Stephen G. Walangare
Stephen G. Walangare

Kunang-kunang kebenaran di langit malam.

Selanjutnya

Tutup

Parenting

Menghormati Orang Tua, Sebuah Kesalehan yang Terlupakan

20 Februari 2018   18:24 Diperbarui: 19 Mei 2018   02:29 430 0 0
Menghormati Orang Tua, Sebuah Kesalehan yang Terlupakan
2235d839edfe77c09dfcb936f3d4c552-5aff2889f13344451724d444.jpg

Artikel ini akan membahas tentang menghargai otoritas sebagai sebuah kesalehan yang terlupakan. Topik ini adalah topik yang sangat mendesak untuk disampaikan, karena kalau kita menyadari, kita hidup di dalam zaman yang cenderung anti otoritas. 

Seorang murid yang bisa mengelabuhi gurunya, merasakan kesenangan yang luar biasa, jauh lebih senang, daripada murid lain yang mendapatkan rankingsatu di kelas. Karyawan yang berhasil membodohi dan memperdayai pimpinannya, merasa sukacita yang luar biasa, jauh lebih sukacita ketika gajinya dinaikkan. 

Kita juga melihat beberapa anak yang dengan sukacita, dengan senang hati mengelabuhi orang tuanya, membohongi orang tuanya, memakai berbagai macam cara dan memanfaatkan kebodohan orang tua, terutama banyak orang tua yang tidak tahu teknologi, dan itu dijadikan senjata oleh anak-anak mereka untuk mengelabuhi, memanfaatkan, mengeksploitasi kelemahan orang tua. 

Kita hidup di dalam zaman yang anti otoritas. Karena itu tidak salah jika kita belajar sebuah hal yang lama dilupakan orang, yaitu menghargai otoritas. Hari ini kita akan fokus pada satu hal yaitu pada menghargai otoritas orang tua. Mari kita melihat dalam Keluaran 20:12. Pasti kita sudah sangat akrab dengan ayat ini, bahkan mungkin sudah menghafalkannya di luar kepala. Di luar kepala kita, maksudnya orang lain yang menghafal.

Ayat ini pendek sekali dan mudah untuk diingat, tetapi belum tentu ayat ini mudah untuk dilakukan. Artikel ini akan dibagi menjadi tiga bagian. Yang pertama adalah tentang keunikan dari perintah ini, yang kedua adalah tentang siapa objek dari perintah ini, dan yang ketiga adalah mengapa kita harus menaati perintah ini. Mari kita melihatnya satu per satu. Kita akan melihat bahwa perintah ini adalah perintah yang unik. 

Kalau kita membaca konteks Keluaran 20:1-17, kita akan tahu di situ ada sepuluh perintah Allah. Keberadaan perintah ini adalah perintah yang ke-5. Ada banyak keunikan dari perintah ini. Pertama, perintah ini muncul di deretan paling atas dalam perintah-perintah yang mengatur relasi horizontal antara manusia (perintah kelima sampai kesepuluh). 

Perintah ini ada di atas. Supaya kita paham, kita harus mengingat sepuluh perintah Allah. Perintah pertama bunyinya apa? Ketuhanan Yang Maha Esa. Nasionalis sekali. Perintah pertama adalah jangan ada padamu Allah lain di hadapan-Ku, kedua jangan membuat patung atau gambar untuk disembah, ketiga jangan menyebut nama Tuhan dengan sembarangan, keempat kuduskan hormati hari Sabat, kelima hormati ayahmu dan ibumu, keenam jangan membunuh, ketujuh jangan berzinah, kedelapan jangan mencuri, kesembilan jangan bersaksi dusta, kesepuluh jangan mengingini barang milik sesama. 

Kalau kita melihat dalam sepuluh perintah itu, perintah pertama sampai keempat itu berbicara tentang relasi kita dengan Tuhan. Perintah kelima sampai kesepuluh itu berbicara tentang relasi kita dengan sesama. Menariknya, pada waktu mengatur relasi antar umat manusia, maka perintah yang pertama yang ditaruh di sana adalah perintah untuk menghormati ayah dan ibu. 

