Stephen G. Walangare
Stephen G. Walangare

Kunang-kunang kebenaran di langit malam.

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan

Misi dan Pelestarian Lingkungan Hidup

11 Februari 2018   17:20 Diperbarui: 19 Mei 2018   02:38 656 1 1
Misi dan Pelestarian Lingkungan Hidup
1-1-5aff2ba8cf01b460486a0172.jpg

Dalam kerangka kekristenan, kepedulian terhadap bumi tidak didasarkan pada kepercayaan pantaistik, bahwa kita semua merupakan bagian dari arus kehidupan yang sama dan bukan juga suatu pandangan holistik yang menegaskan kesamaan nilai dari semua zat yang hidup, bukan juga suatu kepercayaan pragmatis, bahwa nilai utama adalah bertahan hidup, melainkan didasarkan pada rasa hormat dan kehormatan yang wajib ditunjukkan pada suatu pemberian yang perlu disayangi. 

Oleh karena ciptaan merupakan milik Allah, ia diberikan kepada kita sebagai suatu pusaka (Kej. 1:29), yang dipercayakan kepada kita. Isi dunia ini cukup untuk memelihara kehidupan bagi semua (Kis. 14:15-17), selama ia dikelola dengan bijak dan adil. Bekerja adalah cara yang diberikan Allah kepada manusia untuk menikmati keberhasilan dan meningkatkan keindahan pemberian tersebut. 

Tetapi karena keserakahan manusia, semua tidak berjalan sesuai dengan apa yang Allah kehendaki bagi ciptaan-Nya. Dengan demikian, semestinya tugas ilmiah untuk memperoleh pengetahuan tentang bekerjanya tatanan alam, timbul dari tanggung jawab yang diberikan Allah kepada manusia bagi dunia. Akan tetapi, tugas tersebut bukanlah hanya untuk memperoleh pengetahuan tentang bagaimana dunia bekerja, melainkan juga untuk memperoleh hikmat yang diperlukan guna melihat apa maksudnya.

Alasan utama dari pembelokan dari rencana Allah yang asli ini adalah makhluk ciptaan telah menolak bertanggung jawab kepada sang Pencipta; para petani penggarap telah menuntut menjadi satu-satunya pemilik. Pemujaan kepada Pencipta dan rasa kagum terhadap ciptaan telah diubah menjadi kekaguman bagi kecerdasan yang hebat dari produk sang ciptaan -- yaitu inovasi teknologi dan pencarian laba. Hanya ada sedikit rasa rendah hati menghadapi kehancuran yang disebabkan budaya-budaya perusahaan. Secara signifikan, kisah tentang Menara Babel, yang dibuat dengan teknologi baru untuk mencari nama bagi kita (Kej. 11:3-4), mengakhiri Pengantar Sejarah Manusia (Kej. 1-11).

Akhirnya, semua perusakan timbul dari pemberhalaan: merebut bagi diri kita sendiri kedudukan yang merupakan milik Allah sendiri. Ini menyebabkan timbulnya kepercayaan bahwa sumber-sumber daya alam adalah milik kita sendiri, bahwa sumber-sumber itu dapat dieksploitasi demi kepuasan kita, bahwa apa yang dimungkinkan secara ilmiah (riset janin, percobaan yang menggunakan hewan, modifikasi gen) harus diijinkan, bahwa kita bertanggung jawab hanya kepada diri kita sendiri (dan para pemegang saham kita). Namun ada perbedaan besar antara kemerdekaan dari Allah dan kemerdekaan di hadapan Allah.

Tahap pertama dalam pemberhalaan adalah menghilangnya dalam diri kita rasa perhatian untuk Allah, mengaitkan setiap aspek kehidupan kita dengan kepedulian-Nya yang penuh kasih. Tahap kedua adalah mengikuti hasil daya khayal kita sendiri, "mengikuti rancangannya sendiri" (Yes. 65:2). Kita harus mengorientasikan seluruh hidup kita pada hikmat Allah ketimbang mengandalkan hikmat kita sendiri. 

Tentunya, hikmat manusia pada sejumlah titik sesuai dengan alam semesta, namun pada akhirnya semuanya akan berakhir pada keuntungan besar belaka, tanpa memikirkan keseimbangan alam. Dan alam mulai mengambil kedudukan Allah, di mana ritus dan kepercayaan yang mirip dengan pemujaan ciptaan mulai berkembang. Hal itu hanya selangkah dari penggunaan alam untuk mempengaruhi jalannya sejarah melalui astrologi, guna-guna, jimat dan benda-benda magis lainnya (Yes. 65:11).

Dalam hidup-Nya di bumi, Yesus mengakui baik kebaikan yang hakiki dari ciptaan dan kemampuannya memelihara hidup (Mat. 5:45; 6:26; 13:7). Di dalam menenangkan angin ribut, Ia menunjukkan kuasa-Nya atas alam yang bersikap bermusuhan. Di dalam memberikan makan kepada orang banyak, Ia menunjukan kemampuan-Nya mengatasi kekurangan makanan melalui kesediaan membagi apa yang ada. Di dalam menjadikan anggur dari air, Ia menunjukkan mutu yang tinggi dari kehidupan bila disentuh tangan Allah.