Mohon tunggu...
Edukasi

Mengukur Besarnya Pengaruh Proyek "The Belt and Road Initiative" bagi Indonesia

11 Oktober 2018   00:41 Diperbarui: 11 Oktober 2018   05:44 1018 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Mengukur Besarnya Pengaruh Proyek "The Belt and Road Initiative" bagi Indonesia
Arsip pribadi

Beijing-(8/10/2018), Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Tiongkok kembali mengadakan webinar dengan tema 'Seberapa Besar Pengaruh Proyek The Belt and Road Initiative bagi Pembangunan Indonesia ?'. Pada Webinar kali ini hadir pembicara yang berasal dari kalangan peneliti dan akademisi. Bapak Yeremia Lalisang, dosen Hubungan Internasional, Universitas Indonesia, Fadlan Muzakki Fellow Graduate Student, School of Silk Road, Renmin University dan  Bapak Sugiarto Pramono, Dosen bidang Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Wahid Hasyim, Semarang.

Pada pemaparan materi pertama, Bapak Lalisang menjelaskan bahwa proyek The Belt and Road Initiative ini merupakan respon Tiongkok dari 'tekanan' global. Hal tersebut juga merupakan tantangan bagi Tiongkok seiring dengan pesatnya laju ekonomi Tiongkok selama 10 tahun terakhir. Proyek ini digagaskan bukan semata-mata dalam rangka meningkatkan sisi perekonomian. Namun, dapat meningkatkan pengaruh Tiongkok dalam bidang lain seperti sosial serta politik global.  Proyek BRI ini merupakan cerminan Tiongkok sebagai negara besar yang memiliki pengaruh dan eksistensi yang semakin kuat di dunia Internasional.

Khususnya di dalam negeri Indonesia, sebenarnya Tiongkok pernah mempromosikan proyek ini pada masa kepemimpinan Presiden SBY, tetapi pada saat itu Indonesia tidak serta merta menerima gagasan tersebut. Respon diplomatik juga tidak segara dilakukan dalam rangka menyambut proyek ini. 

Hal ini berbeda dengan Vietnam yang melakukan respon diplomatik yang lebih cepat dengan Tiongkok untuk merealisasikan kerjasama tersebut. Baru pada tahun 2017, ketika Presiden Jokowi berkunjung ke Tiongkok dalam forum The Belt and Road Initiative, respon Indonesia mulai terlihat lebih jelas dalam menyikapi proyek ini. Dalam pengamatan Yeremia, proyek kereta cepat Jakarta-Bandung dapat dikatakan sebagai bagian dari the 'big thing' tersebut walaupun tidak pernah disebutkan secara jelas.

Menurut Y. Lalisang Indonesia masih sangat lambat dalam merespon proyek ini. Berita mengenai kereta cepat Jakarta-Bandung pun tidak banyak disoroti. Padahal menurut beliau, Indonesia seharusnya memanfaatkan proyek The Belt and Road Initiative ini dan disesuaikan dengan kondisi negara Indonesia sendiri. "Pemerintah perlu memperkuat dalam sisi demand, yaitu pemerintah harus memiliki rencana bentuk kerjasama apa yang diinginkan sehingga dapat menguntungkan negara Indonesia" tutur beliau. 

Melanjutkan penjelasan mengenai pengearuh proyek BRI, pada sesi ke-2, Fadlan Muzakki menjelaskan bahwa lambatnya respon diplomatik yang dilakukan Indonesia berhubungan dengan perbedaan sistem ekonomi, hukum, dan politik antara Tiongkok dan Indonesia. Hal menimbulkan pengertian hukum yang berbeda di kedua negara, sehingga respon diplomatik tidak mudah untuk dilakukan. 

Dalam fase berikutnya pemateri yang juga merupakan Pengamat Asia Tenggara ini  memaparkan sebuah hasil penelitian mengenai proyek BRI.  Menurut penelitian itu, ada tiga perspektif yang berbeda yang menarik untuk dikaji, yaitu pemerintah, media, dan society. Pemerintah Indonesia melihat proyek ini sebagai proyek besar dalam pembangunan ekonomi. Hal ini juga menjadi tuntunan globalisasi. " Jika Indonesia tidak ikut serta, maka bisa saja Indonesia akan tertinggal" Paparnya. Pemerintah juga melihat bahwa proyek ini sebagai sebuah peluang meningkatkan investasi  dalam negeri 

Kajian ilmiah tersebut berkesimpulan bahwa proyek Belt and Road Initiative ini mendapat dukungan penuh dari pemerintah. Namun masyarakat belum familiar dengan adanya  proyek ini. Namun, tantangan yang dihadapi dalam proses pembangunan Jalur Sutera Modern ini adalah pergantian kekuasaan yang berdampak kepada respon masyarakat terhadap sebuah program Pemerintah. 

Di akhir sesi, Pemateri yang juga Ketua Umum PPI Tiongkok ini juga berpesan kepada generasi muda agar cerdas dalam menyikap hal yang berhubungan dengan hubungan Indonesia-Tiongkok. "Jangan terlalu termakan isu isu yang belum pasti, dan sebagai mahasiswa yang bersekolah di Tiongkok, sampaikan berita-berita yang memang apa adanya mengenai Tiongkok" tutur beliau. 

Materi pamungkas dalam  acara Webinar ini disampaikan oleh Sugiarto Pramono sekaligus Peneliti Pusat Kajian Strategis (PUKAT) the Belt and Road Initiative PPI Tiongkok. Ia banyak membahas tentang kompetisi antara Amerika dan Tiongkok. Dalam paparannya, kebangkitan Tiongkok dapat dilihat dari beberapa faktor yaitu kenaikan GDP yang konsisten dan  ekspansi pasar yang besar. Selain sebagai raksasa Ekonomi dengan pembangunan infrastruktur yang massif,  Tiongkok ternyata merupakan konsumen energi yang sangat besar dibandingkan negara-negara lain.

Saat ini, Amerika dan Tiongkok terlibat dalam isu dagang yang sedang hangat di kancah Internasional. Kompetisi lain adalah unjuk kekuatan militer melalui peningkatkan alat persenjataan menjadi tidak terhindarkan. Adanya perlombaan senjata merupakan ekspresi dari keseimbangan kekuatan antara AS dan Tiongkok sebagai 'major country' saat ini. Menurutnya, keseimbangan kekuasaan sebagai jaminan stabilitas politik internasional. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x