastinya) yang isinya beberapa jokes ngeledekin Upin Ipin yang yatim piatu. Beberapa orang (termasuk gue) nganggap gak ada masalah sama jokes-nya tapi ada beberapa orang yang nganggap jokes-nya gak sopan dan kelewatan.

Hal ini membuat gue inget beberapa kejadian yang hampir mirip. Yaitu bit-nya Bang Pandji Pragiwaksono soal kucing yang rame dikritik sama pencinta hewan. Emang sepertinya gak apple to apple, tapi entah kenapa gue ngerasa cukup berhubungan.

Hubungan yang gue liat itu ada pada ketersinggungan oleh jokes. Kemudian ketersinggungan itu diekspresikan oleh mereka yang tersinggung dengan, well menurut gue, cukup emosional. 

Gue melihat sebenernya orang sah-sah aja merasa tersinggung oleh jokes. Rasanya sulit memang mengontrol perasaan tersinggung yang ada di dalam diri seseorang. Tapi yang lebih sulit lagi adalah melihat sampai seberapa batas ketersinggungan seseorang. Gue rasa setiap orang punya batasan yang beda-beda dan orang lain udah pasti gak bisa tau batasan itu.

Coki Pardede (another komika) dalam suatu diskusi yang gue liat di youtube-nya Asumsi pernah bilang bahwa tersinggung adalah pilihan. Orang-orang bisa memilih untuk tersinggung atau tidak tersinggung terhadap suatu hal. Menurut gue Bang Coki gak salah, tetapi gue melihat bahwa untuk seseorang bisa mengontrol 'ketersinggungan' ini cukup sulit dan gue rasa gak banyak orang yang mampu mengontrolnya.

Nah dalam konteks jokes, menurut gue yang lebih mudah adalah mengontrol ekspresi dari emosi kita. Emosi yang gue maksud adalah emosi yang timbul dari ketersinggungan kita. Baik ekspresi itu berupa tindakan atau verbal. Kita boleh saja merasa tersinggung oleh sesuatu jokes tapi ada baiknya kita tidak mengekspresikannya secara berlebihan. Bagi sebagian orang yang merasa lucu ya akan tetap lucu tapi bagian orang yang merasa gak lucu gak bisa dipaksain juga kan.

Poin gue adalah rasanya terlalu egois untuk memaksakan batasan ketersinggungan kita untuk diterapkan ke orang lain, apalagi untuk sebuah jokes. Seperti yang gue bilang tadi, batasan ketersinggungan orang beda-beda, pada jokes yang sama lu bisa tesinggung tapi gue engga, atau sebaliknya. Dan gak mungkin rasanya si pelawak tau batasan  ketersinggungan semua orang. 

Jadi, tertawalah sebelum tertawa itu dilarang, eh menyinggung mksdnya hahaha...

VIDEO PILIHAN