Stephen G. Walangare
Stephen G. Walangare

Kunang-kunang kebenaran di langit malam.

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup

God's Amazing Grace in Predestination (2)

1 Februari 2018   21:30 Diperbarui: 1 Februari 2018   21:46 329 0 0

Pilihan Allah tidak mungkin gagal. Jika Allah sudah menetapkan, bantahan apapun tidak akan bisa membatalkan penetapan-Nya. Walaupun rencananya terlihat kacau dan sangat rusak, terlihat sepertinya Allah sudah kehilangan kendali, tetapi hikmat-Nya bekerja di luar dugaan kita. Mungkin kita berpikir Ismael adalah "mimpi buruk" bagi Allah, sesuatu yang kelihatannya mengancam keberhasilan janji Allah dan kita semua tahu apa akibatnya bagi kita sekarang. Tetapi di balik kekacauan ini, ada maksud Allah yang baik. 

Sekali Allah menetapkan, maka penetapan itu tidak mungkin gagal. Peristiwa di Kejadian 16 memberikan petunjuk penting kepada kita bahwa penetapan Allah bersifat pasti. Anak yang dijanjikan itu pasti akan lahir dari rahim Sarai. Kelalaian Abram dan Sarai ternyata juga ada dalam kedaulatan Allah yang tak disangka-sangka, justru memberikan pergulatan teologis bagi sebuah doktrin yang sangat kontroversial sepanjang sejarah, yakni predestinasi. Keputusan Allah untuk tidak memilih Ismael sebagai anak perjanjian menimbulkan pertanyaan tentang keadilan Allah. 

Paulus juga menggumulkan pertanyaan serupa dalam perikop yang khas jika membahas tentang predestinasi, yakni Roma 9. Umat pilihan tidak didasarkan pada keturunan, pilihan ya pilihan.Seandainya pilihan Allah harus berdasarkan keturunan, maka seluruh anak Abraham dan seluruh keturunannya adalah umat pilihan Allah. Nyatanya tidak, bahkan Paulus juga bergumul ketika menyadari betapa banyak orang yang menolak Injil justru adalah bangsa kesayangan Allah sendiri, yakni Israel.

Sekali lagi, tidak semua orang Israel secara etnis adalah orang Israel. Tidak semua keturunan Abraham secara biologis adalah keturunan yang dipilih Allah. Lalu, apa dasarnya Allah memilih Ishak dan bukan Ismael? Jawabannya: terserah Allah. Apakah Allah tidak adil? Mari kita analisa pertanyaan ini dimulai dari definisi sederhana yang sering dilupakan orang tentang keadilan. Apa yang dimaksud dengan keadilan? Keadilan berarti memenuhkan hak kepada pihak yang memang berhak.

 Hal ini disebut keadilan, bukan kesamarataan. Jika kita menyamakan keadilan dengan kesamarataan, maka kita akan kesulitan dalam menghadapi banyak hal. Contohnya, jika ada seseorang yang memberikan uang sejumlah lima juta kepada anaknya untuk digunakan sebagai uang sakunya dan hanya memberikan uang sejumlah empat juga sebagai gaji atas pekerjaan karyawannya selama satu bulan, apakah orang itu telah berlaku tidak adil? Tentu saja ini merupakan hal yang adil karena yang satu anaknya, yang satu karyawannya. 

Menjadi tidak adil jika orang ini mengalami masalah dalam keuangannya, lalu ia mengambil uang sejumlah empat juta itu dan memberikannya untuk uang saku anaknya. Itu namanya merampas hak orang lain, itulah ketidakdilan. Jika kita "memaksa" Allah untuk memilih Ishak dan Ismael, atau jika kita "memaksa" Allah untuk menyelamatkan semua orang supaya Ia terlihat adil, maka sebenarnya kita sudah berlaku tidak adil terhadap Allah. Jika Allah diwajibkan untuk memilih semuanya, maka pada dasarnya Allah tidak diberi pilihan, berarti Allah itu terbatas. Padahal, Ia seharusnya memiliki hak untuk memilih, tetapi kita merampas hak itu, sehingga Ia telah diperlakukan dengan tidak adil.

