Mohon tunggu...
Stelladia SuryaWijaya
Stelladia SuryaWijaya Mohon Tunggu... Instagram: stelladiawijaya

Freelancer | Penulis | Jurnalis

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Pilihan

Menelanjangi Hitamnya Lautan Dunia

22 Oktober 2020   22:53 Diperbarui: 22 Oktober 2020   22:57 120 9 1 Mohon Tunggu...

Kondisi perikanan di dunia semakin tahun semakin miris. Meski saat ini masyarakat global masih bisa mengonsumsi ikan laut yang mudah dijumpai di berbagai tempat, faktanya kondisi perikanan semakin tahun semakin menunjukkan tantangan yang lebih serius. 

Luas laut di dunia yang justru lebih besar dari daratan yang mencapai dua per tiga dari total luas bumi, tak menjadi jaminan bahwa dunia memiliki potensi kelautan dan perikanan yang sangat besar.

Melihat data Food and Agriculture Organization (FAO), sebanyak 80 persen hasil laut mengalami eksploitasi secara besar-besaran sejak 2015 hingga saat ini. Sementara itu, hasil penangkapan yang terekspos dalam pendataan masih di bawah 10 persen. Segala hasil di lautan kini mengalami eksploitasi. Lantas, nasib ikan-ikan di laut ke depannya yang merupakan salah satu pangan favorit masyarakat global kini semakin menunjukkan posisi terancam.

Di balik data tersebut, salah satu akar permasalahan yang mengancam keberadaan hasil laut adalah aktivitas Illegal, Unreported and Unregulated (IUU) fishing. Secara sederhana, IUU fishing merupakan kegiatan perikanan yang dilakukan secara illegal, tidak berdasarkan aturan dan tak terlaporkan. Lantas, mengapa aktivitas semacam ini justru menjadi sebuah akar permasalahan keberadaan hasil laut global?

 Menurut Watson , Reg, dan Tidd dalam laporan yang berjudul "Mapping Nearly a Century and a Half of Global Marine Fishing: 1896-2015" menunjukkan sebanyak 50 persen penangkapan ikan di Samudera Pasifik tidak terlaporkan yang diperdagangkan secara illegal di pasar internasional setiap tahunnya. 

Aktivitas ini pun turut memengaruhi 20 persen kondisi perekonomian global yang harus kehilangan pendapatan sebesar $US23 milyar dalam setahun. Global juga mengalami kerugian hingga 27 persen ketika terjadi pembuangan dan penghilangan ikan di pelabuhan karena kapasitas cold storage yang tak menjamin hasil penangkapan ikan tetap hidup yang juga tidak terlaporkan.

Tak hanya itu, kompetisi dengan para nelayan, khususnya Indonesia turut mengalami hal yang serupa dan ini menjadi sebuah permasalahan besar bagi warga Indonesia yang sebagian bermatapencaharian sebagai nelayan. 

Signifikansi ekspoloitasi perikanan yang sangat besar ini tentunya menghalangi kesempatan para nelayan untuk menangkap ikan juga. Aktivitas IUU Fishing menjadi problematika baik secara global maupun para nelayan kecil.

Tantangan semakin berat ketika dunia dilanda pandemi Covid-19 yang menyebabkan para penggerak sektor perikanan harus memikirkan kembali terkait ketahanan pangan ikan di laut. 

Di era pandemic, ketahanan pangan menjadi permasalahan utama yang harus diatasi oleh pemerintah dalam menjamin keberlangsungan hidup masyarakat. Pengolahan sektor perikanan harus menjadi perhatian lebih melihat aktivitas IUU fishing yang semakin marak.

Melihat kondisi IUU fishing semakin meraja rela di berbagai laut, hanya kebijakan pemerintah yang mampu mengontrol dan mengatasi permasalahan ini. IUU fishing terjadi akibat lemahnya pemerintah dalam memanajemen kebijakan kelautan dan perikanan sehingga membuat para nelayan liar bebas bertindak secara leluasa. Tak hanya masalah manajemen, hukum yang diciptakan saat ini masih belum membuat para nelayan liar jera untuk melakukan IUU fishing.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x