Jelas itu menunjukkan sesuatu yang unik dari perintah ini. Sebagian penafsir mengatakan, ditaruh di awal bukan hanya berarti ini perintah yang sangat penting, tetapi ini juga menjadi fondasi bagi perintah-perintah yang lain. 

Kalau kita ingin ada masyarakat yang tidak mencuri, ada masyarakat yang tidak membunuh, ada masyarakat yang tidak berzinah dan seterusnya, maka masyarakat itu harus dibentuk dari keluarga. Kalau anak-anak menghormati orang tua dan itu menjadi sebuah kebiasaan, sebuah kultur di dalam rumah tangga, maka anak-anak itu ketika keluar di masyarakat, dia akan menjadi orang yang bisa menciptakan kultur yang baik. 

Tapi kalau anak itu sudah rusak di keluarga, tidak tahu bagaimana caranya menghormati otoritas orang tua, maka ketika anak itu masuk ke masyarakat, maka dia akan menambah buruk situasi masyarakat. Kalau kita ingin masyarakat menjadi baik, dimulai dari keluarga.

Anehnya, ini ajaran yang sudah usianya beribu-ribu tahun. Tetapi banyak pakar pendidikan, banyak negarawan, yang baru menyadarinya beberapa dekade terakhir atau paling banyak satu abad terakhir, mulai dipopulerkan bahwa negara dibentuk oleh keluarga. Kalau mau negaranya kuat, keluarganya harus kuat. 

Alkitab sudah dengan jelas menempatkan perintah ini sebagai perintah yang pertama untuk mengatur relasi antar manusia. Karena bagaimana keluarga di rumah akan menentukan bagaimana negara kita kelak.

Keunikan yang kedua dari perintah ini adalah karena perintah ini salah satu yang bersifat positif. Kalau kita melihat sepuluh perintah Allah, ada yang bersifat negatif (larangan) yang dimulai dengan kata "jangan". 

Di antara sepuluh perintah Allah, yang bermakna positif itu hanya dua. Perintah keempat dan perintah kelima. Bukan berarti yang bersifat positif itu lebih mengikat, lebih tinggi otoritasnya daripada yang bersifat negatif (larangan). Tetapi kalau kita memperhatikan, bahwa ada banyak yang bersifat larangan, tetapi ini justru sifatnya perintah positif, maka ini menunjukkan keunikan dari perintah ini. 

Penempatan perintah-perintah yang positif ini juga terbilang unik, karena perintah positif yang pertama ditaruh di urutan keempat, yang berarti di urutan terakhir dalam perintah-perintah yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan. 

Perintah positif yang kedua diletakkan di urutan kedua, yang berarti di urutan pertama dalam perintah-perintah yang mengatur hubungan manusia dengan sesamanya. Ini berarti, memang ada banyak larangan, tetapi di tengah-tengah larangan itu, perintah keempat dan perintah kelima, di akhir dari perintah yang bersifat vertikal, dan di akhir dari perintah yang bersifat horizontal, di situ ada perintah yang bersifat positif.

Keunikan yang ketiga dari perintah adalah sebagai satu-satunya perintah yang disertai dengan janji. Di antara sepuluh perintah Allah, kita tidak akan menemukan janji kecuali di perintah yang kelima ini. Makanya Paulus dengan cermat, dengan teliti, mengutip bagian ini dan menegaskan tentang keunikannya yaitu bagian dari janji ini (Ef 6:1-2). Di dalam ESV/NIV/KJV terjemahannya jauh lebih jelas. 

Di antara sepuluh perintah, Allah tidak memberikan janji kepada yang lain, tetapi khusus di dalam perintah yang kelima, Allah memberikan janji. This is the first commandment with a promise.Kalau memang ini diberikan janji secara khusus, berarti posisi perintah ini adalah unik sekali di antara sepuluh perintah Allah. Makanya kita perlu memperhatikan dengan baik karena perintah ini ditulis dengan hati-hati, diletakkan dengan hati-hati, dirumuskan secara hati-hati, untuk menunjukkan kepada kita, bahwa ini adalah perintah yang penting sekali.