Kalau memang Allah harus memilih semua orang, maka keselamatan bukanlah sebuah anugerah, tapi keselamatan adalah jatah. Justru karena Allah memilih hanya sebagian, itulah sebabnya kita bisa mengatakan keselamatan itu adalah anugerah. Pilihan itu didasarkan pada kebebasan Allah, bukan karena Ishak anak kandung, bukan karena Ismael anak dari hamba. Pilihan Allah juga bukan berdasarkan jasa kita, sebab kalau pilihan itu berdasarkan jasa kita, maka keselamatan bukan anugerah, tetapi upah.

Tentu kita akan bertanya, "Jika demikian, maka umat Islam tidak boleh disalahkan dongkalau mereka terus-terusan menolak Injil. Ismael kanmemang bukan anak perjanjian." Pertanyaan yang serupa dengan, "Kalau begitu orang yang dihukum ini, orang yang tidak dipilih, tidak boleh disalahkan.

 Orang yang tidak dipilih ini kalau binasa, Allah tidak boleh meminta pertanggungjawaban dari mereka, karena mereka memang tidak dipilih kok." Kalau kita punya pertanyaan semacam itu, maka mari kita menyanyikan lagu NKB 3, hehehe.Terpujilah Tuhan. Ternyata penulis Alkitab sudah menduga kita punya pertanyaan semacam itu. Tuhan sudah mengantisipasi keberatan kita. Dalam Roma 9:19, pertanyaan ini dimunculkan. Teks Yunani ayat ini lebih jelas dibanding terjemahan LAI:TB, "Kalau begitu mengapa Allah masih mau menyalahkan manusia? 

Bukankah tidak seorang pun dapat mencegah keinginan Allah?", atau "Kalau Allah mengatur semua perbuatan kita, mengapa Ia masih menyalahkan kita atas dosa-dosa kita?" Dengan kata lain, jika ketetapan Allah untuk memilih Ishak dan bukan Ismael memang tidak bisa diubah, jika Allah sudah menetapkan kelahiran Sarai, dan Ismael memang bukanlah umat pilihan, maka jangan menyalahkan manusia jika sampai sekarang banyak sekali orang yang menolak Injil. 

Tapi, saat ini kita akan belajar bahwa dalam kedaulatan-Nya, Allah telah memilih Ishak dan bukan Ismael, supaya kita mengerti betapa Allah sudah sedemikain sabar terhadap dosa, terhadap kecerobohan Sarai dan Abram yang tidak sabar, dan supaya kita mengerti bahwa tanpa Ismael, atau tanpa orang-orang yang tidak dipilih Allah, kita tidak akan bisa memahami apa yang Paulus tuliskan dalam Efesus 3:18.

 Allah memang mengontrol dan menentukan segala sesuatu secara berdaulat, termasuk pemilihan atas Ishak. Allah bertindak dengan kedaulatan penuh. Persoalan ini tidak bisa kita pahami dan kita terima kalau kita punya perspektif yang keliru. Kita tidak boleh menganggap Allah dan kita itu dalam keadaan shoulder to shoulder (sejajar, teman dialog). Seolah-olah kalau kita tidak setuju dengan keputusan Tuhan, maka kita boleh protes sama Tuhan, dan Tuhan akan menjadi lebih pintar kalau mendapatkan masukan dari kita. Kita ini sejak awal adalah manusia, kita ini ciptaan, dan Dia adalah Pencipta. So, let God be God.

Pada waktu Allah membentuk Adam dari tanah liat, apakah Allah berkonsultasi dahulu dengan Adam untuk menciptakan Adam? Jelas tidak, karena Adam belum ada. Allah hanya mengambil tanah liat dan Allah membentuk Adam. Kira-kira ketika Allah menentukan Adam tingginya berapa, hidungnya seperti apa, apakah Allah berkoordinasi dengan Adam? Pasti tidak, itu konyol sekali. Lalu ketika Adam sendirian apakah Alkitab mencatat Tuhan memanggil Adam lalu berdialog begini,

Allah:   "Adam, kamu rasa sepi nggak sih?,"

Adam:  "Iya Tuhan rasa sepi,"

Allah:   "Kamu pengen ramai nggak?,"

Adam:  "Pengenramai Tuhan,"

Allah:   "Oke nanti Saya kasih satu mahkluk ya, makhluk itu kalau ada selalu bikin ramai terus." 

