Mohon tunggu...
Steven Chaniago
Steven Chaniago Mohon Tunggu... Email: kecengsc@gmail.com

Mahasiswa Komunikasi

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Pengalaman Kuliah Online: Disiksa Tugas dan Keadaan

26 Oktober 2020   15:22 Diperbarui: 26 Oktober 2020   15:27 185 23 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Pengalaman Kuliah Online: Disiksa Tugas dan Keadaan
Potret Sistem Pembelajaran Daring/liputan6.com

Semenjak memasuki masa pencegahan virus Covid-19, memang semua lini pendidikan tak diayal harus merubah sistemnya dari tatap muka menjadi tatap laptop.

Pro dan kontra sistem pendidikan virtual pun nyatanya kerap terjadi di media sosial, meski belakangan tenggelam karena kasus vaksin Covid-19, pengesahan Omnibus Law, dan lain sebagainya.

Itu sebabnya, ketika mall dan bioskop buka lebih dulu daripada sekolah dan universitas, disitu saya merasa sangat gondok. Jika argumentasinya sekolah dan universitas bisa dilakukan secara virtual, lalu apa bedanya dengan mall dan bioskop? Toh ada Shopee, Tokopedia, Lazada dan masih banyak lainnya bila ingin berbelanja. Mau nonton? Ada YouTube, Netflix, dan banyak platform lainnya yang bisa dilakukan secara online. Lagian apa enaknya juga nonton bioskop dengan sistem "isi kosong isi kosong".

Kembali ke topik kuliah dan sekolah online, kalangan pelajar khususnya siswa SMA dan mahasiswa seperti saya, seringkali mengeluhkan proses belajar secara virtual ini. Bukan karena masalah adaptasi, tapi memang sejatinya pendidikan yang efektif tak bisa dilakukan secara virtual saja.

Maka dari itu, mami menginginkan proses pembelajaran secara tatap muka karena memang ilmu yang disampaikan lebih menempel di kepala, tidak mudah bosan karena adanya interaksi secara langsung, tugas yang lebih sedikit, serta dapat memanfaatkan fasilitas kampus guna menunjang pembelajaran. Toh selama kuliah online biaya kuliah juga tidak turun, meski mahasiswa tidak memakai fasilitas kampus.

Tidak hanya itu saja, keadaan pun semakin mempersulit mahasiswa yang harus berjam-jam menatap layar laptop guna menyelesaikan tugas seabrek yang diberikan oleh bapak/ibu guru dan dosen. Beberapa teman kuliah pun mengeluhkan pengelihatannya yang mulai terganggu karena situasi ini. Hal itu pun juga saya rasakan sendiri, apalagi minus mata saya yang lebih dari 5, memang sangat terasa dampaknya dari kuliah online ini.

Ibarat pepatah "Sudah jatuh tertimpa tangga" pun cocok disematkan pada saya dan teman-teman. Bagaimana tidak, setelah harus berhadapan dengan situasi sulit diatas, saya dan teman-teman pun masih harus berhadapan dengan tugas dari dosen yang tidak kooperatif.

Sebelum saya lanjut lebih jauh, saya terlebih dahulu ingin meminta maaf kepada teman-teman sesama Kompasianer yang melakoni profesi sebagai dosen/guru, ketika membaca tulisan saya selanjutnya. Kalau bapak/ibu kiranya tidak melakukan hal dibawah, mohon jangan diambil hati tulisan saya. Kalau pun ada dari bapak/ibu melakukan hal dibawah, semoga bisa menjadi referensi agar menjadi lebih baik kedepannya.

Semua unek-unek hasil belajar online akan saya tuangkan dalam satu kata saja, tugas. Entah mengapa, saya merasa tugas ketika menjalani kuliah online rasanya menjadi dua kali lebih banyak. Keluhan yang sama juga berulang-kali disuarakan sesama teman universitas di media sosial. Tapi hasilnya nihil, tugas tetap datang membantai saya seperti Ajax Amsterdam membatai VVV Venlo 13-0. Remuk redam rasanya mental dan fisik saya.

Memang ada dosen yang menjelaskan alasannya dibalik pemberian tugas yang cukup banyak tersebut. Alasan yang bisa saya terima adalah karena saya termasuk mahasiswa semester 7, jadi logikanya tugas yang diberikan akan jauh lebih berat secara kualitas dan kuantitas dibanding semester-semester sebelumnya.

Namun, ada baiknya ibu/bapak guru dan dosen berkomunikasi dengan guru atau dosen pelajaran lain, apa dan sebanyak apa kuantitas tugas yang diberikan. Bayangkan, bila semua dosen atau guru berpikir untuk menaikkan tingkat kuantitas tugas kepada anak didiknya, selama apa seorang pelajar tersebut harus menyelesaikan tugasnya? Tugas tersebut pun akhirnya hanya akan menjadi "beban yang harus diselesaikan" dari yang seharusnya adalah "pendalaman materi".

Sebagai gambaran, dalam satu mata pelajaran saya menerima 3 tugas sekaligus. Tugas harian yang deadline-nya bisa 1 hari sampai 1 minggu, lalu ujian tengah semester dalam bentuk presentasi dengan deadline 2 minggu, ditambah ujian akhir dalam bentuk project jangka panjang yang sudah harus dikerjakan di pertengahan semester untuk dipresentasikan di akhir semester.

Teman-teman pusing membaca paragraf diatas? Iya, saya juga pusing kok, padahal baru ditulis saja belum dikerjakan loh. Untungnya, dosen saya yang lain mengerti situasi ini, dan malah menurunkan kuantitas tugas namun pemahaman mahasiswa benar-benar dituntut saat mengikuti kelas online. Salut saya dengan dosen yang pengertian seperti ini.

Apakah keluhan saya sudah cukup sampai disitu saja? Masih belum, izinkan saya mengeluh lagi di Kompasiana, karena kalau saya mengeluh ke yang bersangkutan bisa-bisa saya tidak lulus dari kelasnya.

Ada pun dosen yang memberikan tugas namun tidak dijelaskan secara detail bagaimana cara mengerjakan dan ketentuan membuat tugasnya tersebut. Terang saja, saya diminta membuat research proposal (proposal penelitian) tanpa diberikan template atau kerangka yang jelas oleh yang bersangkutan.

Bayangkan saja, di minggu sebelum-sebelumnya saya baru diminta judul dan research statement (pernyataan penelitian), eh minggu ini saya diminta membuat proposal penelitiannya dalam waktu seminggu. Mohon maaf, sepintar dan serajin-rajinnya saya, kalau diminta membuat proposal penelitian dalam waktu seminggu ya tepar juga saya bapak dosen yang terhormat. Ingat, ini belum ditambah tugas yang diatas tadi. Hahaha mau nangis saya rasanya.

Kata penutup, baiklah saya akan melanjutkan mengerjakan tugas saya, saya merasa cukup lega sudah menumpahkan unek-unek saya di artikel ini. Semoga pandeni Covid-19 ini cepat berlalu, karena saya sudah lelah belajar secara virtual.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x