Bagian kedua dari artikel ini adalah siapa objek dari perintah ini. Perintah ini ditujukan kepada siapa? Banyak orang berpikir perintah ini ditujukan untuk anak-anak kecil. Ini adalah ayat favorit dalam sekolah minggu. Tapi, setelah kita menikah dan jadi orang tua, kita merasa ayat ini sudah tidak mengikat kita. Jadi pernikahan itu merupakan tanda kebebasan kita dari perintah ini. 

Ternyata, itu adalah konsep yang salah kaprah, konsep yang keliru, karena perintah ini ternyata mengikat semua orang. Selama kita masih memiliki orang tua, maka kita terikat dengan perintah ini. Tuhan Yesus memahaminya seperti itu, dan orang-orang Yahudi memahaminya dengan cara yang sama, bahwa perintah ini bukan hanya untuk anak kecil, tetapi untuk semua orang yang memiliki orang tua. 

Dalam Kel 20:18 kita tahu bahwa seluruh umat Israel menyaksikan Tuhan memberikan sepuluh perintah. Sepuluh perintah ini diberikan untuk semua orang, sama seperti sembilan perintah yang lain, mengikat setiap orang, demikian pula perintah yang kelima juga mengikat semua orang.

Ada dua contoh yang dapat digunakan untuk menunjukkan kepada kita bahwa ini merupakan perintah ini mengikat semua orang. Yesus memberikan jawaban yang mengagetkan kalau kita melihat dalam Lukas 9:59-60, seolah-olah Yesus tidak mau menunggu orang itu. Orang Yahudi beda dengan kita. Kalau kita, orang meninggal itu disemayamkannya bisa berhari-hari, menunggu semua keluarga datang. 

Tetapi kalau dalam budaya Yahudi, begitu meninggal, hari itu juga akan dikuburkan. Seandainya orang ini, ayahnya benar-benar meninggal, bukankah seharusnya Yesus menunggu? Hanya satu hari saja kok.Tapi ternyata Yesus seolah-olah mengatakan, "Sudah, kalau mau mengubur, silakan.Kalau mau ikut ya ikut. Biar orang mati menguburkan orang mati." 

Banyak orang bingung memahami ayat itu, mengapa Yesus tidak sabar menunggu orang ini? Tapi ternyata ketika orang ini mengatakan kalimatnya dalam ayat 59b, bukan berarti ayahnya sudah mati. Tetapi ayahnya mungkin masih sehat walafiat, ayahnya itu mau ditunggui terus oleh anak ini sampai nanti ayahnya mati, anak ini memberikan pemakaman yang layak untuk ayahnya, baru dia akan mengikuti Yesus. 

Kalau ceritanya memang begitu, ya pantas saja Yesus menganggap itu terlalu lama. Karena saat itu Yesus sedang dalam perjalanan ke Yerusalem dan segera akan disalib, segera akan bangkit. Kalau menungguh ayahnya dia mati, jelas lama. Tidak tahu kapan itu terjadi. Tidak pasti kapan ayahnya mati. Tapi cerita ini memberikan kita satu hal yang penting yaitu menghormati orang tua adalah perintah yang mengikat kita sampai kita tua. Mengikat sampai orang tua kita meninggal.

Contoh yang lain adalah di Matius 15:5-6, ketika Yesus berdebat dengan orang-orang Farisi, Yesus menegur mereka karena mereka itu mempersembahkan "dana pensiun" orang tua yang akan dipakai untuk memelihara orang tua kalau sudah usianya lanjut. Ternata dana itu dipakai oleh orang-orang Farisi untuk membayar Bait Allah, dipersembahkan kepada Allah di Bait Allah. 

Tapi bukankah itu sesuatu yang baik? Baik, tetapi persoalannya adalah mereka melupakan hal yang sangat penting yaitu menghormati orang tua. Orang-orang Farisi tidak mau peduli dengan nasib orang tua mereka. Tuhan sangat menentang hal itu. Dari sini kita juga bisa belajar sekali lagi, bahwa perintah ini bukan hanya untuk anak-anak, tetapi perintah ini untuk kita semua yang masih memiliki orang tua.