Allah tidak pernah mengajak berunding Adam pada saat Allah memberikan Hawa. Bahkan ketika Allah berfirman dalam Kejadian 2:18, Allah tidak mengatakan hal seperti ini, "Adam, ini ada kertas kosong, kamu tulis ya spesifikasi penolong yang kamu mau, nanti akan Kubuatkan sesuai spesifikasi yang kamu minta." Allah juga tidak pernah mengatakan, "Adam, aku perlu daging dan tulangmu, tentu itu kalau kamu tidak keberatan. Kalau kamu keberatan, ya aku pakai daging dan tulang buaya. 

Tapi nanti kalau Aku ambil tulangmu dan dagingmu kamu pasti kesakitan. Kamu keberatan nggak kalau kamu tidur, nanti setelah kamu tidur baru Aku ambil." Tidak ada perkataan semacam itu di Alkitab, bukan? Pokoknya tau-tau Hawa dikasih, mau nggak mau Adam terima, tanpa konsultasi di awal.

Bukankah kita tidak pernah keberatan dengan cara kerja semacam itu? Bahkan kita mengatakan, "Terpujilah Tuhan dari awal sampai akhir, Dia yang memikirkan, Dia yang mengambil inisiatif, Dia merealisasikan, kita hanya bisa menerima, terpujilah Tuhan". Tetapi pada saat tentang pemilihan keselamatan kita tidak berkata, "Terpujilah Tuhan". Bahkan kita protes dengan Tuhan. Persoalannya bukan terletak pada Tuhan, persoalannya terletak pada kita, manusia dengan pikiran yang berdosa. 

Kita hanya mau menerima firman Tuhan yang menyenangkan kita, kita hanya mau tunduk kepada firman Tuhan yang sesuai konsep kita. Kalau memang kita percaya dan tidak keberatan ketika Allah membentuk Adam tanpa melibatkan Adam sama sekali, pokoknya tau-tau semuanya sesuai dengan yang Allah mau, maka seharusnya kita tidak ada masalah pada saat Allah memilih sebagian orang untuk diselamatkan dan tidak memilih yang lain. Kalau kita mempersoalkan ini, berarti kita tidak bertindak adil kepada Allah. Kalau tindakan Allah menyenangkan, terpujilah Tuhan. Kalau tidak menyenangkan, kita protes.

Kalau kita ingin menolak Allah, kita perlu tau, yang kita tolak itu definisinya apa. Kalau memang dia itu Allah, kalau memang ada yang disebut Allah, berarti Allah itu tidak disebabkan oleh yang lain. Kalau Dia disebabkan oleh yang lain berarti Dia ciptaan, bukan Pencipta. Allah juga tidak mungkin dipengaruhi atau terikat oleh sesuatu di luar diri-Nya. 

Sebab kalau ada yang mengikat Allah dan memengaruhi Allah, maka yang memengaruhi itu lebih besar daripada Allah dan kita tidak boleh percaya pada Allah yang itu. Pastikan bahwa Allah yang akan kita tolak atau percayai, adalah Allah yang benar-benar bebas, tidak dipengaruhi oleh sesuatu di luar diri-Nya. Apakah Allah semacam itu ada? 

Secara rasional, bukti keberadaan Allah lebih kuat daripada bukti yang dipegang oleh para ateis yang menolak keberadaan Allah. Allah dalam Alkitab adalah Allah yang benar-benar berdaulat secara penuh. Allah juga berdaulat atas kehendak bebas kita, tanpa kita kehilangan kehendak bebas. Karena itulah peristiwa Hagar dan Ismael bisa terjadi. 

Jika memang Dia adalah Allah, maka Dia bebas melakukan apapun. Semua yang Ia lakukan pasti baik, karena Allah tidak mungkin tidak baik. Jika tidak baik, itu iblis, bukan Allah. Inilah Allah yang dapat kita sandari setiap saat.

