Mohon tunggu...
Steven Chaniago
Steven Chaniago Mohon Tunggu... Email: kecengsc@gmail.com

Mahasiswa Komunikasi

Selanjutnya

Tutup

Birokrasi Pilihan

Klaim Gila Dokter Tirta Perihal Covid-19, Omnibus Law Cuma Pengalihan Isu?

17 Oktober 2020   16:11 Diperbarui: 17 Oktober 2020   18:57 375 26 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Klaim Gila Dokter Tirta Perihal Covid-19, Omnibus Law Cuma Pengalihan Isu?
Potret Dr. Tirta di Indonesia Lawyers Club (Sumber: sakata.id)

Ditengah perdebatan tentang pengesahan Omnibus Law UU Cipta Kerja, siapa yang menyangka kalau hal sebesar itu ternyata hanyalah sebuah pengalihan isu dari satu isu yang lebih besar?

Anda merasa skeptis dengan pernyataan tersebut? Ya, sama, saya juga. Ketika awalnya membaca di postingan Instagram dokter Tirta, sulit untuk saya mempercayai semua klaim tersebut. Tapi apa daya, siaran live di Igtv milik dokter Tirta terlalu meyakinkan untuk tidak dipercayai. Dari banyaknya postingan tersebut, sudah saya coba rangkai agar mudah dipahami.

Latar Belakang Covid-19

Dr. Tirta memulai dengan menyatakan kalau virus Covid-19 ini nyata adanya. Sumbernya jelas dari kelelawar yang biasa dimakan oleh orang Wuhan, China. Dari situ, banyak orang China yang terdampak virus Covid-19. Dikarenakan Wuhan merupakan kita yang cukup sentral di China, maka cukup banyak orang dari luar kota dan luar negeri yang terjangkit virus Corona ini. Dari sinilah permasalahan Covid-19 ini bisa sampai ke Indonesia.

Tirta mengklaim bahwa, Pemerintah Indonesia ingin menutup akses bagi turis China masuk ke Indonesia pada bulan Februari setelah penyebaran virus Covid-19 ini viral. Tapi sayangnya hal itu tak jadi terealisasi lantaran Pemerintah Indonesia ditekan oleh Pemerintah China agar tak menutup gerbang pariwisata bagi turis China. Turis China pun disebut Tirta sebagai penyumbang devisa negara terbesar dari sektor pariwisata. Maka dari itu, cukup sulit menolak turis asal China karena kerugian ditaksir akan mencapai triliunan rupiah.

Tapi apa daya, nasi sudah menjadi bubur. Apabila kita lihat fakta yang ada di bulan Oktober 2020 ini, kerugian negara akibat lockdown, PSBB, edukasi 3M, dan kegiatan penangan Covid-19 lainnya, saya rasa jumlah kerugian negara jauh lebih besar daripada menolak turis asal China tersebut. Ditambah lagi puluhan ribu nyawa melayang yang tak bisa dihitung dengan rupiah harganya.

Polemik Vaksin, Covax, Gavi, dan WHO

Kita masuk ke poin yang cukup rumit, saya pun harus berulang kali melihat postingan dokter Tirta agar tidak salah merangkai. Status quo dari sub judul diatas adalah "Indonesia deal dengan Covax yang disokong Gavi perihal pembagian vaksin virus Covid-19 pada tanggal 6 Oktober 2020, satu hari setelah Omnibus Law disahkan".

Kita bahas yang pertama, Covax. Apa itu Covax? Covax adalah inisiatif persatuan 170 Negara yang diinisiasi oleh WHO, guna mengedarkan vaksin secara adil. Covax dalam perencanaannya, dibantu dan didanai oleh Gavi, sebuah organisasi buatan Bill Gates sejak tahun 1999. Nah, dari sinilah kita bahas secara mendetail, apa yang sebenarnya terjadi di Indonesia dan kaitannya dengan Covax, Gavi, dan WHO.

Pada tanggal 5 Oktober 2020, Omnibus Law disahkan, yang bertujuan mengalihkan fokus media serta masyarakat. 6 Oktober 2020, perpres soal vaksin 99 tahun 2020 disahkan, yang membuat Indonesia bergabung bersama Covax, yang mana Indonesia wajib menaruh uangnya di Covax untuk mendapatkan subsidi vaksin Covid-19.

Lalu pada 9 Oktober 2020, China bergabung ke Covax dan Gavi yang pada tanggal 12 Oktober 2020 bersedia membagi vaksin miliknya ke negara-negara miskin via Covax. What? Sudah ada vaksinnya? Hanya dalan waktu 8 bulan penelitian? Dan juga logikanya, mengapa China tidak menumpuk vaksin itu untuk rakyatnya sendiri dan malah disebarkan ke negara-negara lain?

Disamping ity, vaksin untuk virus sars 1 dan Mers saja belum diketemukan sampai sekarang, lalu virus seganas Covid-19 yang baru beredar 8 bulan, sudah bisa ditemukan vaksinnya? Itulah yang mendasari klaim bahwa, virus Covid-19 sengaja disebar oleh "seseorang" yang nantinya akan mendapat untung dari hasil penjualan vaksin.

Namun yang menariknya disini adalah, dari 170 Negara termasuk China yang bergabung ke Covax, justru Amerika Serikat dan Donald Trump enggan bergabung bersama Covax. Ada apa gerangan? Bukankah ada Gavi di Covax yang merupakan besutan Bill Gates yang notabene orang Amerika? Apakah ada kaitannya dengan vaksin Covax?

Padahal menurut dokter Tirta, daripada sibuk-sibuk membeli vaksin impor dari Covax yang digawangi Gavi dan WHO, Pemerintah sejatinya bisa mengalokasikan dananya ke penelitian lokal yakni vaksin Merah Putih kembangan dari Eijkman Institute yang sedang dalam tahap uji klinis.

Untuk memperjelas, kita pakai perumpamaan tukang tampal ban yang menyebar paku di jalan. Menurut akun @jen*******_kop**** yang juga disetujui dokter Tirta, WHO disebut sebagai tukan tampal ban. Lalu WHO menebar paku (Covid-19), dan ujung-ujungnya memberi solusi tampal ban (vaksin melalui Covax). Begitulah kira-kira.

Kesimpulan Dokter Tirta

Kesimpulan Tirta pun adalah sebagai berikut: Covid-19 itu ada, dan diciptakan oleh "seseorang". Semua dibuat heboh oleh pengesahan Omnibus Law sampai berita tentang pengesahan Indonesia bergabung ke Covax satu hari setelahnya hampir tak terdengar sama sekali.

Lalu, kenapa Indonesia mau-mau saja gabung ke Covax? Ingat waktu IMF merilis daftar hutang terbanyak? Indonesia ada di peringkat 6 terbanyak. Inilah yang menjadi dasar Pemerintah Indonesia mau tak mau patuh terhadap WHO dan bergabung ke Covax menurut Tirta.

***

Sekian ringkasan saya mengenai penjelasan dokter Tirta yang menurut saya cukup masuk di akal. Dari latar belakang sampai proses sebab-akibat bisa disampaikan secara jelas. Mau percaya atau tidak, kembali ke diri kita masing-masing. Oh iya, Indonesia akan memberlakukan wajib vaksin menurut dokter Tirta. Iyalah masa udah dibeli ga dipake :)

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x