Bagian ketiga dari artikel ini adalah alasan-alasan kita untuk menaati perintah ini. Kalau kita melihat dalam Keluaran 20:12 tadi, ada satu hal yang menarik yaitu tidak ada alasan yang dikaitkan dengan siapa orang tuanya, yang dikaitkan dengan status orang tuanya, yang dikaitkan dengan posisi orang tua dan sebagainya, tidak ada alasan yang berkaitan dengan orang tua. 

Di sana tidak dikatakan, "Hormatilah ayahmu yang sudah bekerja keras untuk kita." Karena ini akan menimbulkan kesalahpahaman untuk tidak menghormati ayah yang bukan pekerja keras. Ayat itu juga tidak berkata, "Hormatilah ibumu yang dengan sabar merawat kita." Karena ini akan menimbulkan kesalahpahaman untuk tidak menghormati ibu yang tidak sabar merawat kita. Bahkan mungkin ada di antara kita yang tidak pernah merasakan gendongan ibu kita, yang tidak merasakan perhatian seorang ibu, apakah ibu semacam itu layak untuk dihormati? 

Mungkin ada di antara kita yang kehilangan figur seorang ayah, ayah yang tidak setia, ayah yang selingkuh, ayah yang membuat kita menderita, mungkin kita berpikir apakah ayah semacam itu layak dihormati? Maka firman Tuhan mengatakan kita harus menghormati mereka. Tidak ada keterangan ayah seperti apa. Tidak ada keterangan ibu seperti apa. 

Tidak ada penjelasan ayah kita melakukan apa, ibu kita melakukan apa. Tidak ada penjelasan berapa uang yang dimiliki ayah kita, berapa uang yang dimiliki ibu kita. Sama sekali tidak ada alasan yang berkaitan dengan orang tua. Dengan kata lain, perintah ini mutlak dan tidak bersyarat. Absolute and unconditional.Siapapun orang tua kita, maka kita harus menghormati mereka. 

Banyak di antara kita tidak bisa menghormati orang tua, karena kita melihat orang tua kita pantas untuk dihormati atau tidak. Tidak peduli keadaan orang tua kita seperti apa, kita harus menghormati mereka. 

Entah ayah kita punya istri lebih dari satu, entah ayah kita suka melecehkan secara fisik, entak kita merasa tidak ada satupun yang bisa kita banggakan dari orang tua kita, ketika kita mencintai Tuhan dengan sungguh-sungguh, maka kita belajar mencintai orang tua kita. Kalau kita mencari alasan dalam diri ayah dan ibu kita, untuk tidak menghormati mereka, maka sebenarnya kita tidak akan bisa menghormati mereka. Tapi alasannya bukan pada orang tua, alasannya pada yang lain. Kita akan melihat apa saja alasan itu. Tiga alasan mengapa kita harus menghormati orang tua kita.

Pertama, karena menaati orang tua adalah hal yang wajar dan benar. Di dalam Keluaran 20:12 tadi, mungkin kita bertanya apakah ada alasan tertentu yang mengharuskan saya menghormati ayah dan ibu? Paulus memberikan alasannya di dalam Efesus 6:1. Paulus menangkap dengan baik alasan di balik perintah ini. Mungkin kita kaget dengan penjelasan Paulus. 

Mungkin ayat itu tidak memberi penjelasan apa-apa. Rasanya kita membutuhkan alasan yang lebih baik. ESV/NIV/KJV memberikan kita penjelasan yang lebih baik. Karena ini adalah benar. Bukan masalah haruslah demikian saja, tetapi karena ini adalah sesuatu yang benar. Menariknya, Paulus tidak memberi alasan mengapa ini benar. Paulus tidak perlu memberi alasan mengapa itu benar. 

Mengapa? Karena Paulus mengasumsikan semua orang sudah tahu hal itu. Memang benar. Bukan hanya orang Kristen, tetapi tulisan-tulisan Yunani kuno pun memberitahu bahwa menghormati orang tua adalah memang hal yang wajar dan merupakan keharusan. Makanya Paulus dengan sederhana mengatakan, "For this is right." Karena memang itu benar. Kita menghormati orang tua itu adalah hal yang tidak perlu diperdebatkan. Apakah ada orang yang mau memperdebatkan apakah kita harus menghormati orang tua? Itu sudah jelas, luar biasa.