Kita seringkali ingin mengambil peranan Allah dalam hidup kita, termasuk ketika Sara menyuruh Abram tidur dengan Hagar. Jangan pikir apa yang kita pikir lebih baik daripada apa yang Allah pikir. Itu adalah sesuatu yang sangat konyol sekali. Kalau Tuhan mengikuti maunya semua orang, pasti Tuhan akan bingung.

Allah juga sudah bersabar terhadap orang-orang yang akan binasa. Allah sudah bersabar sekian lama dengan sikap Sarai yang meremehkan janji Tuhan, dengan dosa-dosa manusia yang membelokkan sejarah, dengan penolakan Injil Yesus Kristus, dan semua tindakan berdosa yang terus menerus dilakukan orang-orang yang tidak dipilih Allah. 

Kalau orang-orang yang tidak dipilih itu nanti dihukum, Allah sebetulnya tetap adil karena Allah sudah sabar terhadap mereka. Tiap kali Allah melihat tindakan orang-orang yang tidak dipilih, Allah harus menanggung dengan kesabaran yang banyak. Walaupun Allah ingin menunjukkan murka-Nya dan menyatakan kuasa-Nya, Allah menanggung kesabaran yang banyak. 

Allah adalah Allah yang suci secara sempurna, sesuatu yang berdosa sekecil apapun itu sangat mengganggu Allah. Allah tidak mau mengkompromikan kesucian-Nya. Bayangkan jika orang-orang yang tidak dipilih Allah ini melakukan dosa terus menerus, kesucian Allah itu dipertaruhkan terus, makanya Allah ingin menyatakan murka-Nya, supaya kesucian-Nya dilihat oleh banyak orang. Kalau Allah membiarkan dosa, Allah tidak melakukan apa-apa, maka orang akan mempertanyakan kesucian Allah. Kalau Allah berdiam diri sementara orang-orang berdosa berbuat seenaknya, orang akan mempertanyakan kekudusan Allah.

Bayangkan jika kita berada dalam posisi Allah, kita tidak tahan dengan dosa dan kita punya kuasa untuk menghentikannya, dengan cara menghukum orang-orang berdosa itu. Pasti kita akan segera menyatakan murka kita dengan menghukumnya. Tapi ada satu hal yang menahan Allah melakukan itu, yaitu Allah menanggung kesabaran yang banyak, Tuhan mengingatkan lagi janji-Nya dalam Kejadian 17 dan 18. 

Kalau tanpa kesabaran-Nya yang banyak, orang-orang yang tidak dipilih Allah ini sudah dihancurkan sejak dulu. Tapi Allah biarkan, Allah beri waktu sambil Ia menanggung kesabaran yang begitu banyak. Kesabaran ini adalah kesabaran yang luar biasa karena orang-orang ini sudah disiapkan untuk hari penghakiman. 

Dengan kata lain, orang-orang ini tidak mungkin akan berubah, orang-orang ini Allah tahu persis akan terus berbuat dosa, sampai pada akhirnya dihukum selama-lamanya. Kita kadangkala bisa memberi kesempatan kepada orang lain kalau kita melihat orang itu punya itikad yang baik. Kalau kita sudah tahu orang ini tidak akan berubah, kita tidak akan sabar terhadap orang itu. Kita ini kadangkala sabar terhadap orang karena kita berharap orang itu bisa berubah. Kalau orang itu kita tau tidak mungkin bisa berubah dan akan terus melawan kita, akan sangat sulit untuk bersabar. Tapi itulah kesabaran yang Tuhan tunjukkan kepada orang-orang yang tidak Ia pilih.

Untuk kita ingat, Ishak dan Ismael adalah dua manusia yang sudah sama-sama berdosa. Garis bawahi kata "sudah". Apakah Ismael dan keturunannya binasa karena tidak dipilih? Bukan. Mari kita pelajari ilustrasi berikut ini. Bayangkan di sebuah desa ada 10 keluarga, semuanya miskin. Lalu tiga keluarga mendapatkan bantuan dari seorang dermawan. Anak-anak dari ketiga keluarga ini dikirim kuliah di luar negeri, lalu orang tuanya diberi modal bisnis. 

