Mohon tunggu...
Steven Chaniago
Steven Chaniago Mohon Tunggu... Email: kecengsc@gmail.com

Mahasiswa Komunikasi

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan Pilihan

Indonesia Batal Jadi Kelinci Percobaan Vaksin Covid-19 karena Jokowi

23 Oktober 2020   13:51 Diperbarui: 23 Oktober 2020   14:04 364 26 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Indonesia Batal Jadi Kelinci Percobaan Vaksin Covid-19 karena Jokowi
Potret Joko Widodo Sesaat Sebelum Memberikan Speech/sulawesion.com

Beredar luas di media beberapa hari yang lalu bahwa Kemenkes RI akan mengimpor vaksin untuk Covid-19. Hal ini sontak menjadi perdebatan di kalangan masyarakat, sebab vaksin yang akan diimpor tersebut belum lolos uji klinis tahap 3.

Jadi ibaratnya, Indonesia seakan menjadi kelinci percobaan para perusahaan pembuat vaksin tersebut. Bila berhasil, berarti vaksin tersebut secara otomatis lolos uji klinis tahap ke-3. Namun apabila gagal, ya uang yang sudah dibayarkan ya hangus begitu saja.

Beberapa influencer pun mencoba menganalisa kasus vaksin Covid-19 ini seperti Dr. Tirta dengan Igtv seriesnya dan Deddy Corbuzier yang menggandeng Ketua Terpilih IDI, Dr. Muhammad Adib Khumaidi di podcast close the door miliknya.

Mereka berdua sama-sama membahas pentingnya tidak tergesa-gesa dalam membeli vaksin dari luar negeri karena memang belum lolos sepenuhnya tahap uji klinis. Dan benar saja, konten mereka banyak ditanggapi positif oleh masyarakat (termasuk saya) yang sepemikiran dengan para content creator tersebut.

Lebih bersyukurnya lagi, ternyata beberapa konten viral ini terdengar sampai ke telinga Pemerintahan RI. Dilansir dari IDN Times, Indonesia akhirnya secara resmi membatalkan pesanan 100 juta vaksin Covid-19 dari AstraZeneca. Tak hanya itu, vaksin dari Sinopharm dan CanSino pun juga turut batal dibeli oleh Indonesia.

Gagalnya deal antara AstraZeneca dan Pemerintahan Indonesia tersebut disinyalir karena AstraZeneca enggan bertanggung jawab apabila terjadi kegagalan pada produksi vaksin di pertengahan 2021 nanti. Padahal, Indonesia sudah dimintai DP (Down Payment) sebesar 3,67 Triliun Rupiah.

Tak hanya itu, vaksin yang dijanjikan pun nyatanya belum dibuat oleh perusahaan asal Inggris tersebut. Jadi, DP yang dibayarkan nantinya hanya akan menjadi biaya pembangunan produksi di Thailand saja. Jelas saja jajaran Pemerintahan RI menolak tegas klausul kerjasama tersebut.

Praktis dengan batalnya pesanan vaksin dari beberapa perusahaan tersebut, Indonesia total hanya membeli 3 juta vaksin saja dari Sinovac karena mau bekerja sama dengan Indonesia dan fokus uji klinis tahap ke-3. Indonesia pun menjadi satu-satunya Negara yang berani membeli vaksin buatan Sinovac ini, setelah belum lama ini Brazil mengundurkan diri sebagai pembeli vaksin Sinovac.

Batalnya keputusan blunder Kemenkes yang terburu-buru tersebut ternyata sebagian besar karena campur tangan Presiden Joko Widodo. Ya, Jokowi diketahui menyelenggarakan rapat terbatas pada Senin, 19 Oktober 2020 yang lalu. Dalam rapat tersebut Jokowi menganjurkan Kemenkes agar tak buru-buru memborong vaksin Covid-19 yang belum lolos uji klinis tahap 3 tersebut.

Alasannya jelas, karena efikasi dan efektivitasnya belum teruji secara klinis serta potensi meningkatkan hutang Indonesia pada hal yang sia-sia (vaksin yang berpotensi gagal). Untungnya, kepala dingin pak Jokowi berhasil menimbang-nimbang keputusan terbaik.

Ini pun kiranya menjadi pembuktian Jokowi bagi orang-orang yang meragukan kinerjanya selama satu tahun dirinya dan KH. Ma'ruf Amin menjabat sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia. Jokowi dan Ma'ruf Amin yang sebelumnya diragukan karena mendukung pengesahan UU Cipta Kerja yang diklaim merugikan rakyat, nyatanya kini terbukti memutar otak guna menyejahterakan rakyat Indonesia.

Terima kasih sebesar-besarnya layak kita berikan pada influencer yang berjuang menyuarakan isu vaksin Covid-19 sehingga mungkin memberi jajaran Pemerintahan perspektif baru dan lebih berhati-hati dalam menimbang keputusan pembelian vaksin Covid-19 ini.

Maka dari itu, jangan takut bersuara teman-teman. Dari suara kita lah, keputusan Pemerintah yang kiranya salah arah bisa berubah mengarah ke pilihan yang lebih baik.

Baca Juga: "Dr. Tirta Klaim Omnibus Law Cuma Pengalihan Isu dari Kasus Covid-19"

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x