Kita pasti punya orang-orang tertentu yang kita hormati, selain orang tua kita. Masalahnya, kita berutang apa kepada orang-orang yang kita hormati selain orang tua kita sehingga kita begitu menghormati orang itu? Utang kita kepada mereka itu jauh lebih kecil daripada utang kita kepada orang tua. Kita berutang kehidupan, kita berutang eksistensi kepada orang tua kita. Kalau tidak ada orang tua, tidak mungkin ada kita sekarang. Tuhan menciptakan kita bukan dengan cara menjatuhkan meteor dari langit, lalu batunya pecah dan kemudian keluarlah sesosok manusia yang imut. 

Tuhan memberikan kita kehidupan melalui orang tua kita. Kita berutang kehidupan kepada orang tua kita. Kita utang apa kepada orang lain? Tidak melebihi utang kita kepada orang tua. Apalagi kalau kita ingat bagaimana orang tua merawat kita, memandikan kita, menggantikan popok kita, menjaga kita, itu semua bukan sesuatu yang mudah, penuh dengan kekhawatiran. 

Ketika kita sakit, orang tua kita yang paling sedih, orang tua yang paling bingung. Merawat anak susahnya setengah mati. Banyak sekali kejijikan yang harus dihadapi orang tua saat merawat kita kecil. Bangun tengah malam, mengurusi semua kebutuhan yang kita perlukan, siapa yang melakukan itu semua kalau bukan orang tua kita? Makanya kalau kita tidak menghormati orang tua kita, itu merupakan sebuah kebodohan dan kesalahan yang sangat fatal sekali. Hormati orang tua kita, karena menghormati orang tua kita adalah hal yang wajar dan hal yang benar. For this is right.

Alasan kedua mengapa kita harus menghormati orang tua, selain karena menghormati orang tua adalah hal yang wajar dan benar, juga karena menghormati orang tua adalah perintah Tuhan. Dengan kata lain, karena menghormati orang tua adalah tanda orang yang menjadi umat Tuhan. Di balik sepuluh perintah itu, ada satu kalimat yang penting (Kel 20:2). Ini tepat diucapkan Allah sebelum perintah pertama sampai perintah kesepuluh. Maksudnya adalah begini, kita menaati Tuhan itu karena Dia yang menebus hidup kita. 

Orang Israel harus menaati perintah Tuhan karena Tuhan sudah membayar mereka. Mereka dahulu budak di tanah Mesir, tapi Allah bebaskan mereka, Allah tebus mereka, sehingga mereka menjadi milik Allah. Kalau mereka menjadi miliknya Tuhan, maka Tuhan berhak mengatur hidup mereka. Ada banyak orang yang mengaku bahwa hidupnya menjadi milik Tuhan, tapi orang itu tidak tunduk kepada perintah Tuhan. 

Kalau kita sungguh mengaku bahwa hidup kita adalah milik Tuhan, maka Tuhan berhak untuk mengatur tujuan hidup kita, berhak menentukan nilai hidup kita, dan berhak untuk mengarahkan setiap detail di dalam hidup kita. Sepuluh perintah ini, termasuk perintah yang kelima, didasarkan pada satu fakta bahwa Allah yang membebaskan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir. 

Allah yang sama membebaskan kita dari perbudakan dosa. Ketika Dia memberikan perintah, maka kita menaati itu. Kita menaati orang tua kita, menghormati orang tua kita, bukan karena tuntutan orang tua. Kita menghormati orang tua, bukan karena tuntutan masyarakat. Kita menghormati orang tua, bukan karena kebiasaan. 

Kita menghormati orang tua, karena kita tahu itu yang diinginkan oleh Tuhan. Karena itu yang dikehendaki oleh Tuhan. Karena kita tahu Pemilik hidup kita menginginkan itu dari kita, makanya kita melakukannya. Kalau kita membandingkan Ulangan 5:16 dan Kolose 3:20, kita akan tahu bahwa memang ini perintah makanya harus ditaati, itulah yang indah di dalam Tuhan. 