Akhirnya ketiga keluarga ini menjadi keluarga yang kaya raya dan sukses. Mengapa tiga keluarga ini kaya raya? Karena dipilih oleh sang dermawan untuk mendapatkan pertolongan. Mengapa tujuh keluarga yang lain miskin? Apakah karena tidak dipilih? Bukan. Karena sebelum sang dermawan itu menolong ketiga keluarga ini, yang tujuh ini memang sudah miskin. 

Jadi mereka miskin bukan karena tidak dipilih, tetapi karena memang dari sananya mereka sudah miskin. Di antara semua orang berdosa, Allah berhak memilih sebagian untuk diselamatkan, yang dipilih pasti akan selamat, yang tidak dipilih pasti akan binasa. Tapi mereka binasa bukan karena tidak dipilih Allah, mereka binasa karena sejak awal mereka orang yang berdosa. 

Seandainya semua orang berdosa Allah biarkan, Allah tidak melakukan apapun, Allah juga berhak melakukan itu. Semuanya pasti akan dihukum. Tapi ternyata Allah pilih sebagian untuk diselamatkan. Dia tidak merampas hak orang lain, kita memang tidak berhak diselamatkan. Pada saat Dia menyelamatkan sebagian, Dia tidak merampas hak dari sebagian yang lain. Tidak ada hak dari Ismael yang dirampas Allah, bahkan Ismael dijanjikan juga akan diberi berkat sebagai anugerah umum dari Allah.

Allah juga ingin menunjukkan kemurahan yang besar kepada orang-orang pilihan-Nya. Ketika Allah bersabar dengan perbuatan orang-orang yang tidak dipilihnya, dan pada akhirnya nanti dihukum Allah, tujuannya adalah untuk menyatakan kekayaan kemuliaan-Nya kepada orang-orang pilihan-Nya. Kadangkala kita kurang menghargai sesuatu yang kita miliki sampai sesuatu itu hilang dalam hidup kita, atau sampai kita melihat kontras yang sebaliknya. Ketika kita melihat ada orang yang dihukum Tuhan, baru kita bisa melihat bahwa keselamatan itu adalah anugerah Tuhan bagi kita. 

Allah tidak hanya kaya dengan kesabaran tetapi juga punya sesuatu yang melimpah, yaitu kemuliaan-Nya. Kita seharusnya takjub dengan kasih Tuhan ketika menyadari hal ini. Kalau untuk menunda hukuman atas orang-orang yang tidak dipilih, Allah sudah menanggung kesabaran yang sangat banyak. Apalagi untuk membatalkan hukuman atas orang-orang yang dipilih, butuh berapa banyak kesabaran? Ketika kita membandingkan ini, kita seharusnya bersyukur kepada Tuhan. Kalau hukuman kita ditunda saja itu butuh kesabaran yang begitu banyak, apalagi Allah membatalkan dan mengambil hukuman itu, dan Ia tanggung sendiri di atas kayu salib. 

Kalau untuk menunda hukuman butuh kesabaran yang sedemikian besar, apalagi untuk membatalkan hukuman. Itulah yang ada pada diri kita. Hukuman atas kita bukan hanya ditunda, tetapi juga hukumannya dibatalkan, ditanggung oleh Kristus di atas kayu salib. Kita semua bejana murahan di hadapan Allah, hancur, pecah, rusak, yang kalau Allah tidak pungut pun, Dia pantas untuk melakukannya. Tapi di antara semua bejana yang rusak, Ia pungut sebagian, dan Dia bentuk kembali. Tapi Dia bukan cuma bentuk kembali, kalau Dia cuma bentuk kembali, itu berarti nilainya kurang dari aslinya. 

Dia bangun kembali dan lapisi dengan darah yang mahal, yaitu darah Yesus Kristus Tuhan kita. Karena itu jangan pakai hidup kita untuk sesuatu yang murahan, jangan pakai hidup kita untuk memuaskan dosa, itu adalah sesuatu yang murahan. Jangan pakai tubuh kita untuk hal-hal yang murahan. Penebusan Kristus sangat mahal harganya, tetapi kita bisa mendapatkannya dengan gratis, itu semata-mata anugerah Allah.