Menaati orang tua itu menyenangkan Tuhan. Kalau Tuhan itu Pemilik hidup kita, maka Dia wajib untuk disenangkan. Kalau kita mengakui bahwa Tuhan adalah Pemilik hidup kita, maka kita harus melakukan semuanya yang menyenangkan Dia. Waktu Tuhan menciptakan alam semesta, begitu Dia menciptakan sesuatu, Tuhan puas dengan yang Dia ciptakan. 

Sungguh amat baik. Tuhan berhak untuk menikmati ciptaan-Nya dan kita wajib untuk memberikan hidup yang indah di hadapan Tuhan. Mengapa kita menaati orang tua? Karena memang itu indah di mata Tuhan. Mungkin kita tidak memiliki alasan untuk menghormati orang tua kita, tetapi kita tetap punya alasan, kalau kita melihat ke atas dan kita tahu bahwa itu yang indah di mata Tuhan. Tuhan sudah menebus hidup kita. Tuhan ingin hidup kita sesuai dengan kehendak-Nya.

Alasan terakhir mengapa kita harus menghormati orang tua kita adalah karena bukan hanya itu wajar dan benar, bukan hanya itu adalah perintah Tuhan dan tanda kita adalah umat Tuhan, tetapi karena itu akan mendatangkan berkat Allah bagi kita. Di dalam Kel 20:12b dan Ul 5:16, ada janji Tuhan yang menyertai perintah itu. Zaman kuno dulu, cara berpikirnya sedikit berbeda dengan kita sekarang. Zaman kuno dulu, ada beberapa hal yang dianggap sebagai tanda berkat Tuhan. Misalnya, anak banyak (bdk. Kej 1:28). Kita tidak terlalu dianggap diberkati Tuhan oleh masyarakat kuno ketika hanya punya anak sedikit. Tanda berkat Tuhan yang lain itu adalah lanjut usia. Jadi kalau kita lihat konteks budaya kuno, semakin dia tua, semakin dia dihormati (bdk. Ams 16:31). Untuk kita sekarang mungkin berkatnya tidak selalu kita usia lanjut, tetapi pasti Tuhan memberi berkat bagi siapa saja yang menghormati orang tuanya. Kita menghormati orang tua bukan supaya diberkati. Tapi kalau kita menghormati orang tua, maka berkat adalah konsekuensi yang tidak terelakkan dari tindakan kita. Ini adalah janji dari Tuhan. Di antara 10 perintah, yang mengandung janji hanya perintah ini.

Ada sebuah cerita yang mengisahkan suami dan istri -mereka punya satu anak- yang tinggal bersama ibu dari ayahnya. Nenek ini sudah sangat tua renta dan sulit sekali untuk diberi makan. Nenek ini sudah tidak mampu lagi mengangkat sendok dengan benar, sehingga tiap kali makan selalu mengotori tempat di sekitarnya, karena makanannya berjatuhan dan berantakan. Lalu pasangan suami istri ini berkata, "Karena kamu makan seperti babi, lebih baik kami perlakukan kamu seperti babi sekalian." Akhirnya nenek ini dimasukkan dalam satu kamar, lalu kamar itu diberi lubang, dan mereka memberi makan nenek ini seperti ternak diberi makan di palungan. Lalu pada suatu waktu anak dari pasangan suami istri ini mencoba membuat lubang di tembok kamarnya. Pada waktu orang tuanya tanya alasan dari tindakan anaknya itu, terkejutlah mereka sebab anaknya berkata, "Nanti kalau Papa Mama sudah tua, aku akan perlakukan kalian seperti itu juga." Anak-anak melihat tindakan orang tuanya. Kalau kita tidak menghormati orang tua, maka jangan berharap anak-anak kita kelak akan menghormati kita. Kalau kita tidak menmperhatikan dan menyayangi orang tua kita, maka jangan pernah berharap anak kita akan memperhatikan dan menyayangi kita.

Kalau kita melihat hidup Tuhan Yesus. Dia adalah Allah yang menjadi manusia, tapi bagaimana Dia menjadi anak yang baik, itu sangat menakjubkan (Luk 2:41-52). Yesus tetap hidup dalam asuhan orang tua-Nya. Bayangkan Yesus ini memasuki masa remaja, Yesus tahu lebih banyak daripada orang tua-Nya, Yesus lebih mulia daripada orang tua-Nya. Ketika Dia mau menundukkan Diri-Nya, maka ini adalah ketundukan yang luar biasa. Sekarang anak-anak kalau sudah di usia remaja, sudah mulai berani mengklaim diri tidak butuh orang tua. Karena itu ada di beberapa lagu, itu mudah ditemukan di internet. Kalimat-kalimat, pesan-pesan, gagasan-gagasan semacam itu sangat mudah ditemukan di dunia remaja. Itu kalimat yang sangat bodoh. Kita tidak mungkin jadi pemimpin, kalau kita tidak pernah dipimpin. Tapi itulah yang ada di sekeliling kita. Orang sudah mulai remaja, mulai menganggap orang tuanya kuno, tidak tahu apa-apa. Yesus, 12 tahun, mau hidup dibawa asuhan orang tua-Nya. Bahkan ketika Yesus mati di atas kayu salib, Dia menyerahkan ibu-Nya kepada salah satu murid-Nya (Yoh 19:26-27). Dia ingin memastikan di akhir hidup-Nya bahwa ibu-Nya dirawat dengan baik, sebab Yesus mati duluan. Kalau Allah yang menjadi manusia, kalau Yesus Kristus Penebus kita melakukan itu, siapa kita yang seringkali merasa sok pintar daripada orang tua kita? Siapa kita yang merasa diri kita lebih baik, lebih bisa mengurus diri sendiri daripada orang tua kita? Hormati orang tua. Jangan kurang ajar kepada mereka. Dulu orang tua kita yang memandikan kita, di masa tuanya nanti, kita melakukan hal yang sama kepada mereka.

Apakah merawat orang tua kita itu menjadi keinginan kita yang besar? Apakah nanti ketika orang tua kita sudah renta, orang tua kita tinggal bersama kita sampai tua sakit-sakitan, apakah kita memandangnya sebagai beban? Atau kita memandang itu sebagai sukacita? Orang tua kita sudah memelihara kita dengan baik. Jangan mengeluh, sesungguhnya itulah berkat Tuhan bagi kita. Kelak giliran kita memelihara mereka, membalas budi mereka. Artikel ini menantang setiap pembacanya dengan otoritas firman Tuhan. Apakah kita kecewa dengan orang tua kita? Apakah kita tidak menghormati orang tua kita? Maka kita perlu melihat kepada Kel 20:12 dan bertobat bersama-sama. Kita seringkali gagal untuk menghormati dan mengasihi orang tua kita, kita sering merendahkan orang tua kita, kita seringkali menganggap orang tua kita sebagai beban yang tidak mengenakkan dalam hidup kita. Kita kurang memperhatikan orang tua kita. Biarlah kita belajar menjadi seperti Tuhan Yesus, yang walaupun lebih bijaksana, yang walaupun jauh lebih mulia daripada orang tua-Nya, tapi Dia mau menundukkan Diri di bawah asuhan mereka. Biarlah kita belajar untuk tidak sok tahu, merasa lebih pintar daripada orang tua kita. Kiranya kita senantiasa rendah hati dan tunduk kepada orang tua kita. Pada saat kita harus merawat orang tua kita di usia yang renta, biarlah itu kita anggap sebagai berkat Tuhan. Biarlah kita menganggap itu sebagai sebuah kesenangan yang luar biasa dari Tuhan. Itu bukan beban, tetapi itu adalah sebuah berkat bagi kita. Biarlah kita bersukacita untuk tetap menghormati, memperhatikan, menaati orang tua kita. Bertobatlah ketika kita menjadi anak yang kurang ajar, tidak menghormati orang tua, bahkan kita membenci orang tua kita, atau mungkin kita kurang memperhatikan orang tua kita. Kasihi dan hormati orang tua kita. Doakan orang tua kita. Ketika mereka merasa kesepian, kita menghibur mereka, kita membimbing mereka, kita mendampingi mereka, memberi mereka kekuatan senantiasa. Kiranya Tuhan disenangkan dan dimuliakan melalui hidup kita yang demikian.